Orang pandai punya emosi berbeda dengan yang lain saat mencoba pekerjaan baru. Kenapa ya? Mari telaah di sini yuk, Bunda.
Memulai pekerjaan baru biasanya menjadi momen yang dipenuhi beragam emosi. Ada rasa antusias lantaran mendapat kesempatan baru, namun di sisi lain muncul kekhawatiran saat kudu beradaptasi dengan lingkungan, rekan kerja, hingga tuntutan pekerjaan yang belum familiar.
Menariknya, orang dengan tingkat kepintaran tinggi disebut dapat mengalami emosi lain yang membikin fase awal bekerja terasa semakin tidak nyaman. Bukan hanya merasa gugup, mereka justru bisa merasakan rasa malu ketika kudu menjadi pemula dan melakukan kesalahan saat mempelajari sesuatu yang baru.
Mengapa demikian?
Alasan orang pandai sering merasakan emosi lain saat mulai pekerjaan baru
Mengutip Your Tango, beragam argumen kenapa orang pandai sering merasa malu saat baru mulai pekerjaan baru.
1. Malu lantaran belum bisa memulai pekerjaan
Menurut nervous system coach Dana Doswell, perubahan dan tekanan ketika memasuki pekerjaan baru dapat memicu disregulasi sistem saraf. Pada orang yang sangat cerdas, kondisi tersebut salah satunya bisa muncul dalam corak rasa malu.
Emosi ini kemudian berpotensi memengaruhi kesehatan, kesejahteraan diri, hingga keahlian mereka beradaptasi di tempat kerja. Dibanding menganggap masa awal bekerja sebagai proses belajar, sebagian orang pandai justru merasa kudu segera membuktikan keahlian kepada rekan kerja dan atasan.
Doswell menyebut banyak orang yang sangat pandai juga mempunyai kecenderungan sebagai pribadi yang 'high-functioning dysregulated' sehingga menjadi pemula dalam sesuatu yang baru dapat terasa sangat mengguncang.
2. Terbiasa jadi yang terbaik
Bagi orang yang terbiasa sigap memahami sesuatu dan tampil kompeten, kudu kembali belajar dari awal bukanlah pengalaman yang mudah. Kesalahan mini yang sebenarnya wajar bagi tenaga kerja baru dapat terasa seperti bukti bahwa dirinya tidak cukup mampu.
Doswell menjelaskan bahwa orang yang sangat pandai condong merasa nyaman ketika berada dalam posisi menguasai sesuatu. Ketika kudu mempelajari kembali keahlian tertentu, melakukan kesalahan, sekaligus menyesuaikan diri dengan budaya kantor, rasa malu pun dapat muncul dan membikin proses membangun hubungan dengan rekan kerja terasa semakin sulit.
3. Selalu merasa "on" di depan orang lain
Orang pandai yang baru memasuki lingkungan kerja juga dapat merasa kudu selalu menunjukkan performa terbaik. Mereka seolah tidak mempunyai ruang untuk terlihat bingung, melakukan kesalahan, alias memerlukan waktu memahami pekerjaan. Tekanan untuk terus terlihat kompeten tersebut justru dapat memperkuat rasa malu yang sebelumnya sudah muncul.
“Menjadi seorang pemula sebenarnya bisa sangat membikin sistem saraf stres dan menciptakan lingkungan di mana Anda merasa kudu selalu ‘on’ agar merasa aman,” ujar Dana Doswell.
4. Terjebak dalam ego pembuktian diri
Keinginan untuk mendapatkan pengakuan dari pemimpin maupun rekan kerja juga dapat membikin siklus tersebut semakin kuat. Ketika satu pencapaian sukses diraih, seseorang belum tentu merasa cukup lantaran tetap memerlukan pengesahan berikutnya untuk memastikan dirinya memang dianggap kompeten.
“Kita mau membuktikan bahwa diri kita berharga. Dan membuktikannya sekali saja tidak cukup. Kita memerlukan pengesahan terus-menerus," papar John Kim, LMFT, seorang terapis.
Menurutnya, kebutuhan tersebut pada akhirnya justru dapat menjadi halangan lantaran membikin seseorang susah bekerja dengan potensi terbaiknya.
Efek dan solusi
Tekanan untuk selalu tampil sempurna dan memperoleh pengakuan dapat berakibat pada langkah seseorang memandang dirinya sendiri. Jika terus berlangsung, rasa malu tidak lagi sekadar muncul lantaran satu kesalahan, tapi dapat melekat pada identitas dan memengaruhi nilai diri.
“Rasa malu berada pada tingkat identitas dan berakibat negatif pada hubungan yang Anda miliki dengan diri sendiri,” kata Doswell.
Untuk itu, pekerjaan yang sebenarnya sudah dilakukan dengan baik belum tentu terasa memuaskan bagi orang yang terus mencari pengesahan dari lingkungan sekitarnya.
Menghentikan siklus rasa malu tersebut tidak selalu cukup hanya dengan mengatakan kepada diri sendiri untuk berpikir lebih positif. Menurut Doswell, seseorang perlu memahami kembali peran rasa malu yang selama ini mungkin digunakan sebagai sistem untuk menghadapi tekanan.
“Ini berfaedah secara mendasar menangani peran yang sebelumnya dimainkan rasa malu sebagai sistem perlindungan bagi diri sendiri. Anda perlu bergerak menuju koreksi diri yang penuh kasih,” saran Doswell.
Jadi tenaga kerja baru tidak kudu selalu dibarengi tuntutan untuk langsung sempurna. Beri kesempatan kepada diri sendiri untuk belajar, melakukan kesalahan, dan beradaptasi secara berjenjang agar bisa membantu menciptakan proses kerja yang lebih sehat, termasuk bagi orang-orang yang sangat cerdas.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)