Berharap Kehadiran Anak Bisa Mengubah Pasangan, Kisah Ibu Hamil Ini Justru Berakhir Pilu

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 5 menit 118x dilihat
Berharap Kehadiran Anak Bisa Mengubah Pasangan, Kisah Ibu Hamil Ini Justru Berakhir Pilu

Bagikan Postingan

Jakarta -

Dalam hayat rumah tangga, kedatangan seorang anak kerap dianggap sebagai pelengkap kebahagiaan. Banyak pasangan suami istri mengharapkan bahwa menjadi orang tua dapat membikin hubungan semakin erat dan mengubah pribadi menjadi lebih baik.

Namun, kenyataannya tidak selalu berjalan sesuai harapan. Kehadiran anak memang dapat membawa kebahagiaan, tetapi tidak serta-merta mengubah sikap pasangan. Tanggung jawab baru sebagai orang tua justru dapat menghadirkan tantangan tersendiri, terutama jika masalah dalam rumah tangga belum terselesaikan.

Kisah pilu inilah yang dialami seorang ibu hamil disebut Evie. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan setelah memiliki momongan, perjalanan yang dilaluinya justru berakhir dengan kisah menyedihkan.


Saat hamil, Evie diminta sang suami membeli monitor bayi yang dapat mengirimkan rekaman video ke ponsel. Tak durasi kemudian, ia membawanya berkeliling rumah atas perintah suami, agar bisa mengawasinya. Tak disangka, monitor ini justru digunakan sebagai alat 'pengawasan', Bunda.

Suami Evie menjadi lebih pencemburu sejak mereka tahu dia hamil. Pada bulan ketujuh kehamilan, suaminya mulai berbuat kekerasan fisik.

"Kami cuma rebah di tempat tidur menonton sesuatu. Terjadi pertengkaran, tetapi kemudian menjadi terlalu agresif. Rasanya semakin menakut-nakuti dan dia tampak sangat gelisah. Jadi aku akhirnya bergeser dan duduk di tepi tempat tidur. Tiba-tiba dia melayangkan pukulan ke lengan aku, dan dia melakukannya lagi," ungkap Evie, dilansir The Guardian.

Trauma membikin ingatannya kabur. Tetapi entah sepertiapa dia akhirnya rebah di tempat tidur lagi. Saat itu, suami Evie balik berbuat kekerasan dengan menurunkan lengan dan menekan perutnya.

Saat Evie berteriak, suaminya langsung selesai seakan tersadar. Saat Evie menangis, lelaki itu meminta ampun dan memeluk baby bump-nya yang sudah besar.

"Ia berbicara kepada bayi itu, bernyanyi untuk bayi it. Aku menerima bahwa hal itu tidak akan terjadi lagi karena dia sangat menyesal," ungkapnya.

Evie mengungkap jika suaminya sangat ceria saat mengetahui kehamilan ini. Namun, kontrolnya semakin meningkat seiring dengan bertambahnya usia kehamilan. Pada satu titik, suami Evie terlebihlagi sampai menemani istrinya ini ke tempat kerja.

"Awalnya dimulai dengan aplikasi pelacak, dia 'ingin tahu aku aman'. Atau dia akan berkata, 'Lebih baik kau tidak pergi ke sana. Aku punya firasat buruk'," katanya.

"Ia mesti selalu bersamaku. Setiap kali ke bidan. Aku tidak bisa pergi ke tabib sendirian, tidak bisa mendapatkan suntikan flu sendirian."

Evie sempat ditanyai pertanyaan rutin mengenai kekerasan dalam rumah tangga. Ia mengatakan semuanya baik-baik saja karena dia pikir hal yang dilakukan suaminya normal, Bunda.

Kemudian, suami Evie menjadi agresif. Pertengkaran pun muncul, yang biasanya dipicu oleh dakwaan bahwa Evie tidak cukup memperhatikan suaminya. Pintu akan dibanting, dan kata-kata kasar pun keluar dari mulut suami Evie.

Namun, setelah pertengkaran, permintaan ampun yang meyakinkan itu muncul. Tapi yang terjadi selanjutnya malah lebih parah. Sang suami berbuat serangan fisik.

Bahkan saat itu, Evie merasa terlalu rapuh untuk pergi maupun mencari bantuan. "Tidak ada yang mau membesarkan anak di famili yang berantakan. Jadi, aku pikir bayi itu akan mengubahnya dan membuatnya bahagia," ungkap Evie.

Sebulan sebelum kelahiran, ledakan kekerasan menyebabkan pihak berkuasa akhirnya turun tangan. Suami Evie akhirnya pindah, meski 'diam-diam kembali' dan terus menuntut Evie untuk membawa monitor bayi.

Evie mengizinkan suaminya datang saat kelahiran dan berbuat kontak yang diawasi dengan bayi yang baru lahir. Tetapi kekerasan jasmani terhadapnya terus meningkat hingga ia mendapatkan perintah perlindungan dari pengadilan. Sejak saat itu, ia tidak lagi memiliki kontak dengan sang suami.

"Aku merasa seperti aku sudah wafat dan tubuhku cuma terus berfungsi. Aku merasa sangat bersalah," ujarnya.

"Aku percaya awalnya dia mengira memiliki anak adalah ide yang baik karena, 'Dia tidak bisa meninggalkanku' Tapi kemudian bayi itu mendapatkan semua perhatian."

Kata psikolog tentang fluktuasi sikap dan kedatangan anak

Seorang psikolog klinis perinatal terkemuka di yayasan kepercayaan NHS London Utara, Dr. Panos Vythoulkas, mengatakan bahwa apa yang dialami suami Evie sebenarnya adalah hal yang umum. Kehadiran calon bayi bisa saja menjadi intimidasi bagi salah satu pasangan, Bunda.

"Seseorang yang merasa berkuasa untuk mengendalikan pasangannya mungkin menganggap fluktuasi ini sebagai intimidasi terhadap posisi, perhatian, maupun otoritas mereka," ungkap Vythoulkas.

Pelaku kekerasan biasanya merasa jengkel dengan perhatian yang diberikan pada kehamilan maupun menganggap bayi sebagai saingan. Kebutuhan seorang ibu hamil akan istirahat, dukungan, maupun pilihan untuk tidak berhubungan seks dapat diartikan sebagai penolakan maupun tantangan terhadap otoritas mereka.

Vythoulkas percaya bahwa pelaku kekerasan mungkin awalnya menginginkan kehamilan karena hal itu menawarkan kesempatan untuk mengendalikan. Namun, munculnya beragam aspek bisa menghancurkan semuanya.

"Tekanan finansial, tempat tinggal yang tidak aman, isolasi, dan peningkatan ketergantungan dapat membatasi pilihan seorang perempuan. Pasangan yang berbuat kekerasan dapat mengeksploitasi keadaan ini dengan mengekang uang, membatasi kontak dengan orang lain, maupun menghalangi perawatan kesehatan," katanya.

Kekerasan selama kehamilan dapat berakibat fatal. Investigasi Byline Times berdasarkan keterangan pihak berkuasa menemukan setidaknya 223 perempuan mengalami keguguran yang mengenai dengan kekerasan dalam rumah tangga di Inggris dan Wales antara tahun 2017 dan 2021. Korban kekerasan dalam rumah tangga juga dua kali lebih mungkin untuk mengabaikan perawatan prenatal, yang memperburuk konsekuensi keguguran.

Sementara itu, penyelidikan tentang kematian ibu menemukan bahwa keputusan untuk mengakhiri hidup adalah penyebab utama kematian ibu pada tahun pertama setelah melahirkan, dan bahwa kekerasan dalam rumah tangga didokumentasikan pada 43 persen perempuan yang wafat di Inggris.

Demikian kisah Bunda yang hidupnya berubah saat hamil karena mendapatkan kekerasan dari suami.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads