Jakarta -
Saat ini, sebagian besar Generasi Milenial mempunyai anak yang merupakan Generasi Alpha. Terdapat kebenaran menarik bahwa setelah menjadi orang tua, Gen Millennial ini justru lebih merencanakan dan tidak jarang melakukan 'trial and error' pada saat membesarkan anak-anaknya.
Dikutip dari laman Research World, sebuah penelitian menemukan bahwa orang tua Milenial secara ahli mengasuh anak tidak seperti generasi sebelumnya.
Dalam penelitian tersebut, sebanyak 69 persen Milenial menunggu hingga mereka menikah alias tinggal berbareng pasangan sebelum mempunyai anak. Selanjutnya, 34 persen orang tua Milenial secara aktif merencanakan dan meneliti kapan waktu terbaik untuk mempunyai anak, dibandingkan dengan orang tua Generasi X.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ternyata Generasi Milenial juga belajar banyak dari Gen Alpha. Sikap keterbukaan gen millennial ini yang membikin mereka mau belajar dari anaknya. Ya, Generasi Alpha mempunyai pengaruh signifikan dalam pengambilan keputusan family dan memengaruhi etos keluarga, Bunda.
Lantas, apa saja perihal yang dipelajari orang tua Gen Milenial dari anak Gen Alpha? Simak penjelasannya dalam tulisan kali ini.
1. Gen Alpha tidak malu mengungkapkan emosi dan emosi
Dikutip dari Parents, Generasi Alpha jauh lebih berani mengungkapkan emosi mereka daripada Generasi Millennial. Jika kita bertanya kepada mereka gimana berita mereka, mereka bakal mengungkapkan sungguh spesifik dan detailnya mereka menjelaskan keadaan mereka.
Generasi Alpha adalah anak-anak yang tumbuh di era ketika kesehatan mental dianggap jauh lebih serius daripada di masa lalu. Mereka mempunyai istilah dan frasa untuk menggambarkan apa yang mereka alami di dalam diri mereka.
Pelajaran bagi orang tua Milenial ialah ambil momen ini sebagai kesempatan untuk lebih memahami dan memperdalam hubungan dengan Si Kecil. Komunikasi adalah kunci ketika keadaan sulit. Semakin tinggi literasi emosional anak-anak kita, semakin kita dapat merespons dengan empati dan berada di sana untuk mereka.
2. Kesehatan mental bukan perihal tabu yang dibicarakan
Generasi Milenial memainkan peran besar dalam akhirnya menghilangkan stigma terhadap masalah kesehatan mental. Generasi Milenial adalah yang pertama kali mengungkapkan beberapa perihal yang sangat tenang tentang kesehatan mental, seperti bahwa bekerja hingga kelelahan bukanlah perihal yang sehat alias bahwa depresi bukan berfaedah karakter seseorang cacat.
Gen Milenial meneruskan perihal ini kepada Gen Alpha dan mereka rupanya melangkah lebih jauh ke arah yang benar. Mereka tidak takut untuk meminta support alias apalagi menemui terapis secara teratur untuk mengatasi tantangan. Mereka memandang terapi sebagai corak perawatan diri yang teratur dan bukan tanda kelemahan serta bakal dengan jujur memberi tahu apa yang sedang mereka kerjakan.
Generasi milenial dapat belajar pelajaran yang mendalam untuk tidak memikul beban berat dalam tak bersuara ketika kita memandang anak-anak kita sendiri mencontohkan perilaku mencari support ini. Mereka apalagi mengingatkan untuk memberi diri kita sendiri kasih sayang dan empati yang sama seperti yang kita berikan kepada mereka dalam hidup kita sebagai orang tua yang sibuk, terutama ketika kita kewalahan.
3. Semakin melek dengan teknologi
Dikutip dari laman American College of Education, mereka dapat bekerja-sama dengan generasi lain untuk mendapatkan kiat teknologi di kelas. Generasi Alpha berada di posisi yang baik sebagai pembelajar yang paling mahir secara teknologi di masyarakat kita.
4. Peduli terhadap lingkungan
Kalau Generasi Millennial menanam pohon, Generasi Alpha menyiraminya lebih banyak daripada generasi sebelumnya. Mereka apalagi telah mengetahui tentang perubahan suasana di buletin dan media sosial dan mungkin apalagi mempelajari sains di baliknya di kelas
Mereka tumbuh dengan menggunakan kembali dan mendaur ulang dan mempunyai kata-kata seperti berkepanjangan (sustainable) dalam kosakata mereka. Mereka tahu apa itu "jejak karbon" dan hal-hal yang berasosiasi dengan kepedulian terhadap lingkungan. Tanggung jawab mereka terhadap bumi tempat kita tinggal telah tertanam dalam diri mereka sejak lahir.
5. Tidak menormalisasikan perilaku toksik
Seringkali terjadi bahwa ketika satu generasi berganti dengan generasi berikutnya, apa yang disebut normal tidak lagi dipandang seperti itu. Generasi Alpha mempunyai keahlian untuk mengenali perilaku toksik yang semestinya tidak dinormalisasi. Misalnya, "Anak laki-laki tidak boleh menangis" alias sikap "sok tangguh", alias kebiasaan menyenangkan orang lain yang pernah kita miliki sebelum menyadari bahwa itu merugikan kita.
Generasi Alpha condong lebih tegas dan kompeten. Mereka mempertimbangkan konteks, mengusulkan pertanyaan jika sesuatu tidak sesuai dengan apa yang secara naluriah "benar" bagi mereka.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·