Pada artikel sebelumnya, kita telah melihat sepertiapa para pembesar Quraisy gagal menekan Abu Thalib agar menghentikan dakwah Rasulullah ﷺ. Kegagalan itu tidak membikin mereka berhenti. Menjelang musim haji, mereka justru menyusun strategi baru, yaitu menyatukan dakwaan yang akan disebarkan kepada kabilah-kabilah Arab agar manusia menjauh dari Rasulullah ﷺ.
Kekhawatiran Quraisy menjelang musim haji
Pada suatu ketika musim haji sudah dekat, sementara Rasulullah ﷺ terus menyeru kepercayaan Allah kepada manusia. Hal ini sangat menyibukkan pikiran para pembesar Quraisy. Mereka mengetahui bahwa pada saat musim haji tiba beragam rombongan Arab akan datang ke Makkah. Mereka cemas para rombongan tersebut akan terpengaruh oleh dakwah Nabi Muhammad ﷺ dan memeluk kepercayaan Islam.
Oleh karena itu, para pembesar Quraisy berkumpul menemui al-Walid bin al-Mughirah (الوليد بن المغيرة) untuk membahas dakwaan apa yang mesti mereka sampaikan berkenaan dengan Rasulullah ﷺ.
Al-Walid berkata kepada mereka, “Satukanlah gagasan kalian tentang dirinya.” Maksudnya adalah berkenaan dengan Nabi Muhammad ﷺ. Kemudian ia melanjutkan, “Jangan sampai kalian berbeda-beda sehingga sebagian kalian mendustakan sebagian yang lain dan perkataan kalian saling bertentangan.”
Para pembesar Quraisy merespons, “Kalau begitu, engkaulah yang berbicara. Tetapkanlah bagi kami suatu gagasan yang akan kami katakan.”
Namun, al-Walid justru meminta merekalah yang mengutarakan dakwaan tersebut kepadanya. Ia berkata, “Tidak. Kalianlah yang berbicara, aku akan mendengarkan.”
Mencari dakwaan untuk menjauhkan manusia dari dakwah
Di antara mereka ada yang mengajukan dakwaan dukun (kahin) kepada Nabi Muhammad ﷺ. Al-Walid menjawab, “Tidak. Demi Allah, dia bukan seorang dukun. Kita telah melihat para dukun. Ucapannya bukan seperti gumaman para dukun dan bukan pula seperti sajak mereka.”
Kemudian ada yang mengajukan dakwaan orang edan (majnun). Tetapi al-Walid juga tidak setuju dengan berkata, “Dia bukan orang gila. Kita telah melihat kegilaan dan mengetahuinya. Pada dirinya tidak ada gejala seperti cekikan orang gila, pergerakan tubuh yang tidak terkendali, maupun bisikan-bisikan kegilaan.”
Lalu ada yang mengajukan sepertiapa jika beliau dijuluki seorang penyair (sya’ir). Lagi-lagi al-Walid tidak menyetujuinya kemudian berkata, “Dia bukan seorang penyair. Kita telah mengetahui seluruh bentuk syair, baik rajaz, hazaj, qaridh, bentuk yang singkat maupun yang panjang. Apa yang dibawanya bukanlah syair.”
Rajaz, hazaj, dan qaridh adalah beberapa bentuk syair yang dikenal oleh penduduk Quraisy. Dengan mengutarakan bentuk syair tersebut, al-Walid mau menegaskan bahwa ia mengenal beragam bentuk syair Arab, tetapi bahanbacaan yang dibawa Rasulullah ﷺ tidak menyerupai satu pun dari bentuk syair tersebut.
Kemudian ada lagi yang menyarankan dakwaan penyihir (sahir) kepada beliau. Namun, al-Walid juga tidak menyetujuinya dan berkata, “Dia bukan penyihir. Kita telah melihat para penyihir dan sihir mereka. Apa yang dibawanya bukanlah seperti tiupan penyihir dan bukan pula seperti simpul-simpul sihir mereka.”
Akhirnya mereka bertanya, “Lalu apa yang mesti kita katakan?”
Al-Walid berkata, “Demi Allah, sesungguhnya perkataannya memiliki kemanisan dan keindahan. Akarnya subur dan cabangnya berbuah. Apa pun yang kalian katakan tentang dirinya dari tuduhan-tuduhan tadi pasti akan diketahui sebagai kebatilan.”
Meski al-Walid sendiri mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ bukan penyihir seperti para penyihir yang mereka kenal, ia statis menilai bahwa dakwaan penyihir dianggap paling bisa memengaruhi masyarakat. Ia berkata, “Tuduhan yang paling mendekati adalah kalian mengatakan bahwa dia adalah seorang penyihir. Ia membawa suatu perkataan yang merupakan sihir, yang dengannya ia memisahkan seseorang dari ayahnya, seseorang dari saudaranya, seseorang dari istrinya, dan seseorang dari keluarganya.” Akhirnya mereka sepakat dengan dakwaan itu kemudian berpisah.
Sebagian histori mengutarakan bahwa setelah al-Walid membantah setiap dakwaan yang diajukan, para pembesar Quraisy menanggapi, “Tunjukkanlah kepada kami pendapatmu yang tidak hamil kelemahan.”
Al-Walid berkata, “Berilah aku waktu sampai aku memikirkannya.” Al-Walid pun terus berpikir dan mempertimbangkannya hingga akhirnya menyampaikan perkataan yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu ia setuju dengan dakwaan penyihir.
Propaganda “penyihir” dan upaya menghalangi jemaah haji
Setelah mereka sepakat dalam pertemuan itu, mereka segera melaksanakannya. Mereka duduk di jalan-jalan yang dilalui orang-orang ketika para jemaah datang untuk berhaji. Mereka memperingatkan semua orang yang lewat agar menjauhi Rasulullah ﷺ dan menceritakan dakwaan tentang beliau.
Adapun Rasulullah ﷺ, beliau keluar mendatangi orang-orang di tempat-tempat persinggahan mereka, juga di pasar ‘Ukazh, Majannah, dan Dzul Majaz mendakwahkan kepercayaan Allah.
Di saat seperti itu, Abu Lahab mengikuti Rasulullah ﷺ dari belakang sambil berkata, “Jangan kalian taati dia. Sesungguhnya dia orang yang telah keluar dari kepercayaan kaumnya dan seorang pendusta.”
Namun justru akibat dari semua itu, orang-orang Arab pulang dari musim haji dengan membawa berita tentang Rasulullah ﷺ. Nama dan berita tentang beliau pun tersebar ke seluruh daerah Arab.
Celaan Al-Qur’an terhadap al-Walid bin al-Mughirah
Berkenaan dengan al-Walid, Allah Ta’ala menurunkan enam belas ayat dari Surah Al-Muddatstsir,
﴿ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيداً (١١) وَجَعَلْتُ لَهُ مالاً مَمْدُوداً (١٢) وَبَنِينَ شُهُوداً (١٣) وَمَهَّدْتُ لَهُ تَمْهِيداً (١٤) ثُمَّ يَطْمَعُ أَنْ أَزِيدَ (١٥) كَلاّ إِنَّهُ كانَ لِآياتِنا عَنِيداً (١٦) سَأُرْهِقُهُ صَعُوداً (١٧) إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ (١٨) فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (١٩) ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (٢٠) ثُمَّ نَظَرَ (٢١) ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ (٢٢) ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ (٢٣) فَقالَ إِنْ هذا إِلاّ سِحْرٌ يُؤْثَرُ (٢٤) إِنْ هذا إِلاّ قَوْلُ الْبَشَرِ (٢٥) سَأُصْلِيهِ سَقَرَ (٢٦)﴾
“Biarkanlah Aku beraksi terhadap orang yang Aku ciptakan sendirian. Aku berikan kepadanya harta yang berlimpah, anak-anak yang selalu bersamanya, dan Aku lapangkan baginya hayat dengan selapang-lapangnya. Kemudian ia statis menginginkan agar Aku menambahnya. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya ia menentang ayat-ayat Kami dengan keras. Aku akan membebaninya dengan pendakian yang sangat berat. Sesungguhnya ia telah berpikir dan menetapkan. Maka celakalah dia, sepertiapa ia menetapkan! Kemudian celakalah dia, sepertiapa ia menetapkan! Kemudian ia memperhatikan, kemudian berparas asam dan merengut. Kemudian ia beralih dan menyombongkan diri. Lalu ia berkata, ‘Ini tidak lain hanyalah sihir yang diwariskan. Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.’ Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar.” (QS. Al-Muddatstsir: 11–26)
Dalam ayat tersebut, Allah mengingatkannya akan nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepadanya berupa harta melimpah, anak-anak lelaki yang senantiasa eksis di sisinya, dan keluasan harta. Akan tetapi, al-Walid bin al-Mughirah menentang ayat-ayat Al-Qur’an dengan mencari-cari dakwaan apa yang sebaiknya disematkan kepada Al-Qur’an. Akhirnya, ia mengungkapkan bahwa Al-Qur’an adalah sihir yang diwariskan dan hanyalah perkataan manusia. Akibatnya kelak Allah akan menghukumnya dengan siksaan yang tidak pernah selesai dan memasukkannya ke dalam neraka Saqar.
Demikianlah salah satu bentuk penentangan Quraisy di mula dakwah terang-terangan. Mereka berupaya menyatukan dakwaan untuk menjauhkan manusia dari Rasulullah ﷺ, terutama para jemaah haji yang datang ke Makkah. Namun, upaya itu justru membikin berita tentang Nabi ﷺ semakin tersebar di tengah bangsa Arab. Dakwah yang mau mereka halangi justru semakin dikenal.
***
Penulis: Fajar Rianto
Artikel Kincai Media
Referensi:
ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri varian revisi penulis 1415 H/1994 M.
Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, karya Abul Fida’ Isma’il Ibnu Katsir.