Mengusap Kepala Anak dan Mendoakannya: Sunah yang Penuh Kasih Sayang dan Bernilai Pahala

Islami Muslimah oleh Waktu baca 5 menit 504x dilihat
Mengusap Kepala Anak dan Mendoakannya: Sunah yang Penuh Kasih Sayang dan Bernilai Pahala

Bagikan Postingan

Di antara corak kasih sayang yang diajarkan Islam kepada anak-anak adalah mengusap kepala mereka dengan penuh kelembutan serta mendoakan kebaikan untuk mereka. Amalan ini tampak sederhana. Tidak memerlukan biaya, tidak pula menguras tenaga. Namun, di baliknya terdapat nilai pendidikan, kasih sayang, dan ibadah yang sangat agung.

Salah satu dalil yang menunjukkan perihal tersebut adalah sabda dari sahabat ‘Amr bin Huraits radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata,

ذَهَبَتْ بِي أُمِّي إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَمَسَحَ عَلَى رَأْسِي، وَدَعَا لِي بِالرِّزْقِ

“Ibuku membawaku menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (tambahan riwayat lain: ketika saya tetap kecil). Kemudian beliau mengusap kepalaku dan mendoakanku agar diberi rezeki.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad no. 632; Abu Ya’la no. 1452-1456; Ibnu Abi ‘Ashim dalam kitab Al-Aahaad wal Matsaaniy no. 717; dan lbnul Atsir datam kitab Usdul Ghoabah, 14: 213. Lihat As-Silsilah as-Shahihah, 6: 1070)

Hadis yang singkat ini menyimpan banyak pelajaran berharga, khususnya bagi para orang tua.

Perhatian orang tua terhadap kepercayaan anak

Perhatikan gimana ‘Amr bin Huraits membuka kisahnya, “Ibuku membawaku menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Kalimat ini menunjukkan bahwa besarnya perhatian seorang ibu terhadap masa depan anaknya. Kasih sayangnya jauh melampaui urusan makan, pakaian, dan kesehatan anaknya. Yang paling dia inginkan adalah agar anaknya dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mendapatkan angan beliau, dan tumbuh di atas keberkahan. Inilah bukti bahwa orang tua yang saleh tidak hanya memikirkan kehidupan bumi anaknya, tetapi juga keselamatan kepercayaan dan akhiratnya.

Hal ini juga menjadi pelajaran bahwa salah satu corak kasih sayang orang tua adalah mengenalkan anak kepada lingkungan yang baik, majelis ilmu, dan pendidikan kepercayaan sejak dini.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan family kalian dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menjelaskan tentang ayat ini,

عَلِّمُوهُمْ وَأَدِّبُوهُمْ

“Ajarkanlah (didiklah) mereka dengan pengetahuan (agama) dan etika (akhlak mulia).” (Lihat Tafsir Ath-Thabari, 23: 103 dan Syu’abul Iman, 11: 156)

Sentuhan yang mengandung kasih sayang

Sesampainya di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengusap kepala ‘Amr bin Huraits.

Perbuatan ini menunjukkan adab mulia Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada anak-anak. Beliau tidak menjaga jarak dengan mereka, apalagi memperlihatkan kasih sayang melalui sentuhan yang lembut.

Mengusap kepala anak dapat menumbuhkan rasa aman, kedekatan, dan kasih sayang antara orang tua dengan anak. Tidak mengherankan andaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga dikenal sering mencium Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhuma, menggendong mereka, apalagi memanjangkan sujud ketika cucunya menaiki punggung beliau.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ

“Barangsiapa tidak menyayangi, maka dia tidak bakal disayangi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat yang lain,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيْرَنَا

“Bukanlah termasuk golongan kami, orang yang tidak menyayangi anak mini (orang yang lebih muda) dan tidak menghormati orang yang dituakan diantara kami.” (HR. At-Tirmidzi. Lihat Shahihul Jami’ no. 5445)

Mendoakan anak merupakan kebiasaan para Nabi

Setelah mengusap kepala ‘Amr, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berakhir sampai di situ. Beliau juga mendoakannya,

وَدَعَا لِي بِالرِّزْقِ

“Beliau mendoakanku agar diberi rezeki.”

Ini menunjukkan bahwa mendoakan anak merupakan sunah yang sangat dianjurkan. Bahkan, angan adalah salah satu bingkisan terbaik yang dapat diberikan orang tua kepada anak-anaknya.

Betapa sering kita memikirkan tabungan pendidikan anak, namun lupa menabung angan untuk mereka.

Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاثُ دَعَواتٍ مُسْتَجاباتٍ، لا شَكَّ فيهنَّ: دَعْوةُ المَظْلومِ، ودَعْوةُ المُسافِرِ، ودَعْوةُ الوالِدِ على وَلَدِه

“Ada tiga angan yang tidak diragukan kemustajabannya, yaitu: angan orang yang dizalimi (dianiaya), angan orang musafir, dan angan kedua orang tua kepada anaknya.” (HR. Abu Dawud no. 1536, Tirmidzi no. 1905, Ibnu Majah no. 3862, dan Ahmad no. 7501. Lihat As-Silsilah Ash-Shahihah no. 1797)

Sudah sepatutnya setiap hari orang tua meluangkan waktu untuk mendoakan anak-anaknya agar mereka diberi hidayah, dimudahkan dalam menuntut ilmu, dijaga akhlaknya, dilapangkan rezekinya, dan diwafatkan di atas pemimpin dan Islam.

Rezeki yang diminta bukan sekadar banyak

Menariknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan ‘Amr bin Huraits agar diberi rezeki.

Hal ini menunjukkan bahwa memohon rezeki adalah perkara yang dianjurkan. Namun, yang paling krusial bukanlah banyaknya rezeki, melainkan keberkahannya.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki, Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 58)

Dalam firman-Nya yang lain,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Sekiranya masyarakat negeri-negeri beragama dan bertakwa, niscaya Kami bakal melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah mendoakan Anas waktu tetap mini dengan do’a,

اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ

“Ya Allah, perbanyaklah kekayaan dan anaknya, serta berkahilah apa yang engkau karuniakan kepadanya.” (HR. Bukhari no. 6334 dan Muslim no. 2480)

Rezeki yang diberkahi bakal membawa ketenangan, memudahkan seseorang dalam beribadah, dan menjadi karena kebahagiaan bumi maupun akhirat.

Renungan untuk para orang tua

Hadis dari ‘Amr bin Huraits di atas mengajarkan kepada kita bahwa membangun generasi tidak selalu dimulai dengan perkara-perkara besar. Sebuah usapan di kepala yang disertai kasih sayang, serta angan yang tulus dari orang tua, merupakan bagian dari pendidikan Islam yang sangat bernilai.

Maka, janganlah kita meremehkan amalan-amalan sederhana yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Luangkan waktu untuk mendekati anak-anak kita, usaplah kepala mereka dengan penuh kelembutan, peluklah mereka, dan iringilah setiap hari mereka dengan doa-doa terbaik.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan anak-anak kita sebagai generasi yang bertauhid, beradab mulia, diberi rezeki yang legal dan berkah, serta menjadi penyejuk hati bagi kedua orang tuanya.

***

Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya

Artikel Kincai Media

Referensi:

Al-Bukhari, Al-Adab al-Mufrad, Bab 279. Hadis ke-632.

https://dorar.net/h/GslbwdCW?osoul=1

Artikel Lainnya Islami Muslimah
Close Right Ads
Close Left Ads