Perempuan di India Jadi yang Ibu Tertua yang Melahirkan Bayi Kembar

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 512x dilihat
Perempuan di India Jadi yang Ibu Tertua yang Melahirkan Bayi Kembar

Bagikan Postingan

Jakarta -

Memiliki anak setelah menopause mungkin terdengar hampir mustahil. Namun, teknologi reproduksi berbantu membikin hal yang sebelumnya sulit dibayangkan menjadi mungkin.

Salah satu kasus yang pernah menghebohkan terjadi di India. Seorang perempuan berumur sekitar 74 tahun melahirkan bayi kembar perempuan setelah menjalani program bayi tabung maupun in vitro fertilization (IVF).

Dikutip dari The Indian Express, perempuan disebut Erramatti Mangayamma tersebut melahirkan kedua bayinya melalui operasi caesar pada September 2019. Dokter yang menangani kasusnya saat itu terlebihlagi mengatakan kelahiran tersebut kemungkinan menjadi salah satu kelahiran tertua yang pernah tercatat. 


Namun, sepertiapa mungkin perempuan yang sudah mengalami menopause bisa hamil dan melahirkan bayi kembar? Berikut kisah dan klarifikasi medisnya.

Perempuan 74 tahun di India melahirkan bayi kembar

Mangayamma berasal dari Andhra Pradesh, India. Ia menikah dengan suaminya, Yerramatti Raja Rao, pada 1962. Pasangan tersebut telah durasi menginginkan anak, tetapi tidak kunjung memiliki keturunan. Puluhan tahun kemudian, Mangayamma menjalani prosedur IVF.

Karena telah mengalami menopause, tabib tidak menggunakan sel telurnya sendiri. Sel telur berasal dari donor dan kemudian dibuahi menggunakan sperma suaminya di laboratorium. Setelah berkembang menjadi embrio, embrio tersebut kemudian ditanamkan ke dalam rahim Mangayamma.

Kehamilan akhirnya berhasil dan Mangayamma hamil bayi kembar. Pada 5 September 2019, ia melahirkan dua bayi perempuan melalui operasi caesar. Laporan The Indian Express mengatakan ibu dan kedua bayinya eksis dalam kondisi stabil setelah persalinan. Kasus tersebut menjadi perhatian karena usia Mangayamma saat melahirkan dilaporkan sekitar 74 tahun.

Kenapa perempuan yang sudah menopause statis bisa hamil?

Bunda mungkin bertanya-tanya, bukankah menopause berarti perempuan sudah tidak bisa hamil?

Secara alami, menopause memang menandai berakhirnya fungsi reproduksi ovarium. Setelah menopause, ovarium tidak lagi melepaskan sel telur secara rutin sehingga kehamilan alami tidak lagi mungkin. Namun, rahim tidak otomatis kehilangan kapasitas untuk hamil cuma karena seorang perempuan telah menopause. Inilah yang memungkinkan teknologi IVF dengan donor sel telur digunakan dalam kondisi tertentu.

Pada prosedur tersebut, sel telur berasal dari perempuan lain. Sel telur kemudian dibuahi dengan sperma di laboratorium. Embrio yang terbentuk selanjutnya dapat ditanamkan ke rahim perempuan yang menjalani kehamilan.

American Society for Reproductive Medicine (ASRM) menerangkan bahwa donor sel telur maupun embrio merupakan salah satu metode reproduksi berbantu yang dapat digunakan pada perempuan dengan infertilitas berhubungan dengan usia. Bahkan, kehamilan setelah menopause secara biologis dapat dimungkinkan ketika rahim statis bisa mendukung kehamilan dan terapi hormonal serta donor oosit digunakan.

Jadi, Mangayamma tidak balik menghasilkan sel telur setelah menopause. Kehamilannya terjadi dengan pertolongan sel telur donor.

Kemungkinan keberhasilan IVF pada perempuan berumur sangat lanjut juga pernah diteliti. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Reproductive BioMedicine Online pada 2024 menganalisis 1.226 siklus transfer embrio dari 745 perempuan berumur 45 tahun ke atas yang menggunakan sel telur donor.

Peneliti menemukan bilangan live birth yang relatif stabil di beragam himpunan usia dalam riset tersebut. Namun, riset juga menekankan pentingnya transfer satu embrio untuk mengurangi konsekuensi kehamilan kembar, seperti dilansir dari PubMed.

Temuan ini memberitahu bahwa usia yang sangat lanjut tidak otomatis membikin IVF dengan sel telur donor mustahil. Namun, keberhasilan mendapatkan kehamilan tidak sama dengan kehamilan tersebut bebas risiko.

Hamil di usia 74 tahun statis memiliki konsekuensi tinggi

Di balik kisah Mangayamma yang berhasil melahirkan, ada sisi medis yang tidak kalah krusial untuk diperhatikan. Kehamilan pada usia lanjut memiliki konsekuensi komplikasi yang lebih tinggi dibandingkan kehamilan pada usia yang lebih muda.

American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) berbareng Society for Maternal-Fetal Medicine mencatat bahwa konsekuensi komplikasi kehamilan meningkat seiring bertambahnya usia ibu.

Beberapa kondisi yang lebih sering ditemukan antara lain:

  • Diabetes gestasional,
  • Preeklamsia,
  • Tekanan darah tinggi,
  • Persalinan prematur,
  • Persalinan melalui operasi caesar,
  • Bayi dengan bermutu lahir rendah,
  • Hingga konsekuensi lahir wafat yang meningkat pada usia tertentu.

Risikonya juga tidak selesai pada bilangan usia 35 tahun. ACOG mengatakan konsekuensi dapat terus meningkat seiring pertambahan usia dan menjadi lebih nyata pada himpunan usia di atas 40 tahun.

Kehamilan kembar membutuhkan perhatian lebih

Dalam kasus Mangayamma, kehamilan bukan cuma terjadi pada usia yang sangat lanjut, tetapi juga merupakan kehamilan kembar.

Kehamilan multifetal sendiri membawa konsekuensi tambahan bagi ibu dan bayi. Karena itu, ASRM mengatakan transfer satu embrio maupun elective single embryo transfer sebagai pilihan yang lebih disarankan pada perempuan dengan usia reproduksi sangat lanjut untuk mengurangi konsekuensi kehamilan kembar. 

Hal ini menarik karena Mangayamma justru melahirkan bayi kembar setelah prosedur IVF pada usia yang jauh di atas usia reproduksi umumnya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads