Teks Khotbah Jumat: Jangan Lupa Tentang Darimana Datangnya Musibah

Akidah dan Sunnah oleh Waktu baca 4 menit 590x dilihat
Teks Khotbah Jumat: Jangan Lupa Tentang Darimana Datangnya Musibah

Bagikan Postingan

Khotbah pertama

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ  وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ له وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ المُصْطَفَى وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِ

قال الله تعالى فى كتابه الكريم

يا ايها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون.

يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا

يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما

أما بعد

Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan mentari sebagai sumber sinar dan kehangatan, menjadikan waktu melangkah sehingga kesedihan terlupakan, dan yang telah memberikan nikmat ketaatan sehingga kita semua dapat berkumpul di hari Jumat ini untuk beragama kepada Allah sang pencipta.

Khatib beramanat untuk senantiasa membekali diri dengan ketakwaan, menghiasinya dengan kebaikan dan adab mulia, serta memoles hati untuk senantiasa dipenuhi dengan husnuzhan lillah.

Para jemaah rahimakumullah!

Adakalanya kita merasa diri ini terus mendapatkan ujian dan cobaan. Padahal, bisa jadi itu adalah karena kezaliman kita. Adakalanya kita merasa orang lain menjadi karena kegagalan hidup kita. Padahal, bisa jadi itu karena kelalaian kita. Seorang muslim memandang sebuah musibah sebagai arena muhasabah, bukan sebagai ranah menunjuk muka.

Ketika seorang muslim tertimpa bencana, dia tidak salahkan tanah yang bergolak alias lautan yang meriak. Namun, seorang muslim tahu keadaan ini semua sebagai jawaban atas dirinya yang penuh kekurangan.

Mengapa seorang korban kudu mengevaluasi dirinya?

Ketika seseorang terkena musibah, banyak orang bijak mengingatkan kita untuk beristigfar. Mengapa perintah pertama ketika seseorang ditimpa musibah adalah beristigfar? Hal ini lantaran musibah sejatinya datang dari dosa dan maksiat kita. Allah ﷻ berfirman,

وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا۟ عَن كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah mengampuni sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)

Musibah mendorong kita untuk mengingat dosa yang telah kita perbuat dan atas itu, hendaknya kita memohon maaf kepada Allah ﷻ.

Cobalah ketika Allah timpakan sebuah takdir yang tidak mengenakkan bagi diri kita, perihal pertama yang dilakukan adalah mengevaluasi diri sendiri.

Jangan sampai lisan kita lebih dulu mengatakan, “Ya Allah! Apa dosa saya sampai Engkau buat diriku begini?”

Ketahuilah! Ini adalah perkataan yang mengandung keangkuhan. Kita sudah pasti melakukan dosa. Adapun ibadah kita, belum tentu diterima oleh Allah ﷻ. Tentulah musibah itu datang di antaranya lantaran dosa-dosa kita.

Kita bukan salaf yang sedikit dosanya

Kita bukanlah para salaf yang saleh itu. Mereka bisa tahu musibah ini datangnya dari dosa yang mana lantaran sedikitnya dosa yang mereka perbuat.

Ibnu Sirin rahimahullah berkata,

إِنِّيْ لَأَعْرِفُ الذَّنْبَ الَّذِي حُمِّلَ بِهِ عَلَيَّ الدَّيْنُ مَا هُوَ. قُلْتُ لِرَجُلٍ مُنْذُ أَرْبَعِيْنَ سَنَةٍ: يَا مُفْلِسُ

“Aku sungguh mengetahui dosa yang menyebabkan saya kudu berhutang seperti ini. Aku pernah berbicara kepada seseorang sejak 40 tahun yang lalu, “Wahai orang yang rugi.” (Hilyatul Auliya dan Shifatus Shafwah)

Lihatlah Ibnu Sirin rahimahullah, dia bisa mengetahui dosa mana yang menjadi penyebab musibahnya. Apa penyebabnya?

Abu Sulaiman rahimahullah berkata,

قَلَّتْ ذُنُوْبُهُمْ فَعَرَفُوْا مِنْ أَيْنَ يُؤْتُوْنَ وَكَثُرَتْ ذُنُوْبِيْ وَذُنُوْبُكَ فَلَيْسَ نَدْرِيْ مِنْ أَيْنَ نُؤْتَى

“Sedikitnya dosa mereka dan mereka mengetahui dari mana dosa itu datang. (Sedangkan) dosa-dosaku dan dosa-dosamu banyak, namun kita tidak mengetahui dari mana dosa-dosa itu datang.” (Shifatus Shafwah)

Subhanallah!

Momen Allah menginginkan kita masuk surga

Wahai jiwa yang lembut! Ketika Allah menakdirkan musibah, pikirkanlah bahwa ini adalah momen Allah menginginkan kita lebih mudah masuk surga.

Pernahkah Anda mendengar perkataan, “Enam puluh tahun berbareng pemimpin kejam itu lebih baik daripada satu hari tanpa pemimpin”? Apakah makna di kembali perkataan ini?

Imam Ibnu Abil Izz rahimahullah menjelaskan dalam Syarah Aqidah Thahawiyah bahwa perkataan ini mengandung hikmah yanag besar. Perkataan ini tidak hanya mengandung pesan tentang sungguh pentingnya kepemimpinan. Namun, dia juga mengingatkan bahwa di kembali musibah, selalu ada hikmah yang luar biasa.

Ketika sebuah masyarakat dipimpin oleh pemimpin zalim, justru itu menjadi jalan bagi masyarakat untuk berintrospeksi dan beristigfar kepada Allah ﷻ. Keadaan ditekan dan penuh kesulitan, mendorong seorang hamba untuk mendekat kepada Zat Yang Maha Kuat.

Kezaliman pemimpin tiada yang dapat menolaknya. Sebab kekuasaan dan kekuatan berkumpul padanya. Hanyalah Allah ﷻ yang dapat membatalkan kezaliman itu. Dialah Maha Daya dan Raja Diraja. Dialah yang bisa membalikkan keadaan kezaliman.

Oleh lantaran itu, ketika ditimpa kezaliman banget besar dari penguasa durjana, Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengingatkan,

إن الله إنما يُغيِّر بالتوبة، ولا يُغيِّر بالسيف

“Sesungguhnya Allah mengubah keadaan dengan tobat, bukan dengan pedang.” (Thabaqat Ibnu Saad)

Dengan pola pikir bahwa musibah itu datang atas perbuatan kezaliman kita, maka kita bakal mendapatkan pasokan tenaga untuk bersabar atasnya. Celaan manusia yang datang tidak bakal menyibukkan kita, karena kita menyadari bahwa diri kitalah sumber dan sarang musibah itu. Sehingga menjadi lebih mudah bagi kita untuk kembali mengadu kepada Allah ﷻ, satu-satunya Zat yang dapat mengampuni dosa dan mengangkat musibah. Ketika kita kembali kepada Allah ﷻ, perihal tersebut pun diganjar dengan pahala dan dihindarkan dari keburukan. (Syarah Aqidah Thahawiyah)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khotbah kedua

الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى على محمد وعلى آله وأصحابه وأخوانه

Para jemaah rahimakumullah!

Ketika Allah ﷻ timpakan musibah kepada kita, maka pertama kali ingatlah bahwa itu semua disebabkan oleh dosa-dosa kita sendiri. Kedua, jangan mengira bahwa ini adalah hantaman untuk menjebloskan kita ke neraka. Husnuzhan-lah kepada Allah ﷻ. Justru musibah ini menjadi jalan bagi kita untuk lebih dekat dengan surga Allah ﷻ.

Perhatikanlah sabda dari Shuhaib, Rasulullah ﷺ bersabda,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan keadaan (urusan) seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati selain pada diri seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, dia pun bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, dia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات

ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب

اللهم ارنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وارنا الباطل باطل وارزقنا اجتنابه

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Baca juga: Di Balik Musibah yang Menimpa

***

Penulis: Glenshah Fauzi

Artikel Kincai Media

Artikel Lainnya Akidah dan Sunnah
↑
Close Right Ads
Close Left Ads