Pakar UGM Ingatkan Bahaya Duduk Berjam-jam Sambil Scrolling Handphone

Aug 04, 2026 01:10 PM - 6 hari yang lalu 393

Jakarta -

Bunda kekinian pasti punya rutinitas scrolling ponsel di sela-sela rutinitas harian. Meskipun sepele, kebiasaan tersebut bisa bendampak pada kesehatan tubuh lho.  

Dosen Fisiologi FK-KMK Universitas Gadjah Masa (UGM), dr Zaenal Muttaqien Sofro, AIFM, AIFO-K, mengungkap bahwa kunci utama kesehatan otak sebenarnya ada pada kelancaran aliran darah dan pasokan oksigen.

Menurutnya, masalah utama dari maraknya kebiasaan scrolling bukanlah pada kegiatan memandang layar media sosial itu sendiri, melainkan posisi duduk terlalu lama (prolonged sitting) yang menyertainya.


"Otak manusia memerlukan sekitar 20 persen dari seluruh oksigen yang digunakan tubuh. Oleh lantaran itu, kata kunci pertama untuk menjaga kesehatan otak adalah oksigen," ujar dr Zaenal dikutip dari laman resmi UGM.

Ia menjelaskan bahwa manusia sebagai makhluk bipedal (berjalan dengan dua kaki) kerap menghadapi tantangan gravitasi yang memengaruhi sirkulasi darah. Saat seseorang tiba-tiba berdiri dari posisi berbaring, aliran darah ke otak bisa mendadak berkurang hingga 60 persen. Lalu gimana langkah untuk meminimalisasi akibat tersebut?

Agar sirkulasi darah menuju otak tidak terganggu secara drastis, dr Zaenal menyarankan untuk tidak langsung 'loncat' berdiri dari tempat tidur saat bangun pagi. Ia membagikan tips langkah demi langkah yang kondusif bagi aliran darah:

  • Berbaring miring: Lakukan selama kurang lebih 30 detik setelah terbangun.
  • Duduk perlahan: Duduklah sembari bermohon alias menenangkan diri selama 30 detik.
  • Berdiri sembari jinjit: Berdiri secara perlahan lampau lakukan aktivitas jinjit sekitar 8 kali untuk memompa darah kembali naik ke otak.

Tak hanya saat bangun tidur, kebiasaan duduk berjam-jam saat bekerja alias scrolling HP juga patut diwaspadai. Gravitasi membikin darah menumpuk di area tubuh bagian bawah sehingga suplai ke otak menjadi tidak optimal.

"Masalah utamanya bukan semata-mata kegiatan scrolling, tetapi lantaran posisi duduk yang terlalu lama membikin darah lebih banyak berkumpul di bagian bawah tubuh akibat gravitasi," tegasnya.

Untuk menyiasatinya, dia mengimbau agar lama duduk dibatasi maksimal satu jam. Setelah 60 menit duduk, sempatkan berdiri, berjalan, alias melakukan peregangan ringan selama dua menit.

Melalui konsep Exercise is Medicine, olahraga sekarang bukan sekadar style hidup, melainkan terapi kesehatan. Tetapi seperti halnya obat, olahraga butuh takaran, dosis, intensitas, frekuensi, hingga lama yang tepat.

dr Zaenal mengingatkan, olahraga kompetitif seperti futsal, tenis, alias bulu tangkis memerlukan kesiapan bentuk ekstra lantaran pola geraknya yang naik-turun secara drastis. Ia menyoroti maraknya kasus kematian mendadak saat berolahraga yang kerap dipicu oleh ketidakseimbangan sistem tubuh, salah satunya lantaran nekat berolahraga sesaat setelah makan.

"Apabila pusat yang mengatur sistem pencernaan terlalu dominan, misalnya lantaran seseorang berolahraga setelah makan, maka jantung bisa menjadi tidak optimal sehingga meningkatkan akibat gangguan jantung apalagi kematian mendadak," peringatnya.

Aktivitas seperti berenang alias olahraga berat lainnya usai makan juga berisiko tinggi memicu kram hingga gangguan sirkulasi darah.

TERUSKAN MEMBACA KLIK DI SINI.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Selengkapnya