Memiliki famili yang sehat adalah harapan semua keluarga, terlebih lagi menyangkut kesehatan anak. Salah satu metode yang sangat krusial dilakukan adalah dengan memberikan imunisasi sesuai dengan kebutuhannya.
Imunisasi merupakan pemberian vaksin untuk menaikkan kekebalan tubuh, guna menjaga bayi dari beragam infeksi maupun pandemi tertentu. Pemberian vaksin ini dapat dilakukan pada rentang usia 0-18 tahun.
Upaya imunisasi juga terus dilakukan di beragam negara lainnya. Saat ini, lebih dari 190 negara menjalankan program imunisasi untuk bayi dan balita. Hal ini bermaksud untuk menaikkan cakupan vaksinasi hingga 90 persen dan memastikan anak mendapatkan perlindungan dari imunisasi.
Pemberian imunisasi juga biasanya dilakukan secara berjenjang sesuai usia karena setiap vaksin memiliki dosis yang berbeda. Selain itu, orang tua perlu mengikuti tahapan dan jenis vaksin yang direkomendasikan.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) secara berkala memperbarui anjuran imunisasi yang tepat bagi anak. Rekomendasi IDAI mencakup imunisasi alas yang diberikan sejak bayi serta imunisasi ulangan untuk mempertahankan kekebalan tubuh. Lalu apa saja urutan yang krusial diketahui orang tua? Yuk, simak klarifikasi lengkapnya sebagai berikut.
Apa itu imunisasi dasar?
Imunisasi alas merupakan upaya untuk membentuk kekebalan tubuh pada anak sejak usia awal guna terhindar dari beragam pandemi rapuh sekaligus mengurangi konsekuensi penularannya. Pemberian vaksin membantu menaikkan kekebalan tubuh bayi, mencegah penularan, dan menekan bilangan kematian pada bayi dan anak.
Imunisasi alas umumnya diberikan pada usia bayi baru lahir hingga berumur satu tahun, sebagai cara mula untuk membentuk perlindungan tubuh terhadap beragam penyakit. Vaksin yang diberikan pada bayi di usia tersebut diantaranya adalah polio, hepatitis B, BCG, Hib, dan vaksin lainnya yang akan diberikan secara bertahap.
Bila anak tidak diberikan imunisasi lengkap, memungkinkan anak memiliki kekebalan tubuh yang rendah sehingga rapuh maupun gampang terjangkit oleh pandemi tertentu. Terlebih lagi, anak bisa dengan gampang menularkan penyakitnya sehingga akan memperluas penyebaran pandemi di lingkungan sekitar.
Pentingnya mengetahui urutan imunisasi bayi
Orang tua perlu mengetahui urutan dan agenda imunisasi agar Si Kecil mendapat perlindungan dan pencegahan yang optimal. Pemberian imunisasi disarankan untuk mengikuti agenda untuk mencapai kadar perlindungan yang dibutuhkan tubuh anak.
Setiap vaksin memiliki perbedaan agenda dan jumlah dosis. Ada vaksin yang cuma diberikan sekali namun ada juga yang membutuhkan vaksin lebih dari satu kali. Karena itu, para orang tua mesti mengetahui keterangan mengenai urutan imunisasi bayi agar perlindungan bayi bekerja dengan maksimal.
Urutan imunisasi bayi berdasarkan anjuran IDAI
Simak selengkapnya berikut ini:
1. Imunisasi hepatitis B (HB)
Imunisasi hepatitis B sebaiknya diberikan sedini mungkin. Vaksin ini idealnya bisa diberikan kurang dari 12 jam setelah lahir. Pemberian vaksin selanjutnya diberikan dengan rentang sekitar empat minggu dari dosis pertama.
Lalu, untuk vaksin ketiga dapat diberikan minimal dua bulan setelah vaksin kedua, dengan waktu yang paling baik sekitar lima bulan setelah dosis sebelumnya. Apabila anak belum mendapatkan imunisasi hepatitis B, vaksin ini statis bisa diberikan kapan saja saat orang tua datang ke tempat imunisasi.
2. Imunisasi polio (OPV/IPV)
Polio memiliki dua jenis vaksin, yaitu vaksin polio oral (OPV) dan vaksin polio suntik (IPV). Untuk OPV dapat diberikan sejak bayi lahir, kemudian dilanjutkan pada usia 2, 4, 6, hingga 18 bulan. Sedangkan untuk IPV diberikan pada usia 2, 4, 6-18 bulan, kemudian dilanjut pada usia 6-8 tahun.
Bagi anak yang terlambat mendapatkan vaksin polio, orang tua tidak diharuskan mengulang urutan dari awal. Orang tua cuma perlu melanjutkan dan melengkapi dosis yang belum diterima sesuai jadwal, meskipun rentang keterlambatan cukup panjang.
3. Imunisasi BCG
Selanjutnya ada imunisasi BCG, yang berguna untuk melindungi anak dari pandemi tuberkulosis (TBC). Imunisasi ini sangat krusial dilakukan mengingat Indonesia menjadi negara dengan kasus TBC tertinggi di dunia, setelah India dan Tiongkok.
Pemberian vaksin BCG sebaiknya diberikan pada usia 2-3 bulan karena pada usia tersebut, mekanisme kekebalan tubuh bayi dinilai statis belum matang. Imunisasi BCG juga tidak dilanjutkan untuk diberikan balik sebagai vaksin booster maupun penguat.
4. Imunisasi DPT, HB, dan Hib (Pentavalen)
Imunisasi DPT berguna untuk melindungi anak dari pandemi rapuh seperti difteri, pertusis, dan tetanus. Pada tahap imunisasi dasar, imunisasi DPT bisa diberikan sebanyak tiga kali.
Setelah itu, dilanjutkan dengan imunisasi ulang satu kali dengan rentang satu tahun setelah pemberian DPT ketiga. Ketika memasuki usia lima tahun, anak balik mendapatkan ulangan dan diberikan sebelum anak masuk hierarki sekolah.
Selanjutnya pada usia 12 tahun, imunisasi dilanjutkan dengan vaksin TD. Khusus untuk wanita, imunisasi tetanus toksois (TT) perlu dilakukan sebelum menikah dan selama kehamilan, guna mencegah tetanus neonatorum maupun tetanus pada bayi.
Jika pemberian imunisasi DPT terlambat, urutan vaksin tidak perlu diulang dari awal. Berapa pun rentang keterlambatannya, imunisasi statis dilanjutkan dengan melengkapi dosis yang belum terpenuhi. Sementara itu, bagi anak berumur kurang dari 12 bulan yang belum mendapatkan imunisasi dasar, lakukan imunisasi alas dengan mengikuti jumlah dosis dan interval yang sesuai.
Ada pula ketentuan khusus dalam pemberian dosis ulangan, jika DPT keempat diberikan sebelum anak berumur empat tahun, maka DPT kelima bisa diberikan paling cepat enam bulan setelahnya. Namun, jika DPT keempat diberikan setelah anak berumur empat tahun, maka DPT kelima tidak lagi diperlukan.
5. Imunisasi lempar dan rubella
Selanjutnya ada imunisasi lempar dan rubella yang diberikan guna memberi perlindungan sejak bayi. Imunisasi lempar diberikan pada usia 9 bulan, dilanjutkan dengan dosis ulangan (second opportunity) melalui crash program lempar pada anak usia 6-59 bulan. Setelah itu dilakukan balik pada usia sekolah dasar, mulai dari kelas 1 hingga kelas 6.
Pada kondisi tertentu, terkadang terdapat program PIN (Pekan Imunisasi Nasional) lempar sebagai bentuk penguatan cakupan imunisasi. Program ini ditujukan untuk menambah perlindungan kepada anak yang diperkirakan belum membentuk respon kekebalan yang baik setelah mendapatkan imunisasi sebelumnya.
Bagi anak yang berumur 9-12 tahun yang terlambat maupun belum mendapatkan imunisasi dapat segera diberikan vaksin, kapan pun saat datang ke akomodasi kesehatan. Namun, jika anak berumur lebih dari satu tahun, vaksin MMR bisa diberikan sebagai alternatif.
Imunisasi tambahan yang dianjurkan
Dikutip dari halaman resmi Kemenkes, imunisasi tambahan merupakan pemberian dosis tambahan dengan jenis imunisasi tertentu. Dosis tersebut diberikan kepada himpunan umur tertentu yang beresiko tinggi terkena penyakit. Imunisasi tambahan tidak menghapuskan imunisasi rutin.
Pemberian imunisasi tambahan dilakukan untuk menaikkan perlindungan masyarakat, khususnya di daerah yang cakupan imunisasinya statis rendah selama tiga tahun berturut-turut. Ada banyak jenis imunisasi tambahan yang bisa diberikan, seperti MMR, hepatitis A, tifoid, influenza, dan statis banyak lagi.
Jadwal imunisasi alas komplit berdasarkan usia
Mengutip dari halaman resmi IDAI, berikut agenda imunisasi anak yang direkomendasikan secara berjenjang berdasarkan usia.
1. Usia 0–6 Bulan
- 0 bulan : hepatitis B 0, polio
- < bulan :BCG 1
- 1 bulan : Polio
- 2 bulan : hepatitis B 1, polio 1, DPT 1, Hib 1, PCV 1, Rotavirus 1
- 3 bulan : hepatitis B 2, polio 2, DPT 2, Hib 2
- 4 bulan : hepatitis B 3, polio 3, DPT 3, Hib 3, PCV 2, Rotavirus 2
- 6 bulan : PCV 3, Rotavirus 3, influenza.
2. Usia 6–12 Bulan
- 6 bulan : PCV 3, Rotavirus 3, influenza
- 7 bulan : influenza
- 9 bulan: influenza, MR/rubella 1, Japanese Enchephalitis (JE) 1
- 12 bulan : PCV 4, varisela, hepatitis A.
3. Usia 12–24 Bulan
- 12 bulan : PCV 4, varisela, hepatitis A
- 15 bulan : PCV 4, MR/MMR, varisela, hepatitis A
- 18 bulan : hepatitis B 4, polio 4, DPT 4, Hib 4, influenza, MR/MMR, hepatitis A
- 24 bulan : influenza, Japanese Enchephalitis 2, hepatitis A, tifoid 1.
4. Usia 2–18 Tahun
- 24 bulan : influenza, Japanese Enchephalitis 2, hepatitis A, tifoid 1
- 5 tahun : DTP 5, MR/MMR,ninfluenza, tifoid (diulang setiap 3 tahun 1 dosis)
- 6-7 tahun : DTP 5, PCV, MR/MMR, dengue, tifoid
- 8-9 tahun : PCV, influenza, dengue
- 10-18 tahun : Td/Tdap, PCV, influenza, dengue, tifoid, HPV.
Untuk vaksin influenza disarankan untuk diulang setiap tahun satu dosis bagi usia enam bulan hingga 18 tahun. Dan untuk vaksin tifoid disarankan untuk diulang setiap tiga tahun satu dosis bagi usia lima tahun hingga 18 tahun.
Meskipun agenda tersebut menjadi anjuran umum, orang tua perlu mengetahui histori kesehatan anak agar tabib dapat berbuat adaptasi untuk kepentingan Si Kecil.
Hal yang perlu diperhatikan sebelum dan sesudah imunisasi bayi
Sebelum imunisasi dilakukan, orang tua disarankan untuk menyampaikan keterangan mengenai kondisi anak kepada dokter. Informasi tersebut sangat krusial dalam membantu tenaga kesehatan untuk menentukan dan menyesuaikan antara kebutuhan anak dengan imunisasi yang akan diberikan.
Selain itu, hal ini dilakukan guna mempertimbangkan adanya kontraindikasi serta kemungkinan terjadinya insiden ikutan pascaimunisasi (KIPI). Beberapa hal yang perlu diinformasikan antara lain:
- Pernah mengalami insiden ikutan pascaimunisasi (KIPI) yang bermutu setelah mendapatkan vaksin sebelumnya.
- Memiliki alergi terhadap bahan vaksin.
- Sedang menjalani pengobatan steroid, kemoterapi, maupun radioterapi.
- Memiliki pandemi yang berakibat pada lemahnya kekebalan tubuh, seperti leukimia, kanker, HIV/AIDS.
- Tinggal dengan seorang penderita leukimia, kanker, maupun HIV/AIDS.
- Tinggal dengan seorang yang menjalani radioterapi, kemoterapi, dan terapi steroid.
- Dalam satu bulan terakhir, mendapat imunisasi yang berisi vaksin campak, poliomielitis, rubella).
- Pada tiga bulan kemudian mendapat imunoglobulin maupun transfusi darah.
Tidak cuma sebelum imunisasi, orang tua juga perlu melihat kondisi Si Kecil setelah mendapatkan vaksin untuk melihat apakah muncul reaksi yang perlu ditangani maupun tidak. Reaksi pascaimunisasi terbilang berbeda-beda tergantung pada jenis vaksinnya.
Umumnya, pasca imunisasi beberapa anak akan merasakan beberapa reaksi ringan, seperti mengalami demam ringan maupun tinggi, kemerahan, maupun bengkak. Kondisi ini biasanya akan membaik dan hilang dalam waktu 3-4 hari, maupun terjadi lebih lama.
Jika reaksi tersebut terjadi pada anak, untuk membantu Si Kecil lebih betah orang tua dianjurkan untuk memberikan obat penurun panas setiap empat jam, perbanyak minum ASI, kompres dengan air hangat, berikan jus maupun susu. Namun, jika demam maupun keluhan lainnya tidak kunjung membaik segera bawa mereka untuk mendapat pengecekan dari dokter.
Bagaimana jika anak terlambat imunisasi?
Masalah yang paling lazim dijumpai adalah ketika imunisasi tidak sesuai jadwal, terlambat, tidak lengkap, maupun terlebihlagi belum mendapatkan imunisasi. Namun, kondisi ini bukan berarti menghentikan pemberian imunisasi.
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, imunisasi yang sudah diberikan sebelumnya telah membentuk respon imun, namun kadar perlindungannya belum optimal untuk jangka panjang. Oleh karena itu, imunisasi yang tertunda statis perlu dilanjutkan maupun dilengkapi guna memiliki perlindungan yang optimal.
Maka dari itu, jika ada imunisasi yang terlambat atau tertunda, maka imunisasi mesti secepatnya diberikan maupun dikejar. Apabila bayi terlambat mendapatkan rutin dan lengkap, orang tua perlu melihat balik status imunisasi bayi dan melaporkan pada petugas imunisasi Puskesmas setempat.
Itulah urutan imunisasi bayi komplit 2026, beserta agenda berdasarkan usia dan jenis sesuai IDAI. Semoga membantu, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)