Mengungkap Hikmah Di Balik Enam Perkara Yang Dirahasiakan Allah Kepada Manusia

Jul 26, 2026 03:28 PM - 14 jam yang lalu 526

Infografis 5 Pertanyaan yang bakal Ditanyakan pada Hari Kiamat. Ilustrasi Allah

Kincai Media,Allah SWT memiliki hikmah di kembali setiap ketetapan-Nya, termasuk ketika merahasiakan sejumlah perkara dari pengetahuan manusia. Dalam kitab Nashaihul Ibad, Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Banteni meriwayatkan perkataan Sayyidina Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu tentang enam perkara yang sengaja dirahasiakan Allah agar manusia terus menjaga keimanan, memperbanyak kebaikan saleh, dan tidak lengah dalam menjalani kehidupan.

Umar bin Khattab berkata, "Sesungguhnya Allah merahasiakan enam perkara di dalam enam perkara lainnya. Yaitu Allah merahasiakan ridha-Nya dalam perbuatan taat. Allah merahasiakan murka-Nya dalam perbuatan maksiat. Allah merahasiakan Lailatul Qadar dalam bulan Ramadhan. Allah merahasiakan wali-wali-Nya di tengah-tengah manusia. Allah menyisipkan kematian di sepanjang umur. Allah merahasiakan sholat Wustha di dalam sholat lima waktu." (Nashaihul Ibad, Syekh Nawawi al-Banteni)

Allah merahasiakan keridhaan-Nya di dalam ketaatan para hamba kepada-Nya. Maksudnya agar manusia (hamba Allah) bersungguh-sungguh dalam melakukan ketaatan dengan angan dapat menemukannya. Kita tidak boleh menghina ketaatan, meskipun sangat mini lantaran bisa jadi keridhaan Allah terdapat di dalamnya.

Allah merahasiakan kemurkaan-Nya di dalam kemaksiatan, maksudnya agar manusia menjauhi perbuatan maksiat. Kita tidak boleh meremehkan perbuatan maksiat walaupun sangat kecil. Karena di dalam maksiat terdapat kemurkaan Allah.

Allah merahasiakan Lailatur Qadar pada bulan Ramadhan, maksudnya agar manusia bersungguh-sungguh menghidupkan bulan Ramadhan dengan langkah memperbanyak ibadah, lantaran pahala sunnah pada bulan Ramadhan ibaratkan pahala fardhu pada bulan yang lainnya. Hal itu sebagaimana yang diterangkan dalam sebuah hadits, bahwa ibadah sunnah yang dikerjakan bertepatan dengan malam Lailatul Qadar, nilainya sama dengan ibadah fardhu.

Selengkapnya