Mengenang Karbala: Tragedi yang Mengubah Sejarah IslamKincai Media – Tidak semua peristiwa besar dalam sejarah lahir dari peperangan antara dua kerajaan alias perebutan wilayah. Ada kalanya, sejarah berubah hanya lantaran sekelompok mini manusia memilih mempertahankan prinsip daripada menyerah kepada kekuasaan. Peristiwa Karbala adalah salah satunya.
Pada sore hari, 9 Muharram 61 Hijriah yang dikenal sebagai Hari Tasu’a hamparan padang Karbala dipenuhi ribuan pasukan yang datang atas perintah pemerintahan Bani Umayyah. Mereka bergerak membawa senjata, bukan untuk menghadapi pasukan asing alias mempertahankan negeri dari serangan musuh, melainkan mengepung rombongan mini yang dipimpin oleh Sayyid Husein bin Ali, cucu Rasulullah.
Di hadapan sekitar empat ribu prajurit, Husein hanya ditemani sekitar tujuh puluh dua orang. Mereka terdiri atas keluarga, sahabat, dan para pengikut setia yang memilih tetap bersamanya hingga akhir. Perbandingan kekuatan yang begitu timpang menjadikan peristiwa ini bukan sekadar peperangan, melainkan sebuah tragedi kemanusiaan yang terus dikenang sepanjang sejarah Islam.
Undangan dari Kufah
Namun, gimana Husein bisa sampai di Karbala? Semuanya bermulai setelah wafatnya Muawiyah bin Abi Sufyan dan naiknya Yazid bin Muawiyah sebagai khalifah. Sebagian asyarakat Kufah menolak memberikan baiat kepada Yazid. Mereka mengirimkan banyak surat kepada Sayyid Husein bin Ali, memintanya datang dan bersedia memimpin mereka sebagai khalifah.
Surat-surat itu datang silih berganti. Husein melihatnya sebagai panggilan untuk memenuhi angan umat yang menginginkan kepemimpinan yang lebih adil. Karena itulah, dia memutuskan meninggalkan Makkah menuju Irak.
Namun sebelum keberangkatan itu, sepupunya yang juga seorang sahabat Nabi, Abdullah bin Abbas, berupaya mencegahnya.
“Wahai Husein, putra pamanku. Aku sangat mengkhawatirkanmu. Penduduk Irak adalah kaum yang sering berubah sikap. Jangan sampai engkau tertipu oleh janji mereka. Tinggallah di Makkah.”
Nasihat itu rupanya menjadi kenyataan. Ketika rombongan Husein semakin mendekati Kufah, situasi telah berubah drastis. Gubernur Kufah, Ubaidillah bin Ziyad, sukses mengendalikan keadaan dan membungkam para pendukung Husein. Mereka yang sebelumnya mengundang justru tidak bisa lagi memberikan perlindungan.
Di tengah perjalanan, rombongan Husein dicegat dan dipaksa berakhir di sebuah padang tandus berjulukan Karbala.
Pilihan yang Tidak Pernah Diterima
Husein sesungguhnya tidak datang untuk memulai peperangan. Dalam beragam riwayat disebutkan bahwa dia menyampaikan kepada pihak musuh bahwa andaikan masyarakat Kufah telah berubah pikiran, dia bersedia kembali tanpa pertumpahan darah.
Perundingan pun dilakukan melalui Umar bin Sa’ad, panglima pasukan Kufah. Dalam beberapa sumber sejarah klasik disebutkan bahwa Husein menawarkan beberapa jalan damai: dia bersedia kembali ke tempat asalnya, alias menemui Yazid secara langsung, alias ditempatkan di salah satu daerah perbatasan kaum Muslimin.
Namun semua kemungkinan itu kandas. Perintah dari Ubaidillah bin Ziyad sangat tegas: Husein kudu memberikan baiat kepada Yazid tanpa syarat. Bila menolak, maka kekuatan militer kudu digunakan.
Ancaman itu kemudian disampaikan melalui Syamr bin Dzi al-Jausyan. Pilihannya hanya dua: tunduk alias dibunuh. Bagi Husein, persoalan itu bukan lagi tentang keselamatan diri. Yang dipertaruhkan adalah prinsip dan kehormatan. Ia memilih bertahan.
Khotbah Terakhir Sang Cucu Nabi
Pagi hari, 10 Muharram 61 Hijriah, Hari Asyura, Husein menaiki kudanya dan mendekati pasukan yang telah mengepungnya.
Ia tidak langsung menghunus pedang. Sebaliknya, dia menyampaikan sebuah khutbah yang hingga sekarang tetap dikenang dalam beragam kitab sejarah.
Ia mengingatkan mereka tentang siapa dirinya.
“Perhatikanlah nasabku. Lihatlah siapa aku, lampau lihatlah diri kalian. Apakah legal bagi kalian menumpahkan darahku?”
Kemudian dia berkata,
“Bukankah saya putra dari putri Nabi kalian? Bukankah Hamzah adalah pamanku? Bukankah Ja’far adalah pamanku? Bukankah Rasulullah pernah berfirman bahwa Hasan dan Husain adalah pemimpin para pemuda penunggu surga?”
Ia apalagi meminta mereka bertanya kepada para sahabat Nabi yang tetap hidup andaikan mereka meragukan ucapannya.
Namun kata-kata itu tidak bisa melunakkan hati pasukan yang telah mendapat perintah. Sejarah mengajarkan bahwa ketika kekuasaan menutup telinga terhadap nurani, apalagi bunyi kebenaran pun dapat diabaikan.
Gugurnya Husein di Karbala
Pertempuran akhirnya tidak dapat dihindari. Satu demi satu sahabat dan personil family Husein gugur. Mereka bertempur hingga titik darah penghabisan dalam keadaan kehausan setelah akses menuju Sungai Efrat ditutup selama beberapa hari.
Akhirnya, Husein sendiri syahid di medan Karbala. Dalam banyak riwayat sejarah disebutkan bahwa dia terbunuh pada 10 Muharram 61 H, dan kepalanya kemudian dipenggal sebelum dibawa ke Kufah atas perintah penguasa setempat.
Dengan gugurnya Husein, berakhirlah sebuah perlawanan yang secara militer sangat kecil, tetapi meninggalkan jejak yang sangat besar dalam sejarah Islam.
Warisan Karbala
Lebih dari tiga belas abad telah berlalu, tetapi nama Karbala tidak pernah lenyap dari ingatan umat Islam.
Bagi kaum Syiah, Asyura merupakan hari berkabung terbesar yang diperingati setiap tahun melalui majelis duka, ziarah, pembacaan kisah Karbala, dan beragam corak penghormatan kepada Husein.
Di sejumlah wilayah, terdapat pula tradisi menyakiti diri sebagai corak ekspresi kesedihan, meskipun praktik ini tidak dilakukan oleh seluruh organisasi Syiah dan juga tidak diterima oleh semua ustadz Syiah kontemporer.
Sementara itu, bagi banyak kalangan Muslim Sunni, Husein tetap dihormati sebagai cucu Rasulullah, seorang syahid yang mempertahankan kehormatan dan prinsipnya. Perbedaan pandangan lebih banyak terletak pada langkah memaknai serta memperingati tragedi tersebut.
Apa pun latar belakang mazhabnya, Karbala meninggalkan pesan yang melampaui sekat-sekat sejarah.
Ia mengajarkan bahwa kekuasaan tanpa keadilan dapat berubah menjadi tirani. Bahwa jumlah yang besar tidak selalu berada di pihak yang benar. Dan bahwa terkadang, kemenangan sejati bukanlah memperkuat hidup, melainkan tetap memegang teguh nilai yang diyakini, sekalipun kudu dibayar dengan pengorbanan terbesar.
Karena itulah, Karbala tidak hanya dikenang sebagai kisah tentang gugurnya cucu Nabi. Ia adalah pengingat kekal bahwa kehormatan, keberanian, dan integritas sering kali lahir justru pada saat seseorang berada dalam keadaan paling lemah di hadapan kekuasaan.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·