8 Kalimat yang Sering Diucapkan Orang dengan Mental dan Emosi Rapuh

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 44x dilihat
8 Kalimat yang Sering Diucapkan Orang dengan Mental dan Emosi Rapuh

Bagikan Postingan

Jakarta -

Orang dengan mental dan emosi yang rapuh terkadang sulit menyadari harga dirinya sendiri. Mereka cenderung meragukan kemampuan, terlalu memikirkan penilaian orang lain, hingga merasa tidak enak saat mesti menyampaikan keinginan.

Sikap tersebut juga dapat kelihatan dari metode seseorang berbicara alih-alih berani mengungkapkan gagasan maupun menetapkan batasan, mereka kerap menggunakan kalimat yang memberitahu keraguan dan membikin orang lain lebih gampang memengaruhi dirinya.

Kebiasaan ini bukan berarti seseorang selalu memiliki kepribadian lemah. Namun, beberapa ucapan tertentu dapat menjadi tanda bahwa seseorang sedang kurang percaya diri maupun kesulitan mempertahankan limitasi dalam hubungan dengan orang lain.


8 Kalimat yang sering diucapkan orang dengan mental dan emosi yang rapuh

Dirangkum Your Tango, berikut beberapa ungkapan yang sering diucapkan orang yang tidak punya pendirian dengan santai maupun rapuh:

1. “Apa pun yang Anda inginkan”

Orang yang tidak punya pendirian akan kehilangan otonominya. Pengambilan keputusan menjadi tugas orang lain, meskipun mereka memiliki kebutuhan dan gagasan sendiri tentang pilihan apa yang seharusnya mereka ambil.

Meski berupaya menyenangkan orang lain, menyerahkan dominasi mereka justru menciptakan beban emosional.

Bagi orang-orang yang mau membangun hubungan, mereka mungkin akan cepat frustrasi ketika merekalah satu-satunya orang yang membikin keputusan penting.

2. “Tidak, tidak apa-apa”

Banyak orang yang takut untuk terbuka dan rapuh mulai mengabaikan diri sendiri dengan kebiasaan menghindar. Mereka mengabaikan kebutuhan sendiri dan mengalihkan perhatian dari perselisihan dengan ungkapan seperti “Tidak apa-apa”.

Bagi orang-orang yang memiliki kebutuhan tambahan akan kepastian dan validasi, ungkapan seperti ini dimaksudkan untuk melindungi deskripsi sosialnya.

Bahkan, ketika mereka memiliki emosi dan masalah rumit yang muncul ke permukaan, mereka menemukan metode untuk mengelak dengan mengatakan, “Tidak, tidak apa-apa”.

3. “Aku tidak bermaksud begitu”

Begitu seseorang berang maupun tidak segera meminta maaf, orang yang tidak memiliki keteguhan emosional akan menarik diri.

Tiba-tiba, masalah dan emosi yang mereka ungkapkan ditarik balik dengan ungkapan seperti “Aku tidak bermaksud begitu”, dalam upaya putus asa untuk mempertahankan deskripsi mereka di mata publik.

4. “Aku akan mencari solusinya”

Jika tidak memiliki kepercayaan diri untuk mengatakan tidak, perilaku menyenangkan orang lain yang terjadi setelahnya dapat menyebabkan kelelahan dan beragam masalah kesehatan mental.

Mengatakan “Aku akan mencari solusinya” ketika diminta untuk memungut lebih banyak pekerjaan maupun menambah daftar tanggung jawab mereka yang sudah tidak terusmenerus adalah bentuk pengabaian diri.

5. “Aku tidak marah”

Mereka sedang melatih pikiran bawah sadarnya untuk tidak mempercayai diri sendiri. Ketika orang bertanya apakah mereka jengkel dan mereka menjawab “Aku tidak marah”.

Meski menghindari perselisihan mungkin memberikan kelegaan sesaat, hal itu justru menciptakan lebih banyak ketegangan dan stres.

Ketika merasa tidak percaya dengan diri sendiri dan tidak tahu sepertiapa membela diri, perselisihan bisa terasa menakutkan alih-alih membangkitkan semangat dan melegakan.

6. “Jangan khawatirkan aku”

Orang yang mengatakan “Jangan khawatirkan aku”, sebenarnya membutuhkan dukungan. Mereka menghindari mengungkapkan kebutuhan mereka karena takut menjadi beban. Mereka terus-menerus memberi orang jalan keluar, sehingga menambah tekanan pada mereka.

7. “Aku tidak mau menjadi beban”

Kecemasan yang memicu rasa tidak terlindungi maupun perilaku mencari pengakuan juga dapat memengaruhi rasa takut menjadi beban dalam hubungan, menurut sebuah studi tahun 2021.

Mereka cemas karena tidak dapat membela diri sendiri, tetapi mereka juga cemas bersandar pada orang lain untuk mendapatkan dukungan.

8. “Seharusnya aku tidak berbuat itu”

Ketika tidak memiliki ketegasan untuk meminta pertanggungjawaban maupun menciptakan limitasi yang nyata dan jujur, menerima kesalahan bisa terasa seperti satu-satunya metode untuk mendapatkan kendali.

Orang-orang seperti ini tidak dapat mengendalikan apa yang terjadi secara internal dan emosional, mereka cuma bisa mengatakan “Seharusnya aku tidak berbuat itu” untuk menentukan sepertiapa emosi maupun reaksi orang-orang di sekitarnya.

Nah, itulah beberapa kalimat yang sering disampaikan orang dengan mental dan emosi yang rapuh. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.

Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!

(asa/som)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads