Skala Prioritas dalam Beramal bagi Wanita Muslimah

Jul 16, 2026 11:00 AM - 2 minggu yang lalu 15193

Seorang wanita mempunyai banyak peran dalam kehidupan, yang menuntutnya untuk melakukan beragam pekerjaan sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Tak jarang perihal ini membikin para wanita terjebak dalam skala prioritas yang salah dan mengakibatkan burn-out berkepanjangan. Sehingga krusial bagi seorang muslimah untuk mengetahui tugas yang paling utama di antara yang utama. Hal ini lantaran waktu setiap manusia terbatas, begitu pula tenaga dan materi yang dimiliki.

Dengan mengetahui skala prioritas dalam beramal, diharapkan seorang wanita muslimah dapat mengatur kegiatan bumi dan akhiratnya serta menggapai keberkahan dan kebaikan yang banyak.

Tiga peran utama wanita muslimah

Untuk mengetahui ibadah prioritas bagi seorang muslimah, hendaklah seorang wanita menyadari tiga peran utamanya dalam kehidupan:

Sebagai hamba Allah

Allah Tabaraka wa Ta’ala tidaklah menciptakan manusia untuk kesia-siaan, bakal tetapi untuk sebuah hikmah dan tujuan yang jelas. Yaitu, untuk mengesakan-Nya dan beragama kepada-Nya semata. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,

‎وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Donasi Kincai Media

“Dan Aku tidak menciptakan hantu dan manusia melainkan agar mereka beragama kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Baik laki-laki maupun wanita, berada dalam posisi yang sama dalam memikul tanggung jawab dan tanggungjawab untuk beragama dengan baik kepada Allah, ialah dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Begitu pula dalam mendapatkan ganjaran dan hukuman. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ  وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan saleh, baik laki-laki maupun wanita dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya bakal Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya bakal Kami beri jawaban kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,

فَٱسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّى لَآ أُضِيعُ عَمَلَ عَٰمِلٍ مِّنكُم مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ بَعْضُكُم مِّنۢ بَعْضٍ

“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), ‘Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan kebaikan orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki alias perempuan, (karena) sebagian Anda adalah turunan dari sebagian yang lain.” (QS. Ali Imran: 95)

Hendaklah seorang wanita muslimah mengutamakan amalan-amalan yang telah Allah Ta’ala wajibkan dalam kesehariannya. Karena disebutkan dalam sebuah hadis Qudsi yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,

وما تقرَّب إليَّ عبدي بشيءٍ أحَبَّ إليَّ ممَّا افترَضْتُ عليه

“Sesungguhnya seorang hamba tidaklah mendekatkan diri kepada–Ku dengan sesuatu pun yang lebih Aku cintai dibandingkan perkara yang Aku wajibkan untuknya.’” (HR. Ibnu Hibban no. 347)

Dan hendaklah dia beriktikad ketika mengerjakan kegiatan duniawinya sebagai corak pendekatan diri kepada Allah. Karena niat merupakan perdagangan seorang muslim. Sesuatu yang berkarakter mubah dapat dihitung sebagai pahala jika diniatkan sebagai sarana yang membantu untuk beragama kepada Allah. Seperti berolahraga dengan niat menjaga nikmat sehat yang Allah karuniakan, menjaga kekuatan bentuk dalam melaksanakan ibadah kepada Allah, dst. Dengan ini, seseorang dapat meraup untung pahala yang berlimpah.

Ketahuilah bahwa kebaikan yang paling dicintai Allah Tabaraka wa Ta’ala adalah ibadah yang dikerjakan secara kontinu walaupun sedikit. Diriwayatkan dari ibu ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأعمالِ إلى اللهِ أدْومُها و إن قَلَّ

“Amal yang paling dicintai Allah adalah ibadah yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Muslim no.783)

Berusahalah untuk menjaga keikhlasan dalam beramal dan meniti jalan yang ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab, Allah Ta’ala berfirman,

فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebaikan yang saleh dan janganlah dia mempersekutukan seorang pun dalam beragama kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Baca juga: Pentingnya Memahami Skala Prioritas dalam Beramal

Sebagai seorang istri

Seorang wanita, jika belum berumah tangga, surganya adalah dengan berkhidmat kepada kedua orang tuanya. Akan tetapi, jika telah mempunyai suami, suaminya adalah pintu surganya. Hendaklah dia memprioritaskan tugasnya sebagai seorang istri dan maksimal melayani suaminya seusai menunaikan kewajibannya kepada Allah.

Diriwayatkan bahwa tante dari sahabat Husain bin Muhshan radhiyallahu ‘anhu datang untuk berjumpa dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk suatu hajat, maka Nabi bertanya,

‎أَذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ، قَالَ: كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ قَالَتْ: مَا آلُوهُ إِلَّا مَا عَجَزْتُ عَنْهُ، قَالَ: فَانْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ

“Apakah Anda mempunyai suami?’ Dia menjawab, ‘Ya’ Beliau bertanya, ‘Bagaimana sikapmu kepadanya?’ Dia menjawab, ‘Aku tidak melalaikannya selain terhadap sesuatu yang tidak saya sanggupi.’ Nabi bersabda, ‘Lihatlah gimana posisimu di hadapannya. Karena sesungguhnya suami itu adalah surga alias nerakamu.” (HR. Ahmad no. 19003)

Begitu besarnya hak seorang suami, sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Jikalau saya boleh memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain, niscaya saya perintahkan seorang istri bersujud kepada suaminya.” (HR. At-Tirmidzi no. 1159)

Saudariku muslimah, jadilah engkau sosok istri seperti yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

‎خَيْرُ النِّسَاءِ الَّتِي إِذَا نَظَرْتَ إِلَيْهَا سَرَّتْكَ، وَإِذَا أَمَرْتَهَا أَطَاعَتْكَ، وَإِذَا غِبْتَ عَنْهَا حَفِظَتْكَ فِي نَفْسِهَا وَمَالِكَ

“Sebaik-baik wanita adalah yang andaikan engkau memandangnya, dia menyenangkanmu. Apabila engkau memerintahnya, dia menaatimu. Dan andaikan engkau tidak bersamanya, dia menjaga dirimu dan hartamu.” (HR. Hakim dalam Mustradak-nya no. 2697)

Dengarkanlah wasiat dari ibu Ummu Unas ketika ayahnya, ‘Auf bin Muhallim asy-Syaibanu bakal menikahkannya kepada ‘Amr bin Hujr,

‏‎أَيْ بُنَيَّةِ، إِنَّكِ فَارَقْتِ بَيْتَكِ الَّذِي مِنْهُ خَرَجْتِ، وَعَشِّكِ الَّذِي فِيهِ دَرَجْتِ، إِلَى رَجُلٍ لَمْ تَعْرِفِيهِ، وَقَرِينٍ لَمْ تَأْلَفِيهِ، فَكُونِي لَهُ أَمَةً يَكُنْ لَكِ عَبْدًا، وَاحْفَظِي لَهُ خِصَالًا عَشْرًا يَكُنْ لَكِ ذُخْرا

“Wahai putriku, sesungguhnya engkau telah meninggalkan rumahmu – yang di situlah engkau dilahirkan dan sarangmu tempat engkau tumbuh – kepada seorang laki-laki asing yang engkau tidak mengenalnya dan kawan (hidup baru) yang engkau belum terbiasa dengannya. Maka jadilah engkau seorang budak wanita baginya, niscaya dia bakal menjadi budak lelakimu. Hendaknya engkau memperhatikan dan menjaga sepuluh perkara untuknya, maka niscaya bakal menjadi modal dan simpananmu kelak (di hari akhirat).”

‎أَمَّا الْأُولَى وَالثَّانِيَةُ: فَالْخُشُوعُ لَهُ بِالْقَنَاعَةِ، وَحُسْنِ السَّمْعِ  لَهُ وَالطَّاعَةِ

“Adapun perkara pertama dan kedua adalah tunduk kepadanya dengan sifat qana’ah, serta mendengar dan alim dengan baik kepadanya.”

وَأَمَّا الثَّالِثَةُ وَالرَّابِعَةُ: فَالتَّفَقُّدُ لِمَوْضِعِ عَيْنِهِ وَأَنْفِهِ، فَلَا تَقَعُ عَيْنُهُ مِنْكِ عَلَى قَبِيحٍ، وَلَا يَشُمُّ مِنْكِ إِلَّا أَطْيَبَ رِيْحٍ

“Adapun perkara ketiga dan keempat ialah engkau memperhatikan pandangan dan penciumannya, jangan sampai matanya memandang sesuatu yang jelek dari dirimu dan jangan sampai dia mencium darimu selain aroma yang terharum.”

وَأَمَّا الْخَامِسَةُ وَالسَّادِسَةُ: فَالتَّفَقُّدُ لِوَقْتِ مَنَامِهِ وَطَعَامِهِ، فَإِنَّ حَرَارَةُ الْجُوعِ مُلْهِبَةٌ، وَتَنْغِيصَ النَّوْمِ مُغْضِبَةٌ

“Adapun perkara kelima dan keenam adalah memperhatikan waktu tidurnya dan waktu makannya, lantaran panasnya lapar itu menyala-nyala dan kurangnya tidur menimbulkan kemarahan.”

وَأَمَّا السَّابِعَةُ وَالثَّامِنَةُ: فَالْاِحْتِفَاظُ بِمَالِهِ، وَالْإِرْعَاءُ عَلَى حَشْمِهِ وَعِيَالِهِ، وَمِلَاكُ الْأَمْرِ فِي الْمَالِ حُسْنُ التَّقْدِيرِ، وَفِي الْعِيَالِ حُسْنُ التَّدْبِيْرِ

“Adapun perkara ketujuh dan kedelapan: menjaga hartanya dan perhatian terhadap kerabat dan anak-anaknya. Dan kunci pengurusan kekayaan adalah penempatan kekayaan sesuai ukurannya dan kunci perhatian anak-anak adalah bagusnya pengaturan.”

وَأَمَّا التَّاسِعَةُ وَالْعَاشِرَةُ: فَلَا تَعْصِنَّ لَهُ أَمْرًا وَلَا تَفْشِنَّ لَهُ سِرًّا، فَإِنَّكِ إِنْ خَالَفْتِ أَمْرَهُ أَوْغَرْتِ صَدْرَهُ، وَإِنْ أَفْشَيْتِ سِرَّهُ لَمْ تَأْمَنِي غَدْرَهُ

“Adapun perkara kesembilan dan kesepuluh adalah janganlah sekali-kali engkau membantah perintahnya dan janganlah sekali-kali engkau menyebarkan rahasianya. Karena jika engkau menyelisihi perintahnya, maka engkau bakal memanaskan dadanya. Dan jika engkau menyebarkan rahasianya, maka engkau tidak bakal kondusif dari pengkhianatannya.”

ثُمَّ إِيَّاكِ وَالْفَرَحَ بَيْنَ يَدَيْهِ إِذَا كَانَ مُهْتَمًّا، وَالْكآبَةَ بَيْنَ يَدَيْهِ إِذَا كَانَ فَرِحًا

“Kemudian hati-hatilah engkau, jangan sampai engkau ceria tatkala dia sedang berduka dan janganlah berduka tatkala dia sedang bergembira.”

Al-‘Abbas bin Khalid as-Sahmi berkata, “Maka Ummu Unas pun melahirkan bagi ‘Amr hin Hujr anaknya yang berjulukan Al-Harits bin ‘Amr, yang dia merupakan kakek dari Ummul Qais penyair dan pujangga yang tersohor.” (Diambil dari kitab Al-‘Iqd al-Farid karya al-Faqih Ahmad bin Muhammad bin Abdi Rabbih al-Andulsi, tahqiq: Dr. Mufid Muhammad, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Cetakan Pertama, tahun 1983, 7: 89-90)

Sebagai seorang ibu

Anak merupakan amanah dari Allah Jalla wa ‘Ala, dan setiap orang tua bakal dimintai pertanggungjawaban bakal anak-anak mereka kelak di hari kiamat.

Seorang ibu adalah sosok terdekat bagi anak. Sehingga kepercayaan Islam begitu memperhatikan dan memastikan kehadirannya dalam kehidupan sang anak. Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِي صِغَرِهِ

“Sebaik-baik wanita yang mengendarai unta adalah yang paling sayang kepada anak-anak di masa kecilnya.” (HR. Muslim no. 2527)

Bahkan seorang ibu adalah madrasah bagi anak-anaknya. Seorang penyair, Muhammad Hafizh bin Ibrahim pernah berkata,

الْأُمُّ مَدْرَسَةٌ إِذَا أَعْدَدْتَهَا 

“Seorang ibu adalah sebuah madrasah; jika engkau menyiapkannya,

أَعْدَدْتَ شَعْبًا طَيِّبَ الْأَعْرَاقِ

“Maka engkau telah menyiapkan sebuah bangsa terbaik yang kokoh.” (Lihat Jawabir al-Adab fi Adabiyyat wa Insya’ Lughah al-‘Arab, 2: 247)

Berusahalah sebaik mungkin dalam merawat dan mendidik anak-anakmu, wahai saudariku muslimah. Prioritaskan hari-harimu untuk memenuhi kebutuhan mereka, lantaran corak pengasuhanmu terhadap mereka merupakan corak ketaatanmu kepada Allah Ta’ala dan kepatuhanmu kepada suami.

Berpeganglah kepada nasihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap putri beliau Fathimah radhiyallahu ‘anha,

اصْبِرِي يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ؛ فَإِنَّ خَيْرَ النِّسَاءِ الَّتِي نَفَعَتْ أَهْلَهَا

“Bersabarlah wahai putriku, Fathimah. Sesungguhnya sebaik-baik wanita adalah yang memberikan faedah bagi keluarganya.” (HR. Ath-Thabrani no. 222 dalam kitabnya, Ad-Du’a, hal. 90)

Demikian tiga peran utama seorang wanita muslimah. Dan kebaikan yang utama baginya adalah berkutat pada pemenuhan tugasnya dalam ketiga peran ini. Karena disebutkan dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا؛ قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Jika seorang wanita salat lima waktu, berpuasa Ramadan, menjaga kemaluannya, dan alim kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya, ‘Masuklah surga dari pintu mana saja yang dia suka.” (HR. Ahmad no. 1661)

Hanya kepada Allah kita memohon taufik.

Baca juga: Menjadi Ibu, Profesi Terbaik Seorang Wanita

***

Penulis: Annisa Auraliansa

Artikel Kincai Media

Referensi:

Andirja, Lc, MA, Dr. Firanda. 2025. Syarah Bait-Bait Khairunnisa. Jakarta: UFA Office.

Selengkapnya