Kincai Media, JAKARTA – Bagaimana manusia mengetahui bahwa cahaya bergeser lurus? Dan sepertiapa sebuah gambar bumi di luar ruangan bisa muncul terbalik di sebuah ruang gelap?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut rupanya telah menjadi bahan percobaan seorang ilmuwan Muslim sekitar seribu tahun lalu.
Namanya Abu Ali al-Hasan Ibnu al-Haytham, ilmuwan kelahiran Basra yang di bumi Barat dikenal sebagai Alhazen.
Ibnu al-Haytham bukan sekadar menulis teori tentang cahaya. Ia menguji gagasannya melalui pengamatan dan eksperimen.
Berkat kontribusinya tersebut, UNESCO menyebutnya sebagai salah satu pelopor optik modern sekaligus figur krusial dalam evolusi metode eksperimental dalam sains.
Salah satu karya terbesarnya adalah Kitab al-Manazir atau Book of Optics. Karya yang terdiri atas tujuh jilid itu membahas cahaya, penglihatan, refleksi, refraksi, hingga metode manusia melihat objek.
Dalam penelitiannya, Ibnu al-Haytham menggunakan konsep camera obscura, yaitu ruang gelap yang memiliki lubang kecil sehingga cahaya dari luar masuk dan membentuk deskripsi pada permukaan di dalamnya. Citra tersebut muncul dalam posisi terbalik.
Eksperimen itu menjadi bagiankecil krusial dari kajiannya tentang sifat cahaya. Ia tidak menerima begitu saja pandangan para ilmuwan sebelumnya. Sebaliknya, ia menguji beragam ide melalui pengamatan dan percobaan.