Menjadi Khadijah Di Tengah Budaya Fyp

Jun 03, 2026 12:16 PM - 1 bulan yang lalu 38047
Menjadi Khadijah di Tengah Budaya FYPMenjadi Khadijah di Tengah Budaya FYP

Kincai Media – Ada satu pertanyaan yang pelan-pelan mengganggu nurani era ini: apakah kita sedang maju, alias justru sedang jatuh ke corak baru dari jahiliyah?

Jahiliyah yang kita hadapi hari ini tidak lagi datang dalam corak orang yang tidak bisa membaca alias menulis. Tidak. Justru kita hidup di era ketika pendidikan tinggi, teknologi canggih, dan info berada dalam genggaman tangan.

Tapi anehnya, di tengah kemajuan itu, kita menyaksikan sesuatu yang lain: kemunduran adab, pudarnya rasa malu, dan longgarnya pemisah kehormatan di ruang digital.

Seakan-akan kita sedang berada di zaman yang tahu banyak hal, tetapi tidak lagi tahu gimana semestinya menjadi manusia.

Pada masa Arab pra-Islam, wanita pernah ditempatkan pada titik yang sangat rendah dalam struktur sosial. Bahkan sebagian tradisi jahiliyah mengubur bayi wanita hidup-hidup lantaran dianggap tidak membawa kebanggaan. Perempuan dipandang beban, bukan manusia yang utuh.

Lalu Islam datang. Dan kedatangannya bukan sekadar mengubah tata ibadah, tetapi mengguncang struktur peradaban.

Nabi Muhammad SAW membawa misi kemanusiaan yang memuliakan manusia, termasuk perempuan. Praktik sadis itu dihentikan. Martabat dikembalikan. Dan Allah SWT menegaskan:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًاࣖ ۝٧٠

Artinya: Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut. Kami anugerahkan pula kepada mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.

Ayat ini tidak memberi ruang untuk diskriminasi kemanusiaan. Laki-laki dan perempuan, keduanya berada dalam satu garis kemuliaan: sebagai manusia.

Di masa Nabi, wanita tidak dikurung dalam ruang sempit domestik. Mereka datang di ruang publik, berdagang, meriwayatkan hadis, dan menjadi rujukan ilmu. Islam tidak menghapus peran perempuan; Islam menghapus penghinaan terhadap perempuan.

Namun kini, pertanyaannya menjadi getir: ke mana semua itu bergerak di era digital?

Di tengah arus modernitas, kita menyaksikan kejadian yang susah diabaikan. Prostitusi yang makin terbuka, relasi bebas yang dibungkus kata “kebebasan”, hingga budaya pengesahan digital yang membikin sebagian orang rela menjual batas-batas kehormatan demi perhatian sesaat. Demi nomor tayangan. Demi “likes”. Demi masuk laman FYP.

Dan di sinilah kita memasuki bab baru jahiliyah: jahiliyah yang viral. Jika dulu kemaksiatan terbatas pada ruang-ruang tersembunyi, sekarang dia bisa menyebar dalam hitungan detik. Satu konten di FYP (For Your Page) dapat menjangkau jutaan mata tanpa pemisah geografis. Yang salah tidak lagi tersembunyi; dia justru dipromosikan oleh algoritma.

Inilah medan ujian baru: menjaga ketaatan di tengah arus sistem yang tidak netral terhadap moral. Padahal Islam sejak awal sudah meletakkan fondasi yang sangat jelas. Rasulullah SAW bersabda:

الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

Artinya; “Malu itu sebagian dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini sederhana, tetapi menghantam langsung inti persoalan era ini. Sebab ketika rasa malu hilang, yang tersisa hanya dorongan untuk ditonton, bukan untuk dimuliakan.

Maka tidak berlebihan jika kita mengatakan: krisis terbesar hari ini bukan sekadar krisis informasi, tetapi krisis rasa malu.

Di tengah situasi seperti ini, pertanyaan pentingnya muncul: siapa yang bisa menjadi kompas moral di tengah bumi yang kehilangan arah?

Jawaban itu sering kali kembali pada satu nama yang tidak asing dalam sejarah Islam: Sayyidatina Khadijah binti Khuwaylid.

Khadijah binti Khuwaylid bukan hanya figur historis. Ia adalah potret wanita yang berdiri tegak di tengah sistem sosial yang apalagi belum ramah terhadap perempuan.

Ia adalah pengusaha sukses di Mekkah. Ia adalah wanita yang berdikari secara ekonomi. Tetapi yang membuatnya spesial bukan sekadar kesuksesan itu, melainkan kemampuannya menjaga kehormatan di tengah kekuatan yang dia miliki.

Khadijah menunjukkan satu perihal penting: kemandirian tidak kudu mengorbankan kemuliaan diri. Ia juga wanita yang berpikir dengan jernih. Ketika mendengar tentang Muhammad yang dikenal sebagai Al-Amin, dia tidak larut dalam emosi alias kesukaan dangkal. Ia melakukan verifikasi melalui Maisarah, pembantunya, untuk memandang adab dan integritas.

Dari sini kita belajar sesuatu yang hari ini semakin langka: bahwa keputusan besar tidak boleh lahir dari viralitas, tetapi dari kejernihan pertimbangan.

Dan puncak keteladanan itu tampak ketika wahyu pertama turun. Rasulullah SAW pulang dalam keadaan gemetar dari Gua Hira. Dalam situasi penuh ketakutan itu, Khadijah tidak menambah kepanikan. Ia justru menenangkan dengan kalimat yang menjadi fondasi keteguhan:

“Demi Allah, Allah tidak bakal pernah menghinakanmu. Engkau menyambung silaturahim, menolong orang yang kesusahan, memuliakan tamu, dan memihak kebenaran.”

Kalimat itu bukan sekadar pelipur lara. Itu adalah terapi iman. Itu adalah penguatan psikologis yang lahir dari keyakinan, bukan ketakutan.

Khadijah bukan hanya istri. Ia adalah mitra perjuangan. Ia adalah penopang dakwah. Ia adalah ruang kondusif ketika bumi belum memahami apa yang sedang terjadi pada Nabi.

Di tengah era yang semakin sibuk mengejar perhatian sesaat, Khadijah datang sebagai kontras yang tajam. Ia tidak hidup untuk viral. Ia hidup untuk bermakna. Ia tidak mengejar sorotan. Ia menjaga kehormatan.

Di sinilah kita sampai pada satu konklusi yang tidak bisa dihindari: bumi boleh berubah, teknologi boleh melesat, algoritma boleh menguasai ruang digital, tetapi nilai kemuliaan manusia tidak boleh ikut runtuh.

Sudah saatnya kita bertanya dengan jujur: apakah kita sedang membentuk diri, alias justru sedang dibentuk oleh arus FYP yang tidak kita kendalikan?

Jangan sampai kita menjadi generasi yang dikenal lantaran viralnya, tetapi kehilangan izzah dan iffah-nya. Sebab pada akhirnya, Khadijah tidak dikenang lantaran dia pernah muncul di layar orang banyak. Ia dikenang lantaran dia menjaga martabatnya ketika tidak ada yang menonton.

Dan mungkin, di tengah bumi yang semakin bising ini, menjadi Khadijah hari ini berfaedah satu perihal sederhana tetapi berat: tetap bermartabat, apalagi ketika bumi sedang membujuk untuk sebaliknya

Sertifikasi Halal

Selengkapnya