Sri Purwantiningrum | Beautynesia
Rabu, 16 Sep 2026 07:00 WIB
Profil Ruth Bader Ginsburg, Hakim Agung AS yang jadikan kerah jubah sebagai simbol perjuangan kewenangan perempuan/ Foto: britannica.com/Steve Petteway
Ruth Bader Ginsburg, alias yang lebih berkarib disapa RBG, adalah seorang hakim agung yang memberi efek dahsyat di ruang sidang Mahkamah Agung Amerika Serikat. Ia dikenal sebagai sosok handal yang mendedikasikan hidupnya untuk membela keadilan, terutama kewenangan perempuan. Ikon keadilan ini telah berpulang pada September 2020 lampau di usia 87 tahun akibat komplikasi kanker.
Dirangkum dari halaman Global Citizen, Encyclopedia Britannica, Reuters, dan Town & Country, inilah kisah inspiratif Ruth Bader Ginsburg yang berhasil menyulap kerah jubahnya menjadi simbol perlawanan ikonik. Yuk, kita simak perjalanannya!
Berbagai Penolakan yang Menempa RBG Menjadi

Ruth Bader Ginsburg muda yang gigih saat fokus bekerja di Italia pada tahun 1977/ Foto: globalcitizen.org/Supreme Court of the United States
Perjuangan RBG berangkat dari pengalaman pahitnya sendiri. Lulus dengan harga gemilang dari Columbia Law School pada tahun 1959 tidak lantas membuatnya gampang mendapatkan pekerjaan. Saat itu, dia sempat ditolak oleh banyak firma hukum cuma karena dia seorang perempuan dan seorang ibu.
Diskriminasi ini tak cuma terjadi sekali. Saat bekerja sebagai dosen pun, dia terpaksa memakai baju kebesaran demi menyembunyikan kehamilannya agar kontrak kerjanya tidak diputus. Bukannya menyerah, rentetan pengalaman diskriminatif ini justru menempanya menjadi sosok yang gigih. Kompetensinya sangat dihormati, apalagi sahabat sekaligus koleganya, Hakim Antonin Scalia, menjulukinya harimau di ruang sidang yang siap mengoyak argumen-argumen konyol tanpa ampun.
Strategi Cerdas Membela Hak Perempuan Lewat Kacamata Kesetaraan

Ketegasan Ruth Bader Ginsburg saat berargumen di sidang konfirmasi Senat tahun 1993/ Foto: space.com/Rob Crandall
Sepanjang kariernya, RBG mendedikasikan diri untuk meruntuhkan dinding penghalang bagi perempuan. Berkat perjuangannya yang tak kenal lelah, perempuan di AS akhirnya memiliki kewenangan untuk berdikari secara finansial seperti membuka rekening bank dan kartu cicilan tanpa butuh tanda tangan suami. Ia juga berhasil mengesahkan aturan agar perempuan tidak dipecat cuma karena hamil, dan memaksa institusi pendidikan yang didanai negara untuk berakhir menolak pendaftar perempuan.
Namun, strategi hukumnya tak cuma membela satu sisi. RBG sadar bahwa kesetaraan sejati harus membela semua orang. Untuk membuktikan bahwa bias gender itu nyata, dia juga membela lelaki yang menjadi korban stereotip. Misalnya, pada pertengahan 1970-an, dia berhasil memenangkan kasus lelaki yang ditolak saat meminta tunjangan sosial dari mendiang istrinya.
Lewat strategi dari beragam perspektif pandang ini, RBG membuka mata pengadilan bahwa mekanisme yang diskriminatif merugikan siapa saja. Prinsip inilah yang terus dia gaungkan, seperti dalam kutipannya yang paling membekas: "Perempuan berwajib berada di semua tempat di mana keputusan dibuat. Tidak seharusnya perempuan cuma menjadi pengecualian.”
Dissenting Collar: Simbol Perlawanan Tanpa Kata

Ruth Bader Ginsburg mengenakan Dissenting Collar yang jadi simbol penolakannya di ruang sidang/ Foto: mercurynews.com/Mandel Ngan
Awalnya, jubah standar hakim di Mahkamah Agung AS cuma didesain untuk pria, dengan kerah 'V' untuk memperlihatkan kemeja dan dasi. Untuk menyiasati hal ini sekaligus memberi sentuhan feminin, RBG mulai rutin memakai kerah dekorasi alias jabot di atas jubah hitamnya.
Aksesori ini kemudian berevolusi menjadi alat komunikasi simbolis, bukan sekadar fashion statement. Jika dia memakai kerah putih berenda alias kuning berliontin yang elegan, itu menandakan dia setuju dengan opini mayoritas.
Namun, yang paling ikonik adalah dissenting collar alias "kerah penolakan". Saat dia mengenakan kerah gelap dengan detail tajam, semua orang di ruang sidang tahu bahwa RBG sedang bersiap menentang keputusan yang dianggapnya tidak adil.
Kutipan andalannya sangat lugas: "I dissent" (Saya menolak). Saking lantangnya dia bernada demi keadilan, generasi muda menjulukinya "Notorious R.B.G.". Ia beralih bentuk dari seorang hakim yang serius menjadi pahlawan adat pop yang diabadikan dalam film hingga action figure.
Lewat kecerdasan dan ketelitiannya, Ruth Bader Ginsburg memberitahu bahwa perlawanan tidak selalu membutuhkan teriakan. Terkadang, sebuah alasan yang bermutu dan selembar kerah jubah sudah cukup untuk menggetarkan dunia.
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(naq/naq)
Komentar
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.