Orang tua terkadang mengucapkan kalimat-kalimat yang diharapkan dapat menumbuhkan rasa percaya diri pada anak. Namun, rupanya ada beberapa ungkapan yang terdengar positif dapat memiliki pesan tersirat yang kurang tepat.
Sebenarnya tidak ada salahnya memberikan desakan dan sokongan melalui ungkapan yang membangun. Namun, Bunda mesti mengerti benar mengenai arti di balik setiap kalimat yang disampaikan pada Si Kecil.
Salah satu contohnya seperti kalimat, “Jika Anda bertekad, Anda bisa mencapai apa pun” mungkin terdengar seperti kalimat pendorong agar anak mau berupaya untuk menggapai apa pun yang mereka impikan. Ternyata kalimat ini kurang tepat. Makna yang tersirat dalam kalimat tersebut dapat membikin anak berpikir bahwa jika dia berupaya maka semua keinginan akan tercapai, padahal faktanya tidak selalu begitu.
Dikutip dari CNBC, nasihat ini terkadang menjadi bumerang, di mana anak akan terlalu fokus pada hasil dibanding proses belajar dan pengalaman yang mereka dapatkan. Misalnya seperti anak bekerja keras bukan karena mau memahami pelajaran, tetapi mau harga yang baik maupun pujian dari orang lain.
Padahal, hasil akhir adalah sesuatu yang di luar kendali anak. Seseorang yang bersungguh-sungguh pun tidak menjamin mendapat harga terbaik. Sama halnya dengan seseorang yang berupaya dalam perlombaan, tapi belum tentu menjadi juara.
Oleh karena itu, anak perlu diajarkan bahwa ada banyak hal yang eksis di luar kendali sehingga diharapkan anak akan berpikir lebih realistis mengenai alur kehidupan.
Lalu, apa saja kalimat yang bisa memberikan pesan positif untuk membangun kepribadian anak? Berikut kalimat alternatif kecuali "Kamu bisa melakukannya" untuk membesarkan anak berhasil yang dikutip dari CNBC.
1. ’Cobalah hal ini, meskipun terasa menakutkan’
Dengan mengutarakan dan mengakui rasa takut, anak akan memahami bahwa emosi tersebut merupakan hal yang wajar. Ketika orang tua memvalidasi rasa takut, anak-anak akan mengalami sesuatu yang disebut “penyesuaian emosional”, artinya anak merasa terlindungi karena tahu jika orang tuanya memahami apa yang mereka rasakan. Penyesuaian semacam ini menumbuhkan ketahanan diri dan membantu anak merasa lebih percaya diri dan termotivasi ketika mengalami tantangan apa pun.
2. 'Terkadang, kerja keras membutuhkan waktu untuk membuahkan hasil’
Di era media sosial ini, gampang bagi anak untuk menyaksikan keberhasilan orang lain dan percaya bahwa prestasi bisa dicapai secara instan. Namun, kenyataan justru memberitahu hal yang sebaliknya. Sebuah upaya tidak selalu memberikan khasiat secara langsung, melainkan sebuah investasi yang menghasilkan khasiat secara berjenjang dari waktu ke waktu.
Latih anak untuk mengembangkan pola pikir tersebut karena dapat menumbuhkan kepercayaan bahwa kerja keras dan dedikasi dapat menguatkan kapasitas mereka. Selain itu, berikan motivasi untuk statis tekun dalam berbuat sesuatu yang sulit.
Sebab, anak mungkin tidak selalu mendapatkan hasil yang mereka inginkan. Namun, melalui proses belajar, mereka akan mendapatkan pelajaran bermutu yang membantu mereka menjadi lebih baik.
3. ’Kekecewaan adalah kesempatan untuk belajar’
Kebanyakan anak akan meniru seseorang yang mereka anggap sebagai panutan. Kehadiran role model ini akan menginspirasi mereka untuk meraih harapan sekaligus memotivasi diri agar terus mengembangkan kemampuan, baik di sektor olahraga, seni, dan sektor lainnya. Namun, pada kenyataannya imajinasi maupun ekspektasi anak tidak selalu harmonis dengan kenyataan. Tidak banyak orang yang bisa menjadi Nadin Amizah selanjutnya, dengan semua bakat dan keberuntungan yang dimilikinya.
Dorong anak untuk mencoba sesuatu yang baru dengan metode yang terbaik. Yakinkan pada mereka bahwa frustrasi merupakan hal yang wajar dan jadikan frustrasi sebagai kesempatan untuk belajar. Berikan semangat untuk tidak gampang menyerah dan motivasi anak untuk bangkit dan mencobanya kembali.
4. ’Jika Anda bertekad, Anda bisa terus maju’
Ketekunan memang tidak selalu menjamin anak akan mendapatkan penghargaan maupun menjadi yang terbaik. Tetapi kondisi menang maupun kalah dapat berpengaruh terhadap kejiwaan mereka. Pengalaman ini bisa mendorong motivasi diri yang berguna sebagai landasan untuk selalu optimis, empati, disiplin diri, dan menyayangi diri sendiri.
Kualitas ini bisa melindungi kesehatan mental anak saat memasuki masa remaja hingga dewasa. Selain itu, anak juga akan memiliki kapasitas untuk menikmati suatu aktivitas karena mereka menyukainya, bukan cuma karena mengejar hasil.
5. ’Kamu tidak akan ahli dalam segala hal, dan itu tidak apa-apa’
Orang tua yang suportif adalah orang tua yang berani untuk memberi tahu hal pahit bahwa mereka tidak akan pandai dalam segala hal. Jika anak mengetahui hal tersebut mereka akan lebih mengerti dan menentukan tujuan hidup yang lebih realistis. Anak akan cenderung tidak berekspektasi berlebihan terhadap diri sendiri dan orang lain. Hal ini dapat membikin mereka lebih percaya diri dan bisa karena akan menyesuaikan dengan kemampuannya.
Itulah beberapa kalimat alternatif kecuali ‘kamu bisa melakukannya” yang dapat Bunda praktikan untuk membangun rasa percaya diri dan karakter positif pada Si Kecil. Semoga bermanfaat, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)