Rasa takut gagal bisa membikin orang selesai mencoba sesuatu meski sebenarnya ingin. Dalam pikiran muncul pertanyaan,'Kalau gagal bagaimana' maupun 'kalau rupanya aku enggak mampu?'. Adakah ciri khas orang yang takut gagal meski belum mencoba?
Rasa takut gagal itu manusiawi dan hampir semua orang mengalaminya. Namun, untuk sebagian orang, rasa takut yang begitu kuat membuatnya memilih tidak mencoba, menunda pekerjaan, maupun tanpa sadar berbuat hal yang justru menghalangi peluangnya sendiri.
Ciri orang yang takut gagal sebelum mencoba
Melansir Psychology Today, psikolog Gary Drevitch menerangkan bahwa rasa takut gagal pada sebagian orang bukan semata-mata takut mengalami kegagalan. Di baliknya dapat terdapat kecemasan akan rasa malu, penilaian orang lain, maupun emosi bahwa kegagalan memberitahu dirinya tidak cukup baik.
Ciri-ciri berikut bukan berarti seseorang pasti mengalami fear of failure. Namun, pola-pola ini dapat muncul ketika ketakutan terhadap kegagalan mulai memengaruhi metode seseorang berpikir dan bertindak.
Berikut ciri-ciri orang yang takut gagal terlebihlagi sebelum mencoba:
1. Terlalu memikirkan apa kata orang
Salah satu tanda orang takut gagal adalah terlalu cemas dengan yang dipikirkan orang lain jika dirinya gagal. Misalnya, Bunda mau memulai upaya kecil-kecilan, tetapi tidak jadi karena membayangkan orang lain akan menertawakan jika upaya tersebut tidak berhasil.
Padahal, orang lain belum tentu memikirkan kegagalan tersebut sebesar yang dibayangkan. Ketakutan terhadap penilaian orang lain dapat membikin seseorang lebih memilih terlindungi daripada memungut kesempatan yang sebenarnya mau dicoba.
2. Takut kegagalan akan menentukan masa depan
Orang yang takut gagal juga bisa melihat satu kegagalan seolah-olah akan menentukan seluruh masa depannya. Gagal dalam satu pekerjaan terasa seperti bukti bahwa dirinya tidak akan berhasil dalam sektor tersebut. Tidak lolos satu seleksi dianggap sebagai tanda bahwa impiannya tidak mungkin tercapai.
Cara berpikir seperti ini membikin kegagalan terasa jauh lebih menakutkan, padahal kegagalan juga bisa menjadi bagiankecil dari proses belajar.
Penelitian tentang self-worth yang berhubungan dengan pencapaian juga memberitahu bahwa ketika harga diri seseorang sangat bersandar pada keberhasilan tertentu, kegagalan dapat memberikan akibat emosional yang lebih besar.
3. Khawatir orang lain akan kehilangan minat
Takut gagal juga dapat berhubungan dengan kecemasan bahwa orang lain akan kecewa maupun tidak tertarik jika dirinya tidak berhasil. Misalnya, seseorang merasa mesti selalu berprestasi agar statis dianggap dahsyat oleh keluarga, teman, maupun orang yang dikaguminya.
Akibatnya, mencoba sesuatu yang berisiko gagal terasa jauh lebih menakutkan karena yang dipertaruhkan bukan cuma hasilnya, tetapi juga penerimaan dari orang lain.
4. Meragukan kapasitas diri sendiri
"Kayaknya aku enggak cukup pintar."
"Aku memang enggak berbakat."
"Orang lain pasti lebih bisa."
Kalimat-kalimat seperti ini dapat muncul sebelum seseorang benar-benar mencoba.
Melansir Verywell Mind, rasa takut gagal dapat membikin seseorang meragukan keahlian maupun ilmu yang dimilikinya. Ketika kepercayaan dengan kapasitas diri semakin rendah, seseorang bisa memilih menghindari tantangan daripada menghadapi kemungkinan gagal.
Padahal, belum mencoba bukan berarti tidak mampu.
5. Takut mengecewakan orang yang pendapatnya penting
Ada orang yang sebenarnya tidak terlalu takut terhadap kegagalan itu sendiri, tetapi sangat takut mengecewakan orang yang mereka sayangi.
Misalnya, takut mengecewakan orang tua jika nilainya tidak sesuai harapan, takut mengecewakan pasangan jika hajat tidak berhasil, maupun takut membikin ketua kecewa ketika sebuah pekerjaan tidak berjalan sesuai rencana.
Penelitian McGregor dan Elliot menemukan bahwa orang dengan tingkat fear of failure lebih tinggi mengalami rasa malu yang lebih besar setelah merasa gagal. Mereka juga melaporkan lebih kecil kemungkinan untuk menceritakan pengalaman kegagalan kepada orang tua dibandingkan menceritakan keberhasilan
Bunda pernah mendengar orang yang sebelum berbuat sesuatu sudah bilang, "Kayaknya aku enggak akan bisa deh"? Sekilas terdengar seperti rendah hati. Namun, jika dilakukan secara terus-menerus setiap kali akan menghadapi sesuatu yang menantang, perilaku ini bisa menjadi metode untuk melindungi diri dari rasa malu jika benar-benar gagal.
Dengan menurunkan ekspektasi orang lain terlebih dahulu, seseorang merasa punya karena jika hasil akhirnya tidak sesuai harapan.
Perilaku seperti ini dapat berhubungan dengan self-handicapping, yaitu ketika seseorang menciptakan maupun menggunakan hambatan tertentu sehingga jika akibatnya buruk, ada karena yang dapat melindungi harga dirinya.
Ini salah satu ciri khas yang cukup gampang dikenali. Sudah tahu ada tugas yang mesti diselesaikan, tetapi malah sibuk berbuat hal lain. Ketika waktu semakin sedikit, pekerjaan akhirnya tidak selesai maksimal.
Masalahnya, penundaan tersebut terkadang bukan karena malas. Ada kemungkinan seseorang sedang berupaya menghindari rasa tidak betah yang muncul ketika mesti menghadapi tugas yang membuatnya takut gagal.
Penelitian pada 156 mahasiswa kedokteran menemukan bahwa fear of failure berpartisipasi sebagai mediator dalam hubungan antara perfeksionisme yang berorientasi pada diri sendiri dan prokrastinasi akademik.
8. Tanpa sadar mencari karena agar tidak maksimal
Orang yang takut gagal dapat berbuat self-handicapping, yaitu menciptakan maupun menggunakan hambatan tertentu sehingga jika akibatnya buruk, ada karena yang dapat menerangkan kegagalan tersebut.
Contohnya, seseorang punya presentasi krusial tetapi justru menghabiskan waktu untuk berbuat beragam hal yang sebenarnya tidak mendesak. Ketika hasil presentasinya kurang baik, ia kemudian dapat berkata, "Aku memang nggak sempat latihan."
Penelitian terhadap mahasiswa menemukan bahwa tingkat fear of failure dapat memprediksi perilaku self-handicapping.
9. Memilih tidak mencoba sama sekali
Ini mungkin bentuk yang paling jelas. Daripada mencoba dan salingberhadapan dengan kemungkinan gagal, seseorang memilih tidak ikut, tidak mendaftar, tidak mengirimkan karya, tidak melamar pekerjaan, maupun tidak memulai sesuatu yang sebenarnya diinginkan.
"Kalau aku enggak coba, aku enggak akan gagal."
Masalahnya, metode ini memang dapat membikin seseorang terhindar dari rasa kecewa untuk sementara. Namun, di saat yang sama, kesempatan untuk mengetahui kapasitas diri dan belajar dari pengalaman juga ikut hilang.
Pada kondisi yang cukup berat, ketakutan akan kegagalan dapat membikin seseorang sama sekali tidak mau mencoba karena mau menghindari rasa sakit, malu, maupun kecewa.
Kenapa seseorang bisa takut gagal?
Rasa takut terhadap kegagalan, yang dikenal sebagai atikifobia, sering kali berhubungan dengan rasa takut akan malu dan dapat membikin seseorang menghindari hal-hal yang sebenarnya mau dilakukan. Rasa takut ini juga dapat disertai kecemasan dan respons emosional lainnya.
Setiap orang dapat memiliki aspek yang berbeda. Verywell Mind mengatakan beberapa hal yang dapat berpartisipasi dalam munculnya rasa takut gagal, seperti pola asuh yang sangat kritis, standar diri yang terlalu tinggi, pengalaman kegagalan sebelumnya, perfeksionisme, serta kecemasan.
Cara seseorang mendefinisikan kegagalan juga berpengaruh, Bunda. Untuk satu orang, tidak memperoleh hasil sesuai hajat mungkin dianggap sebagai bagiankecil dari proses. Sementara pada orang lain, hal yang sama bisa terasa seperti bukti bahwa dirinya tidak cukup pintar, tidak kompeten, maupun mengecewakan orang lain.
Penelitian juga memberitahu adanya hubungan antara perfeksionisme, fear of failure, dan respons emosional terhadap kegagalan. Pada riset terhadap atlet, kecemasan terhadap kesalahan dan tekanan dari orang tua berhubungan dengan rasa takut mengalami malu maupun dipermalukan setelah gagal.
Takut gagal tidak selalu berarti seseorang tidak percaya diri
Menariknya, orang yang takut gagal tidak selalu kelihatan sebagai orang yang tidak punya ambisi. Sebaliknya, mereka bisa saja memiliki keinginan berprestasi yang sangat besar.
Justru karena hasil dianggap sangat krusial untuk harga dirinya, kegagalan menjadi sesuatu yang terasa mengancam.
Penelitian memberitahu bahwa ketika seseorang terlalu mengaitkan harga dirinya dengan pencapaian tertentu, kegagalan dapat memberikan akibat emosional yang lebih besar.
Jadi, seseorang bisa kelihatan sangat mau berhasil sekaligus sangat takut gagal.
Bagaimana metode mengatasi rasa takut gagal?
Menurut Psychology Today, salah satu cara mula adalah mengakui bahwa rasa takut tersebut memang ada, kemudian membicarakannya dengan orang yang dipercaya.
Dengan mengungkapkan rasa takut, seseorang bisa lebih gampang menyadari bahwa yang sedang dihadapi bukan cuma 'takut gagal', tetapi bisa juga rasa malu, takut mengecewakan orang lain, maupun takut dianggap tidak mampu.
Langkah berikutnya adalah memusatkan perhatian pada hal-hal yang memang eksis dalam kendali.
Misalnya, Bunda tidak bisa mengendalikan apakah lamaran pekerjaan akan diterima. Namun, Bunda bisa mengendalikan persiapan CV dengan sebaik-baiknya, mencari keterangan tentang perusahaan, berlatih wawancara, dan mengirimkan lamaran.
Bunda juga dapat mencoba mengubah arti kegagalan. Tidak berhasil mencapai hasil yang diinginkan bukan selalu berarti seluruh upaya sia-sia. Dari sebuah percobaan, seseorang statis bisa mendapatkan pengalaman, informasi, dan keahlian baru.
Jika ketakutan terasa sangat kuat dan sulit dikendalikan, berkonsultasi dengan psikolog maupun ahli kesehatan mental dapat membantu mencari tahu apa yang sebenarnya eksis di balik rasa takut tersebut.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)