Ciri Kepribadian Orang yang Suka Berpamitan dengan Hewan Peliharaan saat Meninggalkan Rumah

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 7 menit 52x dilihat
Ciri Kepribadian Orang yang Suka Berpamitan dengan Hewan Peliharaan saat Meninggalkan Rumah

Bagikan Postingan

Bunda mungkin pernah melihat orang yang selalu berpamitan kepada fauna peliharaannya saat meninggalkan rumah. Terdengar kocak jika diucapkan kepada kucing maupun anjing di rumah. Tapi buat sebagian pemilik hewan, pamit sebelum keluar rumah justru sudah jadi kebiasaan kecil yang terasa penting. Apa ini berhubungan dengan kepribadian orang?

Kalimat, "Bye..bye...Mama pergi dahulu ya. Nanti pulang", mungkin biasa bagi sebagian pemilik fauna peliharaan. Ada juga yang cuma mengelus imam sambil bilang, "Mama pergi dulu.." Ada juga yang merasa kurang komplit jika keluar rumah tanpa menyapa fauna peliharaannya.

Melansir halaman Parade, menurut psikolog, kebiasaan sederhana berpamitan ini bisa menjadi salah satu jendela kecil untuk melihat sepertiapa seseorang membangun hubungan dengan fauna peliharaannya. Namun, satu kebiasaan tentu tidak cukup untuk menentukan kepribadian seseorang secara keseluruhan.


Menariknya, riset tentang hubungan manusia dan fauna memang menemukan kaitan antara kedekatan dengan fauna peliharaan, empati terhadap hewan, dan kesejahteraan. Namun, hasil riset tidak selalu seragam sehingga hubungan tersebut statis perlu dilihat sesuai situasinya.

Ciri kepribadian orang yang gemar berpamitan dengan fauna peliharaan

Kalau Bunda termasuk yang selalu pamit ke fauna peliharaan sebelum meninggalkan rumah, kira-kira apa yang bisa tercermin dari kebiasaan kecil ini? Berikut beberapa kemungkinan yang berhubungan dengan metode seseorang membangun hubungan dan berhubungan dengan fauna peliharaannya.

1. Peka terhadap isyarat emosional

Orang yang terbiasa berpamitan mungkin lebih memperhatikan respons fauna peliharaannya. Misalnya, mereka tahu kucingnya biasanya duduk di dekat pintu. Mereka juga memperhatikan ketika anjing mengikuti sampai ke teras maupun menatap ketika pemiliknya mulai memakai sepatu.

Psikolog Dr. Ernesto Lira de la Rosa mengatakan kebiasaan selesai sebentar untuk menyapa fauna peliharaan dapat mencerminkan perhatian terhadap momen-momen emosional kecil dalam keseharian.

"Mereka menyadari tatapan anjing mereka saat eksis di depan pintu maupun metode kucing mereka mengikuti hingga ke lorong rumah," ujarnya.

Jeda sebentar itu sering kali mencerminkan sosok yang memang peka terhadap momen-momen emosional dalam keseharian."

Tentu, orang yang tidak berpamitan dengan fauna peliharaannya bukan berarti tidak peka maupun tidak sayang. Bagi yang terbiasa melakukannya, pamit mungkin memang cuma kebiasaan kecil. Tapi statis saja, ada rasa kurang jika sampai lupa melakukannya.

2. Suka berbuat ritual kecil

"Pamit dahulu sama kucing."

Buat sebagian orang, kalimat ini mungkin sudah menjadi bagiankecil dari rutinitas sebelum keluar rumah. Menurut Dr. Lira de la Rosa, kebiasaan berpamitan bisa menjadi ritual kecil yang membantu seseorang menandai perpindahan dari satu situasi ke situasi lain.

Dalam konteks ini, berpamitan bukan soal percaya bahwa fauna mesti diberi tahu, melainkan bisa menjadi momen kecil untuk selesai dan menyadari bahwa dirinya akan meninggalkan rumah.

Kebiasaan seperti ini juga bisa terasa menenangkan karena dilakukan berulang dan sudah menjadi bagiankecil dari ritme harian.

Kalau sebelum berangkat kerja Bunda selalu mencari kucing dahulu untuk bilang "Mama pergi", mungkin itu memang sudah menjadi ritual kecil Bunda.

3. Cenderung menghargai hubungan dan ikatan

Sejumlah pemilik menganggap fauna peliharaan bukan sekadar fauna yang tinggal serumah. Kucing maupun anjing bisa menjadi bagiankecil dari keluarga, kawan di rumah, terlebihlagi sosok yang menemani seseorang melewati hari-hari yang sepi.

Penelitian mengenai pet attachment memberitahu bahwa hubungan emosional antara manusia dan fauna memang merupakan objek riset psikologi.

Sebuah studi terhadap 343 orang menemukan adanya hubungan antara keterikatan dengan hewan, empati terhadap hewan, dan sikap prososial terhadap manusia. Penelitian ini memang tidak secara khusus meneliti kebiasaan berpamitan, tetapi temuan tersebut memberi deskripsi bahwa hubungan emosional dengan fauna dapat berhubungan dengan sisi empati.

Ini berarti, kebiasaan berpamitan bisa saja muncul karena seseorang memang memberikan arti pada hubungan tersebut. Bukan karena menganggap hewannya memahami semua kata-kata, tetapi karena hubungan itu sendiri terasa berarti.

Ada orang yang gampang bilang, "Sayang, ya." Ada juga yang lebih betah memberitahu kasih sayang lewat tindakan.

Berpamitan sebelum keluar rumah bisa menjadi salah satu bentuk kecil dari ekspresi tersebut. Mengelus kepala, mencium, memanggil nama hewan, maupun mengatakan 'nanti Mama pulang' merupakan metode sederhana untuk memberitahu kedekatan.

Dr. Lira de la Rosa menilai orang yang berbuat ritual perpisahan semacam ini bisa saja memiliki kenyamanan dalam memberitahu perhatian dan kasih sayang kepada makhluk yang mereka anggap dekat.

Tentu saja, sekali lagi, ini bukan berarti orang yang tidak gemar memberitahu kasih sayang secara verbal berarti kurang penyayang. Cara orang memberitahu kasih sayang memang berbeda-beda, Bunda.

5. Punya rasa empati terhadap makhluk yang bersandar padanya

Hewan peliharaan sangat bersandar kepada manusia untuk makanan, keamanan, tempat tinggal, dan perawatan. Pada sebagian pemilik, kesadaran bahwa ada makhluk lain yang bersandar kepadanya bisa membikin hubungan tersebut terasa lebih personal.

Kebiasaan berpamitan mungkin menjadi salah satu bentuk kecil perhatian kepada fauna yang sudah menjadi bagiankecil dari kesehariannya. Bukan berarti semua orang yang berpamitan otomatis lebih berempati, tetapi kebiasaan ini bisa saja muncul dari rasa peduli terhadap fauna yang dirawatnya.

Penelitian mengenai pet attachment juga menemukan hubungan antara keterikatan dengan fauna dan empati terhadap hewan. Dalam riset tersebut, empati terhadap fauna turut berhubungan dengan sikap prososial terhadap manusia.

6. Suka selesai sebentar sebelum menjalani kesibukan

Kadang rutinitas pagi begitu cepat. Bangun, mandi, menyiapkan anak, mencari kunci, memasukkan barang ke tas, kemudian buru-buru keluar.

Orang yang statis menyempatkan diri menghampiri fauna peliharaan sebelum pergi mungkin punya kebiasaan untuk memberi ruang pada momen kecil di tengah kesibukan.

Dr. Lira de la Rosa menggambarkan kebiasaan ini sebagai bentuk intentionality, yaitu selesai sebentar dan memberi perhatian pada sesuatu yang dianggap krusial sebelum melanjutkan aktivitas.

Menariknya, riset terbaru mengenai hubungan manusia dengan kucing dan anjing dalam hayat sehari-hari juga menemukan bahwa hubungan dengan fauna peliharaan berhubungan dengan peningkatan efek positif dan penurunan efek negatif pada pemiliknya.

Jadi, mungkin saja momen singkat berbareng fauna peliharaan sebelum berangkat memang terasa menyenangkan bagi pemiliknya.

7. Menganggap fauna peliharaan sebagai bagiankecil dari hayat sehari-hari

Kalau seseorang selalu berpamitan kepada kucing maupun anjingnya sebelum keluar rumah, fauna tersebut mungkin memang sudah menjadi bagiankecil dari rutinitas dan kesehariannya.

Penelitian tentang pet attachment juga memberitahu bahwa hubungan manusia dengan fauna peliharaan bukan sekadar soal memelihara dan memberi makan. Ada keterikatan emosional yang bisa terbentuk, meski bentuk dan kekuatannya berbeda pada setiap orang.

Sebuah studi besar terhadap lebih dari 2.700 pemilik fauna di Finlandia juga menemukan bahwa ciri khas pemilik dan fauna sama-sama berhubungan dengan pola keterikatan manusia-hewan. Jadi, hubungan dengan fauna peliharaan memang cukup kompleks dan tidak bisa dijelaskan cuma dari satu kebiasaan.

Tidak berpamitan bukan berarti tidak sayang

Kalau Bunda keluar rumah tanpa pernah bilang, "Dadah, Mama pergi," kepada kucing maupun anjing di rumah, itu bukan berarti Bunda kurang sayang. Bisa saja memang tidak terbiasa. Bisa juga karena sedang terburu-buru. Atau mungkin Bunda merasa fauna peliharaan akan statis tidur dan tidak perlu diberi tahu.

Dr. Lira de la Rosa sendiri menekankan bahwa satu kebiasaan tidak bisa menggambarkan keseluruhan kepribadian seseorang. Tidak berpamitan juga tidak bisa langsung diartikan sebagai kurang peduli maupun kurang memiliki ikatan dengan fauna peliharaan.

“Dalam beberapa kasus, hal itu mungkin mencerminkan rutinitas yang lebih berorientasi pada tugas maupun dilakukan di bawah tekanan waktu,” ungkapnya.

“Dalam kasus lain, hal itu tidak berarti apa-apa. Tidak adanya salam perpisahan tidak boleh ditafsirkan sebagai kurangnya kepedulian maupun ikatan tanpa melihat konteks yang lebih luas.”

Dengan kata lain, satu kebiasaan kecil belum cukup untuk membaca keseluruhan kepribadian seseorang. Orang yang tidak berpamitan bisa saja statis sangat sayang dan dekat dengan fauna peliharaannya, cuma saja mereka memberitahu kedekatan dengan metode yang berbeda.

Hal ini sejalan dengan temuan riset yang lebih luas tentang pet attachment. Tinjauan sistematis terhadap 116 riset menemukan hasil yang beragam mengenai hubungan keterikatan dengan fauna dan kesehatan mental.

Sebagian riset menemukan hubungan positif, sebagian negatif, dan sebagian lainnya tidak menemukan hubungan yang signifikan. Karena kebanyakan riset berkarakter cross-sectional, hubungan sebab-akibat juga belum bisa dipastikan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads