Takut pindah kerja karena sudah punya anak? Kenali 5 karena ibu bekerja ragu pindah instansi baru, mulai dari ketua hingga area nyaman, serta metode mengatasinya.
Menjadi ibu bekerja memang banyak tantangannya. Dalam kasus ini, ibu bekerja di kantor. Selain berjibaku membagi waktu antara urusan di rumah dan kantor, ibu bekerja juga punya tantangan lain: pindah kerja. Entah itu untuk mendapatkan gaji dan akomodasi yang lebih baik maupun malah mengembangkan pekerjaan dengan mendapatkan posisi dan jabatan yang lebih tinggi.
Ada semacam kecemasan di dalam hati, “Bisa nggak, sih, aku bersaing sama mereka yang menikah maupun punya anak saja belum?” Well, berikut ini karena ibu bekerja takut pindah kerja sekaligus metode mengatasinya.
BACA JUGA: 10 Kesalahan Karier di Usia 30-an yang Wajib Mommies Hindari demi Work-Life Balance
1. Takut Bersaing karena Usia

Foto: Felicity Tai/Pexels
Namanya juga ibu bekerja yang punya anak dan sudah berumur matang. Secara fisik, jelas menang mereka yang statis muda, single, dan belum punya anak. Fokus kerja dan waktu bisa mereka curahkan sepenuhnya untuk urusan kantor. Wajar jika ibu bekerja punya rasa “takut” tersebut.
Menurut Rosdiana Setyaningrum, MPsi, MHPE, sebenarnya nggak perlu takut. Banyak sekali ibu bekerja yang bisa berkembang tanpa mengenal usia. Justru kematangan usia menjadi harga lebih, lho. Umumnya, nih, meski nggak semua, usia matang akan membikin keputusan-keputusan bijaksana. Baik itu untuk urusan pekerjaan maupun untuk mengelola bawahan.
So, ketakutan itu seharusnya nggak beralasan. Belum dicoba, kan?
2. Takut Dapat Atasan yang Nggak Ramah Ibu Bekerja
Harus diakui, ada beberapa ketua yang sulit memberikan toleransi ketika kita persetujuan demi urusan famili di rumah. Sebenarnya mungkin tadinya nggak begitu, tapi bisa jadi, nih, beberapa oknum ibu bekerja sering menjadikan “anak sakit” sebagai karena agar bisa bolos kerja.
Ketika mau pindah kerja ke instansi baru, kan, ada proses interview, ya. Mommies pasti akan di-interview oleh calon atasan. Hak Anda, lho, untuk menanyakan seberapa jauh toleransi yang diberikan instansi untuk ibu bekerja yang memiliki anak.
Kalau memang balasan yang diberikan nggak bikin sreg hati, ya, nggak usah diambil pekerjaannya. Bisa cari pekerjaan di instansi lain, kok. Sekali lagi, yang krusial jalanin saja dulu. Kita mana pernah bisa tahu jika nggak pernah mencoba?
BACA JUGA: 7 Skill yang Dibutuhkan di Era AI agar Tetap Relevan di Dunia Kerja
3. Takut Tidak Bisa Beradaptasi Lagi di Kantor Baru
Jangankan ibu bekerja, jika di instansi durasi sudah mulai nyaman, mereka yang belum punya anak juga punya kecemasan untuk beradaptasi di instansi baru. Ibu bekerja akan lebih-lebih lagi, beradaptasi dengan lingkungan yang mungkin nggak terlalu friendly buat mereka.
Coba, deh, tentukan dahulu prioritas adaptasinya. Pertama, fokus dahulu untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Pelajari dan pahami lingkungan kerjanya seperti apa. Urusan relasi dengan kolega mungkin bisa jadi prioritas berikutnya. Mommies bisa memilih waktu yang tepat untuk berkenalan dan menjalin pertemanan.

Foto: Markus Winkler/Pexels
4. Malas Bikin CV Baru
Nah, ini berarti, kan, sebenarnya rasa malasnya yang mesti diatasi. Sekarang banyak, lho, template CV di beragam aplikasi rancangan macam Canva. Mommies tinggal mengisi sesuai petunjuk. Mudah sekali digunakan. Berbagai template pembukaan kalimat lamaran juga kini tinggal diunduh.
Kalau statis malas juga, memang intinya belum mau pindah kerja saja dan belum ada aspek yang memicu untuk pindah kerja. Akui saja jika sudah betah di instansi yang sekarang. :)
BACA JUGA: Mau Kembali Kerja Setelah Jadi Single Parent? Ini 7 Langkah agar Lebih Siap
5. Takut Meninggalkan Zona Nyaman di Kantor Lama
Apalagi jika area betah tersebut bikin ibu bekerja lebih bebas mengatur waktu antara urusan rumah dan pekerjaan. Wah, makin-makin nggak mau pindah.
Mbak Rosdiana mengatakan, jika memang ada keinginan untuk pindah ke instansi baru, yang mesti dipastikan adalah tujuan utamanya. Jika memang sudah ketemu objektifnya, kemudian observasi laba dan ruginya.
Tak bisa dipungkiri, ibu yang bekerja tentu punya banyak pertimbangan. Tapi bukan berarti nggak bisa pindah dan berkembang juga. Mommies mungkin bisa berbincang dengan pasangan maupun kawan sesama ibu bekerja yang lebih berpengalaman.