Jakarta -
Anak yang dibesarkan oleh orang tua terlalu kritis sering kali tumbuh dengan emosi bahwa dirinya mesti selalu menjadi sempurna. Sejak kecil, mereka terbiasa mendengar teguran maupun komentar tentang hal-hal yang dianggap kurang dari diri mereka.
Alih-alih mendapatkan apresiasi atas upaya yang dilakukan, mereka justru lebih sering diingatkan tentang kesalahan yang dibuat. Kondisi ini dapat membikin anak merasa tidak berguna dan kehilangan rasa percaya dirinya, Bunda.
"Kritik yang sering diterima di usia awal dapat menyulitkan seseorang untuk mempercayai diri sendiri, kata psikolog Seth J. Gillihan, PhD, dilansir Psychology Today.
"Tumbuh dewasa dengan orang tua yang sangat kritis dapat memiliki akibat jangka panjang," sambungnya.
Anak yang dibesarkan oleh oran tua yang terlalu kritis bisanya gampang dikenali dari metode dia bersikap. Apa saja tanda-tandanya?
Tanda anak dibesarkan oleh orang tua kritis
Bunda, simak 16 tanda anak-anak dibesarkan oleh orang tua yang terlalu kritis berikut ini ya:
1. Anak kesulitan mempercayai diri sendiri
Kritik terus-menerus di usia awal dapat meninggalkan kesan bahwa apa yang anak pikirkan, rasakan, maupun lakukan itu salah. Akibatnya, ia sering dihantui oleh keraguan terhadap diri sendiri, Bunda.
2. Anak ragu untuk menghadapi tantangan baru
Keraguan diri dan kurangnya kepercayaan diri membikin anak sulit untuk mempercayai kemampuannya dalam menghadapi tantangan baru. Ia sering kali memilih untuk bermain terlindungi dan tidak mau mencoba daripada memungut konsekuensi yang dianggapnya bisa gagal.
3. Anak sulit untuk bangkit balik setelah berbuat kesalahan
Anak yang dibesarkan oleh orang tua kritis sering kali sulit untuk bangkit balik setelah berbuat kesalahan, Bunda. Kesalahan dianggap sebagai kekurangan. Bahkan kesalahan sederhana pun dapat mengingatkan anak yang sudah dewasa pada semua kegagalan masa lalunya, dan rasa harga dirinya pun bisa turun karena hal tersebut.
4. Anak cenderung menjadi seorang perfeksionis
Upaya anak untuk menjadi sempurna bisa jadi tidak didorong oleh kebanggaan terhadap pekerjaannya. Mereka menjadi perfeksionis mungkin karena rasa takut akan berbuat kesalahan dan mengungkapkan ketidakmampuannya.
5. Anak membutuhkan waktu durasi untuk menyelesaikan suatu tugas
Anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan kritis dapat memakan waktu durasi untuk menyelesaikan tugas karena berupaya menghindari kesalahan. Mereka terlebihlagi mungkin melewatkan tenggat waktu karena upaya untuk membuatnya 'sempurna' justru mengganggu penyelesaian tugas.
6. Anak terus-menerus meminta maaf
Ada orang tua yang sering membikin anak-anaknya merasa bersalah saat berbuat sesuatu. Hal itu bisa membikin anak berasumsi bahwa orang lain akan melihatnya dengan metode yang sama.
"Ketika ada yang mengatakan bahwa 'kamu tidak perlu selalu mengatakan 'maaf', anak terlebihlagi mungkin akan statis melakukannya," ungkap Gillihan.
7. Sering merasa defensif
Anak sering kali diajari untuk sangat peka terhadap kemungkinan 'serangan' masalah, sehingga ia dapat melindungi diri sendiri. Hal itu dapat memicu reaksi defensif, yang mungkin membikin orang lain jengkel karena anak jadi selalu salah dalam menafsirkan sesuatu.
8. Kesulitan mempercayai orang lain
Kesulitan untuk mempercayai orang lain bisa muncul pada anak yang dibesarkan oleh orang tua kritis. Mereka gampang mencurigai orang lain, terlebihlagi saat orang tersebut mengungkapkan kasih sayang. Kecenderungan ini mungkin sangat kuat jika orang tua memberi pesan yang membingungkan dan gabung aduk, memperlakukan anak dengan baik di satu saat dan kemudian mengejutkan dengan kata-kata kasar di saat berikutnya.
9. Sulit untuk menanggapi pujian dengan serius
Ketika seseorang mengatakan sesuatu yang baik kepada Si Kecil, ia mungkin akan mencari metode untuk menangkisnya, dan sering kali dengan mengkritik diri sendiri. Sifat ini bisa muncul jika anak terbiasa dibesarkan dalam lingkungan yang kritis.
10. Anak mengalami banyak kecemasan sosial
Akibat tidak memercayai penilaian positif orang lain, anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua kritis sering kali takut akan penilaian maupun kritik yang ditujukan untuk mereka. Anak mungkin cemas akan mempermalukan diri sendiri, berbuat sesuatu yang memalukan di depan umum, maupun kelihatan kikuk dalam percakapan.
11. Anak menciptakan kritikus dalam pikirannya
Dampak buruk dari membesarkan anak dengan kritis adalah menciptakan kritikus dalam pikirannya. Suara orang tua yang kritis akan terinternalisasi dalam pikiran anak. Suara itu bisa muncul dalam percakapan batin, Bunda.
12. Anak rapuh terhadap depresi
Semua pikiran negatif dan rasa tidak bisa mampu muncul jika anak terus-menerus menerima kritik. Pada kasus yang parah, anak-anak ini bisa ikut mengkritik diri sendiri karena mengalami depresi, yang memicu spiral penurunan kondisi hati dan kebencian terhadap diri sendiri.
13. Anak cenderung kritis terhadap orang lain
Tumbuh dengan kritik membikin anak juga cenderung kritis terhadap orang lain. Ia merasa gampang melihat kesalahan orang lain, sehingga tak ragu untuk mengungkapkannya. Kritik ini bisa saja muncul sebagai pertahanan terhadap rasa rendah diri.
14. Hubungan dengan kerabat kandung sedang tegang
Perlakuan buruk dari orang tua sering kali berakibat pada hubungan kerabat kandung, termasuk kebiasaan mengkritisi anak-anak. Salah satu akibat paling buru adalah hilangnya rasa kepercayaan antar kerabat kandung.
15. Anak jadi terlalu banyak berpikir
Keraguan dan ketidakpercayaan diri membikin anak menghabiskan banyak waktu dalam pikirannya. Merek menganalisis, meninjau, dan mempertanyakan balik tentang diri sendiri. Pada satu momen, menghabiskan begitu banyak waktu dalam pikiran bisa membikin anak terputus dari 'tubuhnya' sendiri.
16. Anak merasa perlu membuktikan diri
Beberapa orang yang dibesarkan dengan banyak kritik diri akan mengembangkan pola-pola yang khas. Mereka bisa merasa 'tidak cukup pintar' maupun 'tidak cukup sukses'. Bila dibiarkan,, pola-pola tersebut bisa membikin anak merasa perlu membuktikan dirinya 'pintar' maupun 'sukses' hingga nekat menggunakan beragam cara.
Demikian 16 tanda anak yang dibesarkan oleh orang tua kritis. Semoga keterangan ini berguna ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)