Terjadi Lagi, Dokter Di Belanda Gunakan Sperma Sendiri Untuk Program Ivf Pasiennya

Jul 19, 2026 09:35 PM - 19 jam yang lalu 940

Jakarta -

Seorang master kandungan diketahui melakukan pelanggaran etik dalam program bayi tabung (IVF). Dokter di Belanda ini menggunakan spermanya sendiri untuk  membuahi pasiennya tanpa sepengetahuan mereka saat perawatan kesuburan.

Haga Hospital mengonfirmasi bahwa master tersebut adalah Dr. Ed Goormans, yang pernah menangani pasien di Leyenburg Hospital, Den Haag pada awal 1970-an hingga 1986.

Kasus ini menambah daftar master fertilitas di Belanda yang diketahui menggunakan spermanya sendiri dalam program fertilisasi alias IVF tanpa persetujuan pasien. Sebelumnya nama Jan Karbaat, Jan Wildschut, dan Jos Beek juga pernah mencuat dalam kasus serupa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Awal mula terungkapnya kasus ini

Melansir NL Times, Goormans sebenarnya pernah dicurigai melakukan kecurangan dalam prosedur fertilisasi ketika tetap bekerja di Leyenburg Hospital. Namun, penyelidikan pada saat itu tidak menemukan bukti bahwa dia menggunakan spermanya sendiri.

Sembilan tahun lalu, Goormans secara sukarela menyerahkan sampel DNA kepada Fiom, organisasi di Belanda yang membantu anak hasil donor mengetahui asal-usul biologis mereka. Berdasarkan kesepakatan, identitas Goormans bakal tetap dirahasiakan.

"Saat itu, itu satu-satunya langkah bagi kami untuk mengamankan DNA-nya. DNA kudu diberikan secara sukarela, kami tidak dapat memaksa siapa pun," kata kepala Fiom, Ellen Giepmans, kepada Omroep West. 

Fiom setuju dengan Goormans bahwa identitasnya bakal tetap dirahasiakan jika terjadi kecocokan. Pada 2022 ditemukan dua kecocokan DNA yang menunjukkan bahwa Goormans merupakan ayah biologis dari dua anak. Namun, kedua anak tersebut belum diberi tahu lantaran adanya perjanjian kerahasiaan.

Setelah Goormans meninggal dunia, Haga Hospital berbincang dengan family master tersebut. Pihak family kemudian menyetujui agar identitas biologis kedua anak tersebut diungkapkan. Rumah sakit pun menghubungi mereka dan menyampaikan permintaan maaf atas tindakan yang dilakukan Goormans.

Direktur Haga Hospital, Peter van der Meek, mengakui proses tersebut menyantap waktu terlalu lama. "Sejauh yang saya ketahui, ini betul-betul menyantap waktu terlalu lama, dan saya sangat menyesalinya," katanya.

Rumah sakit membuka penyelidikan

Haga Hospital sekarang menunjuk guru besar emeritus Didi Braat untuk memimpin penyelidikan independen mengenai praktik yang dilakukan Goormans selama menangani pasien program fertilitas.

Rumah sakit juga meminta siapa pun yang pernah menjalani perawatan kesuburan oleh Goormans alias menduga dirinya merupakan anak biologisnya agar menghubungi tim unik yang telah dibentuk.

Rumah sakit mempunyai tim telepon yang siap siaga untuk pihak-pihak yang berpotensi terlibat. "Kami tidak tahu apa yang bakal terjadi, tetapi kami mau telepon selalu dijawab ketika orang menelepon," kata Van der Meek.

Hingga sekarang belum diketahui berapa banyak pasien yang mungkin terdampak.

Mengapa kasus ini menjadi perhatian?

Pada program IVF, sel telur dibuahi oleh sperma di laboratorium. Sperma dapat berasal dari pasangan maupun donor sesuai indikasi medis dan hanya boleh digunakan berasas persetujuan pasien.

Menggunakan sperma master sendiri tanpa sepengetahuan pasien merupakan pelanggaran etik yang serius lantaran melanggar kewenangan pasien untuk memberikan persetujuan berasas info yang komplit (informed consent).

Tindakan tersebut selain berakibat pada orang tua, juga dapat memengaruhi kewenangan anak untuk mengetahui asal-usul biologisnya.

Menurut tinjauan ilmiah yang dipublikasikan di jurnal Human Reproduction, keterbukaan mengenai identitas donor dinilai penting, baik untuk argumen psikologis maupun sebagai info medis di masa depan.

Belanda pernah menjadi sorotan mengenai donor sperma

Kasus ini bukan pertama kalinya menjadi perhatian mengenai jasa fertilitas di Belanda. Sebelumnya, pengadilan di Den Haag memerintahkan seorang donor sperma berjulukan Jonathan Meijer berakhir mendonorkan spermanya setelah diketahui menjadi ayah biologis lebih dari 500 anak. 

Pengadilan menilai kondisi tersebut meningkatkan akibat terbentuknya jaringan kekerabatan yang sangat besar sehingga dikhawatirkan dapat memicu hubungan sedarah tanpa disadari.

"Intinya adalah bahwa jaringan kekerabatan dengan ratusan kerabat tiri ini terlalu besar," kata ahli bicara pengadilan, Gert-Mark Smelt.

Hakim pengadilan Den Haag, Thera Hesselink, mengatakan dalam pengadilan bahwa Jonathan menyumbangkan spermanya kepada calon orang tua baru setelah putusan ini dikeluarkan pada 2017 lalu. Dalam aksinya, dia mendusta mengenai info penting, termasuk jumlah anak dari sperma yang dia donorkan.

"Semua orang tua ini sekarang dihadapkan pada realita bahwa anak-anak dalam family mereka adalah bagian dari jaringan kekerabatan yang besar, dengan ratusan kerabat tiri, yang tidak mereka pilih," katanya.

Kasus master yang menggunakan spermanya sendiri tanpa persetujuan pasien juga pernah menginspirasi movie dokumenter Netflix, Our Father, yang mengangkat kisah nyata Donald Cline, master fertilitas di Amerika Serikat yang diam-diam menggunakan spermanya sendiri untuk menghamili puluhan pasien.

Kasus di Belanda ini kembali menjadi pengingat bahwa keberhasilan program bayi tabung tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga kepercayaan antara master dan pasien. Transparansi, persetujuan tindakan medis (informed consent), serta perlindungan kewenangan anak dan family menjadi prinsip krusial dalam jasa reproduksi berbantu.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Selengkapnya