Pesan Al-ghazali Untuk Netizen: Berhentilah Menjadi Dokter Palsu Agama

Jun 18, 2026 01:21 PM - 2 minggu yang lalu 21167
 Berhentilah Menjadi Dokter Palsu AgamaPesan Al-Ghazali untuk Netizen: Berhentilah Menjadi Dokter Palsu Agama

Kincai Media – Pernahkah kita merasa betul-betul lelah, jenuh, dan barangkali muak dengan hiruk-pikuk media sosial hari ini? Layar gawai kita telah menjelma menjadi ruang digital raksasa tempat semua orang mendadak merasa sah menjadi komentator atas segala urusan. Mulai dari urusan politik, bentrok geopolitik, hingga daerah yang paling sensitif: otoritas keagamaan.

Di jagat maya yang mahaluas ini, semua orang merasa berkuasa menghakimi. Begitu mudahnya opini norma (fatwa) alias klaim keagamaan dilemparkan ke publik hanya demi mengejar algoritma: segelintir engagement, akumulasi like, alias puncak viralitas yang semu.

Hari ini, panggung digital kita dipenuhi oleh para “mutathabbib”, sebuah istilah klasik yang merujuk pada dokter-dokter spiritual gadungan. Mereka adalah para kreator konten, influencer, alias dai instan yang bermodal potongan video pendek berdurasi tiga puluh detik alias hasil pencarian kilat di mesin pencari Google.

Dengan modal yang teramat rentan itu, mereka dengan berani, tanpa secuil pun keraguan, mengharamkan, membid’ahkan, alias menyesatkan orang lain yang berbeda pandangan. Mereka tidak sadar bahwa “resep obat” kepercayaan yang mereka keluarkan tanpa kompetensi metodologi sejati (ushul fiqh) berisiko tinggi “membunuh” iman, memicu polarisasi, dan merusak jiwa umat.

Kondisi bising, penuh klaim, dan defisit etika ini rupanya bukanlah kejadian baru yang lahir murni lantaran algoritma abad ke-21. Lebih dari seribu tahun yang lalu, sang Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali, dalam magnum opus-nya yang monumental, Ihya’ Ulumuddin (Juz 1, Kitab al-Ilm), telah memberikan peringatan keras yang luar biasa menohok bagi kita yang hidup di era post-truth ini.

Pemikiran Al-Ghazali melampaui zamannya, membedah penyakit psikologis manusia yang doyan tampil di panggung fatwa. Diantaranya;

Budaya Saling Melempar Panggung (Tadafu’ al-Futya)

Di era media sosial yang serba cepat, begitu ada rumor keagamaan alias sosial yang hangat dan viral, semua orang seakan dijangkiti sindrom takut tertinggal (FOMO – Fear of Missing Out). Semua berebut mau menjadi yang paling sigap berkomentar (tasaru’).

Seolah-olah, jika jempol kita tidak ikut menari di kolom komentar, kita bakal kehilangan eksistensi, otoritas, dan pengakuan di bumi maya. Ruang digital memaksa kita untuk selalu mempunyai pendapat tentang segala hal, apalagi pada perkara yang tidak kita ketahui hakikatnya.

Namun, mari kita tengok sejenak ke belakang. Tahukah kita gimana sikap para Sahabat Nabi dan generasi salafus shalih dulu ketika berhadapan dengan masalah norma agama? Mereka justru mempunyai budaya tadafu’, sebuah sikap saling menolak, saling merendah, dan melempar panggung otoritas kepada yang lain.

Sikap ini lahir bukan lantaran mereka tolol alias pengecut, melainkan lantaran mereka diliputi rasa takut yang luar biasa bakal pertanggungjawaban moral dan spiritual di alambaka kelak.

Dalam kitab “Ihya’ Ulumuddin”, Imam Al-Ghazali menukil sebuah riwayat yang berbunyi:

وَقَالَ بَعْضُهُمْ: كَانَ الصَّحَابَةُ يَتَدَافَعُونَ أَرْبَعَةَ أَشْيَاءَ: الْإِمَامَةَ، وَالْوَصِيَّةَ، وَالْوَدِيعَةَ، وَالْفُتْيَا

Artinya: “Sebagian ustadz salaf berkata: ‘Para Sahabat dulu saling menolak (melemparkan tanggung jawab) dalam empat perkara: kepemimpinan (imamah), penerimaan wasiat, penerimaan titipan barang, dan pemberian fatwa (futya).”

Para Sahabat sadar betul bahwa setiap ucapan yang keluar dari lisan, alias dalam konteks hari ini, setiap ketikan jempol kita di kolom komentar, mempunyai akibat moral yang teramat berat di hadapan Allah.

Jika para sahabat yang hidup dekat dengan masa kenabian saja begitu gemetar untuk mengeluarkan satu patah kata hukum, gimana mungkin kita yang modal keilmuannya pas-pasan begitu berani bertindak seolah menjadi ahli bicara Tuhan di media sosial? Kebiasaan dasar orang yang betul-betul berilmu (al-rasikhuna fil ilm) adalah memilih tak bersuara dan mengamati, selain dalam kondisi yang betul-betul darurat.

Bahaya Dokter Palsu (Mutathabbib) di Media Sosial

Salah satu bagian paling menggetarkan dalam teks yang disajikan Al-Ghazali adalah sebuah surat peringatan dari Sahabat Salman al-Farisi kepada saudaranya, Abu al-Darda’. Ketika mendengar berita bahwa Abu al-Darda’ mulai aktif mengajar, membuka majelis, dan melayani beragam pertanyaan norma masyarakat di wilayahnya, Salman tidak lantas memujinya.

Sebaliknya, dia mengirimkan sepucuk surat dengan metafora medis yang sangat tajam, menembus jantung kesadaran. Bunyinya seperti ini:

يَا أَخِي، بَلَغَنِي أَنَّكَ قَعَدْتَ طَبِيبًا تُدَاوِي الْمَرْضَى، فَانْظُرْ فَإِنْ كُنْتَ طَبِيبًا فَتَكَلَّمْ فَإِنَّ كَلَامَكَ شِفَاءٌ، وَإِنْ كُنْتَ مُتَطَبِّبًا فَاللَّه اللَّه لَا تَقْتُلْ مُسْلِمًا

Artinya: “Wahai saudaraku, telah sampai berita kepadaku bahwa engkau sekarang duduk sebagai seorang master yang mengobati orang-orang sakit. Maka telitilah dirimu; jika engkau memang seorang master (ahli sejati), berbicaralah, lantaran ucapanmu bakal menjadi obat penawar.

Namun, jika engkau hanyalah orang yang berpura-pura menjadi master (amatir yang tidak kompeten), maka demi Allah, demi Allah, jangan sampai engkau membunuh seorang Muslim.”

Metafora ini sangat kontekstual dengan realita jagat digital kita. Jika dalam bumi medis kita sepakat bahwa orang yang berpura-pura menjadi master tanpa piagam dan skill pembuktian dapat membunuh bentuk pasien, kenapa dalam urusan kepercayaan kita begitu permisif? Banyak netizen hari ini bertindak sebagai mutathabbib keagamaan. Mereka memberikan “resep spiritual” yang keliru, memvonis sesat sebuah ibadah tanpa tahu argumen dasarnya, dan akhirnya memecah belah persaudaraan islam (ukhuwah islamiyah).

Mendengar teguran keras yang menggunakan sumpah atas nama Allah tersebut, Abu al-Darda’, seorang sahabat yang mulia, langsung menahan diri. Ia tidak defensif, tidak pula marah. Ia seketika menjadi sangat berhati-hati, mawas diri, dan tidak lagi asal-asalan dalam melayani pertanyaan norma dari masyarakat. Sebuah keteladanan ego yang tunduk di hadapan ilmu.

Teknologi dan Teks Saja Tidak Cukup

Di era perkembangan teknologi modern dan kepintaran buatan (AI) saat ini, akses terhadap info keagamaan telah mengalami pendemokrasian yang luar biasa. Kita bisa mendapatkan jutaan teks keagamaan, kitab-kitab klasik format PDF, hingga terjemahan ayat dan sabda hanya dalam hitungan detik. Doktrin keagamaan sekarang berada di ujung jari.

Namun, ada sebuah paradoks besar: kenapa limpahan info dan kemudahan akses informasi ini tidak otomatis melahirkan masyarakat yang lebih bijaksana, toleran, dan luhur moralitasnya? Mengapa yang terjadi justru sebaliknya; meningkatnya fanatisme buta dan kebencian digital?

Imam Al-Ghazali memberikan jawaban filosofis yang sangat mendalam mengenai pemisah akhir dari sebuah teks:

وَأَمَّا الْكُتُبُ وَالتَّعْلِيمُ فَلَا تَفِي بِذَلِكَ، بَلِ الْحِكْمَةُ الْخَارِجَةُ عَنِ الْحَصْرِ وَالْعَدِّ إِنَّمَا تَنْفَتِحُ بِالْمُجَاهَدَةِ وَالْمُرَاقَبَةِ وَمُبَاشَرَةِ الْأَعْمَالِ

Artinya: “Adapun buku-buku teks (al-kutub) dan proses pengajaran umum (al-ta’lim) tidak bakal pernah sanggup memenuhi capaian (hikmah) tersebut. Sebaliknya, hikmah spiritual yang tidak terbatas dan tidak terhitung jumlahnya hanya dapat terbuka melalui perantara mujahadah (perjuangan menundukkan nafsu), muraqabah (mawas diri/mindfulness), serta keterlibatan langsung dalam pengamalan nyata.”

Teknologi, algoritma, alias tumpukan kitab digital sedalam apapun hanyalah perangkat pemroses informasi kognitif. Mereka adalah info mentah, bukan kebijaksanaan. Hikmah sejati (al-hikmah) bukanlah sekadar tumpukan info historis alias mahfuz tekstual yang kaku.

Hikmah adalah nur (cahaya batin) yang ditiupkan Allah ke dalam kalbu hamba-Nya yang bersih; mereka yang lisannya dijaga dari menyakiti orang lain, yang hatinya selalu mawas diri (muraqabah), dan yang perilakunya selaras secara organik dengan ilmunya.

Memahami kepercayaan memerlukan proses mulazamah (mendampingi guru), pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs), dan etika yang tidak bisa digantikan oleh mesin pencari sekelas Google sekalipun.

Rekonstruksi Etika Digital: Apa Solusinya?

Untuk menghadapi kebisingan yang destruktif di bumi digital ini, Imam Al-Ghazali seolah-olah datang di hadapan layar gawai kita, membujuk kita semua untuk melakukan rekonstruksi etika jiwa melalui beberapa langkah konkret:

Pertama, diet komentar (digital samt). Artinya, kita kudu mulai melatih diri untuk menahan diri dari berkomentar pada isu-isu keagamaan alias sosial-politik yang tidak kita kuasai metodologi keilmuannya secara mendalam.

Tradisi Islam mengajarkan bahwa tak bersuara jauh lebih menyelamatkan batin, menjaga kesucian hati, dan mengamankan rekam jejak digital kita di mahkamah alambaka kelak.

Kedua, saring sebelum sharing. Dengan kata lain, jangan pernah bersedia menjadi pemasok alias cerobong cuma-cuma dari sirkulasi misinformasi dan provokasi keagamaan. Sebelum jempol kita membagikan alias mengetik sebuah pandangan keagamaan yang ekstrem, tanyakan pada diri sendiri secara jujur:

“Apakah saya sedang berbincang sebagai master sejati yang membawa kesembuhan, alias justru sedang menjadi master abal-abal yang membawa racun perpecahan?”

Ketiga, konsentrasi pada mujahadah nyata. Sudah saatnya kita mengurangi perdebatan kusir yang melelahkan, menguras daya psikologis, dan mengeraskan hati di kolom komentar.

Alihkan daya digital yang berlebih itu untuk memperbaiki kualitas ibadah pribadi yang riil, membersihkan penyakit jiwa (seperti riya’, ujub, dan kesombongan intelektual digital), serta menebar kemanfaatan yang konkret di bumi nyata.

Media sosial adalah gambaran dari apa yang ada di dalam dada kita. Mari berakhir menjadi dokter-dokter tiruan kepercayaan yang sibuk mendiagnosis dosa orang lain, sementara diri kita sendiri sedang sekarat digerogoti penyakit hati. Wallahu a’lam bishawab.

——

Penulis adalah Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo dan PP Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.

Sertifikasi Halal

Selengkapnya