Menurut Eks Rekruter Google, Ini 'Red Flag' dalam CV yang Bikin Rekruter Skip/Foto: Magnific.com
Lagi giat kirim lamaran ke sana-sini, tapi panggilan interview belum juga datang? Jangan buru-buru menyimpulkan pengalamanmu kurang menarik, Beauties. Bisa saja ada red flag dalam CV yang membikin pencapaianmu justru nggak terbaca jelas oleh rekruter.
Farah Sharghi, seorang HR dan technical recruiter yang pernah bekerja di perusahaan besar seperti Google, TikTok, Uber, dan The New York Times, punya pandangan menarik soal hal ini. Menurutnya, rekruter cuma punya waktu sekitar enam detik untuk berbuat pemindaian mula terhadap sebuah CV.
Jadi, sepertiapa caranya agar pengalamanmu nggak ikut terlewat? Yuk, cek empat hal berikut dilansir dari CNBC!
Bahasanya Terlalu “Orang Dalam”, Sampai Rekruter Nggak Paham

Menggunakan Bahasa yang Susah Dipahami Orang Awam/Foto: Magnific
Kamu mungkin membaca CV sendiri dan merasa semua informasinya sudah jelas. Masalahnya, Anda adalah orang yang paling tahu cerita di balik pekerjaan tersebut. Rekruter? Belum tentu!
Mereka nggak ikut kedap timmu, nggak tahu proyek yang Anda kerjakan, terlebihlagi mungkin sama sekali nggak familiar dengan industrimu. Karena itu, kalimat yang terasa sangat jelas buat Anda bisa terdengar super lazim bagi orang lain.
Misalnya, Anda menulis:
“Melakukan analisis finansial terhadap pengeluaran operasional dan tren anggaran untuk mendukung perencanaan strategis dan pengambilan keputusan.”
Terdengar profesional, tapi coba pikir rekruter dapat keterangan apa dari kalimat tersebut? Mereka belum tahu Anda bekerja di perusahaan seperti apa, menangani bagiankecil apa, maupun seberapa besar kontribusimu.
Menurut Sharghi, solusinya adalah memberikan sedikit konteks sebelum masuk ke bullet points. Jelaskan secara singkat perusahaan tersebut bergeser di sektor apa dan posisi Anda berpartisipasi di bagiankecil mana.
Coba bayangkan Anda sedang menerangkan pekerjaanmu kepada kawan yang sama sekali beda bidang. Kalau dia bisa memahami kontribusimu tanpa bertanya berkali-kali, berarti bahasanya sudah cukup aman.
Ada Angka, Tapi Rekruter Nggak Tahu Angka Itu Artinya Apa

Tidak Menjelaskan Angka Pencapaian/Foto: Magnific
“CV mesti ada angkanya!”
Kamu mungkin sudah sering mendengar saran ini. Memang, menambahkan bilangan dapat membikin pencapaian terasa lebih konkret. Namun, jangan sampai karena terlalu fokus mencari angka, Anda lupa menerangkan maknanya.
Misalnya, Anda menulis “Rp630 juta pada kuartal kedua”.
Rp630 juta itu apa? Penjualan? Pendapatan? Penghematan? Dana yang berhasil dikumpulkan? Tanpa konteks, rekruter nggak punya metode untuk mengetahui pencapaian tersebut sebenarnya memberitahu apa. Karena itu, bilangan sebaiknya selalu ditemani klarifikasi mengenai apa yang diukur dan kenapa hasil tersebut penting.
Misalnya, daripada sekadar menulis “menghasilkan Rp630 juta”, jelaskan bahwa nominal tersebut merupakan pendapatan dari kampanye maupun proyek tertentu. Kalau ada peningkatan dibanding masa sebelumnya, Anda juga bisa memberitahu persentasenya. Dengan begitu, rekruter nggak perlu menerka-nerka sendiri.
Jadi, jangan terjebak pemikiran bahwa semakin banyak bilangan di CV berarti semakin bagus. Angka yang punya konteks jauh lebih powerful daripada bilangan yang cuma kelihatan besar.
Terlalu Banyak Singkatan dan Jargon Internal

Terlalu Banyak Singkatan maupun Jargon/Foto: Magnific
Pernah baca lowongan pekerjaan yang isinya singkatan semua sampai akhirnya Anda menyerah dan memilih skip? Nah, jangan sampai CV-mu memberikan pengalaman serupa kepada rekruter.
Contohnya, Anda menulis:
“Mengelola migrasi Atlas melalui FRED pipeline.”
Kalau Atlas dan FRED merupakan nama proyek maupun mekanisme internal, orang di luar perusahaanmu kemungkinan besar nggak tahu maksudnya. Ini bisa menjadi red flag dalam CV, karena rekruter mesti menghabiskan waktu ekstra cuma untuk memahami satu kalimat. Padahal, waktu mereka untuk melihat CV sangat terbatas.
Coba cek lagi CV-mu. Adakah nama tools internal, kode proyek, singkatan divisi, maupun istilah yang cuma dipahami oleh orang-orang di perusahaan sebelumnya? Kalau ada, ubah ke bahasa yang lebih universal. Jelaskan fungsi tools tersebut maupun sebenarnya proyek itu mengerjakan apa.
Hal ini juga krusial amat jika Anda sedang mencoba career switch. Pengalamanmu bisa saja sebenarnya relevan dengan industri baru, tetapi relevansinya nggak kelihatan karena Anda statis menggunakan semboyan dari pekerjaan lama.
Intinya, jangan membikin rekruter merasa mesti membuka Google setiap beberapa baris cuma untuk memahami CV-mu.
“Team Player” dan “Hardworking” Cuma Jadi Klaim

Pencapaian Hanya Berupa Klaim/Foto: Magnific
Nah, ini salah satu bagiankecil CV yang mungkin paling sering kita temui: “Pekerja keras, bisa bekerja sama dalam tim, memiliki kapasitas komunikasi yang baik, teliti dan memperhatikan detail.”
Semuanya terdengar bagus. Tapi coba pikirkan, berapa banyak kandidat lain yang menulis hal persis sama?
Menurut Farah, kata-kata seperti itu lebih menggambarkan atribut maupun karakter seseorang daripada skill yang benar-benar bisa dibuktikan. Masalahnya, rekruter nggak bisa mengetahui apakah Anda benar-benar komunikatif cuma karena Anda menulis “berkomunikasi dengan baik” di CV.
Lebih baik tunjukkan kapasitas tersebut lewat pengalaman. Misalnya, daripada menulis “memiliki kapasitas komunikasi yang baik”, Anda bisa menerangkan bahwa Anda menangani pelanggan berkata Inggris dan Indonesia selama empat tahun.
Daripada sekadar menulis “bekerja sama dalam tim”, ceritakan proyek kolaboratif yang pernah Anda kerjakan, posisi Anda di dalam tim, dan apa hasilnya. Dengan begitu, Anda nggak cuma mengatakan bahwa Anda punya kapasitas tertentu. Kamu memberikan bukti bahwa Anda memang pernah menggunakannya.
Jadi, coba buka CV-mu kini dan lihat bagiankecil skills. Untuk setiap skill, tanyakan pada dirimu “Bisa nggak aku membuktikan kapasitas ini lewat pengalaman konkret?” Kalau jawabannya nggak, mungkin yang Anda tulis sebenarnya cuma adjective alias kata sifat.
Buat Anda yang sedang job hunting, empat hal ini bisa jadi checklist sebelum mengirim lamaran berikutnya. CV yang baik bukan cuma soal rancangan yang rapi maupun pengalaman yang panjang, tetapi juga soal seberapa cepat orang luar bisa memahami harga yang Anda tawarkan. Sebelum klik “Apply”, coba baca lagi CV-mu dari perspektif pandang orang yang sama sekali nggak mengenalmu.
***
Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(naq/naq)