Kincai Media, Rezeki dalam perspektif Islam tidak semata-mata diukur dari banyaknya kekayaan yang dimiliki. Rezeki juga mencakup keberkahan, kesehatan, ketenteraman hati, kesempatan melakukan baik, serta faedah yang dapat diberikan kepada sesama.
Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Majelis Pembina Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sekaligus Associate Professor Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UHAMKA, Faozan Amar saat menyampaikan khutbah Jumat di Masjid At-Tanwir PP Muhammadiyah, Jakarta.
Dalam khutbahnya, Faozan menjelaskan, terdapat tiga sikap krusial yang dapat menjadi jalan bagi seorang Muslim dalam menjemput kelapangan rezeki. Ketiganya adalah tekun bekerja dan berusaha, bertawakal kepada Allah SWT, serta doyan bersedekah.
Menurut Faozan, Islam tidak mengajarkan umatnya hanya bermohon tanpa disertai ikhtiar. Alquran justru mendorong manusia untuk bekerja dan mencari karunia Allah SWT.
Ia mengutip firman Allah dalam QS al-Jumu’ah Ayat 10 yang memerintahkan orang-orang beragama untuk bertebaran di muka bumi setelah menunaikan shalat dan mencari karunia Allah.
“Setelah shalat, Allah memerintahkan kita untuk bertebaran di muka bumi dan mencari karunia-Nya. Ini menunjukkan bahwa ibadah dan ikhtiar ekonomi tidak boleh dipisahkan,” ujar Faozan.
Tawakal Bukan Berarti Berdiam Diri
Selain bekerja dan berusaha, seorang Muslim juga kudu membangun sikap tawakal. Faozan mengingatkan bahwa tawakal tidak berfaedah menyerah alias berakhir berusaha.
Ia mengutip sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Umar bin Khattab. Nabi Muhammad SAW berfirman bahwa seandainya manusia bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah bakal memberikan rezeki kepada mereka sebagaimana burung diberi rezeki. Burung keluar pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang.
Menurut Faozan, sabda tersebut memberikan pesan bahwa tawakal selalu melangkah berbareng ikhtiar.
“Burung saja keluar dari sarangnya untuk mencari rezeki. Karena itu, tawakal bukan berfaedah berakhir berusaha. Tawakal adalah bekerja dengan sungguh-sungguh, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa manusia mempunyai tanggungjawab untuk merencanakan, bekerja, meningkatkan kompetensi, serta memanfaatkan kesempatan yang tersedia. Namun, hasil akhirnya tetap berada dalam ketentuan Allah SWT.
Karena itu, keberhasilan ekonomi tidak semestinya membikin seseorang menjadi sombong. Sebaliknya, kegagalan tidak boleh membikin seorang Muslim kehilangan harapan.
“Ketika rezeki lapang, kita bersyukur. Ketika rezeki terasa sempit, kita tetap berupaya dan tidak berputus asa. Allah mengetahui waktu dan ukuran yang terbaik bagi setiap hamba-Nya,” ujar Faozan.
Sedekah Membuka Pintu Keberkahan
Faozan juga mengingatkan jamaah agar membangun kebiasaan berbagi melalui infak dan sedekah. Menurut dia, infak bukan hanya corak kepedulian kepada sesama, tetapi juga bagian dari upaya menghadirkan keberkahan dalam kehidupan.
Ia mengutip QS Saba Ayat 39 yang menegaskan bahwa apa saja yang diinfakkan di jalan Allah, Dia bakal menggantinya.
Faozan juga mengutip sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Abu Hurairah, "Mā naqaṣat ṣadaqatun min māl (Sedekah tidaklah mengurangi harta)”
Menurut Faozan, sabda tersebut tidak kudu dipahami secara sempit bahwa setiap kekayaan yang disedekahkan bakal kembali dalam jumlah yang sama dan dalam waktu seketika.
“Kelapangan rezeki tidak selalu berbentuk bertambahnya nomor di rekening. Rezeki juga bisa berupa kesehatan, ketenteraman, hubungan sosial yang baik, terbukanya peluang, dan keberkahan dalam kehidupan,” tuturnya.
Ia menambahkan, infak mempunyai dimensi sosial yang kuat. Harta yang dikeluarkan untuk membantu orang lain dapat memperkuat solidaritas, memperluas kemanfaatan, sekaligus membantu mengurangi kesenjangan sosial di tengah masyarakat.
Karena itu, Faozan membujuk jamaah membangun keseimbangan antara ikhtiar, tawakal, dan berbagi.
“Jangan hanya bermohon agar pintu rezeki dibuka. Kita juga kudu bergerak mengetuk pintu-pintu ikhtiar yang halal. Setelah itu, bertawakal dan jangan lupa berbagi,” katanya.
Faozan menyimpulkan, bekerja tanpa tawakal dapat mendorong seseorang terjebak dalam kesombongan. Sebaliknya, tawakal tanpa ikhtiar dapat berubah menjadi kemalasan. Sementara kekayaan yang tidak disertai kepedulian sosial berpotensi kehilangan dimensi keberkahannya.
“Semoga kita menjadi hamba yang tekun bekerja, betul dalam bertawakal, ringan tangan dalam bersedekah, serta memperoleh rezeki yang halal, cukup, luas, dan penuh keberkahan,” kata Faozan.