Tinggal Serumah Dengan Ortu Lansia? Kenali Pertolongan Pertama Saat Stroke Hingga Jatuh

Jun 29, 2026 12:25 PM - 4 jam yang lalu 165

Jakarta -

Bunda tinggal serumah dengan orang tua lansia? Selain memenuhi kebutuhan harian, krusial juga memahami pertolongan pertama saat kondisi darurat. Lansia lebih berisiko mengalami stroke hingga jatuh. Dengan mengenali tanda awal dan langkah penanganan yang tepat, Bunda bisa segera memberikan pertolongan sembari menunggu support medis.

Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai kegawatdaruratan pada lansia, Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI-RSCM gandeng Yayasan Kesejahteraan Muslimat Nahdlatul Ulama (YKM NU) gelar kegiatan SIGAP Lansia (Sehat, Inspiratif, Giat, Aktif, dan Produktif untuk Lansia). Acara ini diselenggarakan pada Sabtu, 27 Juni 2026 di Aula Panti Asuhan Harapan Remaja, Rawamangun, Jakarta Timur dan disiarkan secara langsung melalui Zoom Meeting dan YouTube, disaksikan oleh masyarakat dari beragam daerah di Indonesia.

"Kita sehari-hari hidup berdampingan dengan lansia, baik di rumah maupun tetangga terdekat. Lansia merupakan golongan yang mempunyai akibat masalah kesehatan lebih tinggi. Acara ini bermaksud meningkatkan pengetahuan dan keahlian masyarakat dalam mengenali tanda-tanda kegawatdaruratan dari masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia serta memberikan pertolongan pertama yang tepat sebelum mendapatkan support medis," ujar Dr. dr. Aida Rosita Tantri, Sp.An-TI, Subsp.An.R(K), Ketua Acara SIGAP Lansia. YKM NU merupakan perangkat alias Yayasan di bawah naungan Muslimat NU yang bergerak di bagian sosial dan kesehatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Acara berupa pemaparan materi dan tanya jawab yang dilanjutkan dengan simulasi kasus dan praktik. Topik tentang pertolongan pertama pada kasus stroke disampaikan oleh Dr. dr. Riyadh Firdaus, Sp.An-TI, Subsp.N.An(K) mulai dari pengenalan indikasi dengan metode SEGERA dan FAST serta tahapan pertolongannya, kemudian dilanjutkan oleh dr. Abdul Kadir menjelaskan pertolongan pertama pada terjatuh dan lemas serta gimana melakukan imobilisasi awal.

Berikutnya, materi dibawakan oleh dr. Adinda Meidisa Akhmad, Sp.An-TI yang memaparkan tentang indikasi dan kemungkinan penyebab pada sesak, gimana memposisikan dan pertolongan awalnya. Pada sesi materi terakhir, Dr. dr. Aida Rosita Tantri, Sp.An-TI, Subsp.An.R(K) menjelaskan mengenai Bantuan Hidup Dasar (BHD), gimana memberikan resusitasi jantung paru (RJP) yang berkualitas, serta penggunaan AED (Automated External Defibrillator), perangkat medis portabel yang menganalisis irama jantung secara otomatis dan memberikan kejut listrik untuk mengembalikan irama normal saat seseorang mengalami henti jantung mendadak untuk awam.

Acara dilanjutkan dengan pembagian peserta ke dalam golongan mini yang berotasi pada pos simulasi kasus, resusitasi jantung paru (RJP), serta balut bidai. Acara pada pos simulasi juga disaksikan secara langsung oleh seluruh peserta di Zoom dan YouTube.

Dari kegiatan tersebut terdapat sejumlah info krusial untuk dipelajari bagi Bunda yang serumah dengan orang tua lansia. Mulai dari langkah mengenali indikasi hingga pertolongan pertama yang bisa Bunda lakukan.

Kenali indikasi stroke dengan metode SEGERA

Berikut langkah mengenali indikasi stroke dengan metode SEGERA:

1. S: Senyum tidak simetris

Perhatikan apakah:

  • Wajah mencong
  • Bibir turun sebelah
  • Senyum tidak simetris

2. E: Extremitas lemah

Tangan alias kaki:

  • Mendadak lemah
  • Sulit digerakkan
  • Terasa kebas sebelah tubuh

3. G: Gangguan bicara

Penderita:

  • Bicara pelo
  • Sulit bicara
  • Tidak mengerti pembicaraan

4. E: Eyes / Gangguan penglihatan

Dapat berupa:

  • Penglihatan kabur mendadak
  • Pandangan ganda
  • Sulit memandang sebelah

5. R: Gangguan keseimbangan

Penderita :

  • Sempoyongan
  • Sulit berjalan
  • Pusing mendadak

6. A: Act Fast / bertindak cepat

Semakin sigap ditangani:

  • Semakin besar kesempatan sembuh
  • Semakin mini akibat kecacatan

Kenali indikasi stroke dengan metode FAST

Berikut langkah mengenali indikasi stroke dengan metode FAST:

1. Face

Wajah mencong. Perhatikan apakah wajah terlihat mencong alias tidak simetris saat tersenyum. Caranya Bunda bisa minta penderita tersenyum.

2. Arm

Kelemahan pada lengan. Perhatikan apakah salah satu lengan lemah alias susah diangkat. Bunda bisa minta penderita mengangkat kedua lengan ke depan.

3. Speech 

Gangguan bicara. Perhatikan apakah bicara pelo, cadel, alias tidak mengerti pembicaraan sederhana. Minta penderita mengucapkan kalimat sederhana.

4. Time

Waktu untuk bertindak. Jika terlihat salah satu indikasi di atas segera bertindak. Bunda bisa hubungi 119 alias bawa penderita ke IGD terdekat.

Pertolongan pertama pada stroke

Berikut pertolongan pertama pada orang yang mengalami stroke.

  1. Tetap tenang dan jangan panik.
  2. Segera hubungi 119/ IGD rumah sakit terdekat.
  3. Catat waktu indikasi pertama muncul.
  4. Baringkan penderita  posisi kepala dan bahu sedikit lebih tingi.
  5. Miringkan kepala jika penderita muntah agar tidak tersedak.
  6. Longgarkan busana yang ketat (kerah, ikat pinggang).
  7. Jangan biarkan penderita sendirian hingga support datang.

Jangan lakukan ini

  • Jangan beri makan alias minum, akibat tersedak sangat tinggi.
  • Jangan beri obat apapun tanpa persetujuan dokter.
  • Jangan paksa penderita berdiri alias berjalan.
  • Jangan tinggalkan penderita sendirian.
  • Jangan mengurut atau memijat bagian yang lumpuh.
  • Jangan terlambat. Jangan tunggu indikasi 'membaik' sendiri.

Kemudian berikut pertolongan pertama yang bisa Bunda lakukan ketika orang tua lansia lemas dan terjatuh.

Pertolongan pertama lemas dan terjatuh

Lemas adalah kondisi tubuh terasa lemah, tidak bertenaga, pusing, alias nyaris pingsan yang bisa terjadi secara mendadak. Lemas bisa disebabkan kurang darah (anemia), gula darah turun (hipoglikemia), kurang cairan (dehidrasi), tekanan darah turun tiba-tiba, kepanasan, hingga kelelahan.

Tanda-tanda lemas yang perlu diwaspadai

Berikut tanda-tanda lemas yang perlu diwaspadai.

  • Pusing, kepala terasa berputar.
  • Jantung berdebar-debar alias debar cepat.
  • Pandangan gelap alias kabur tiba-tiba.
  • Keringat dingin mendadak.
  • Mual, perut tidak nyaman.
  • Kaki dan tangan terasa berat alias lemas.
  • Sulit berbincang alias bingung tiba-tiba.

Pada lansia, indikasi bisa lebih samar jangan abaikan emosi 'tidak lezat badan'. Jika pingsan alias tidak merespons maka sudah darurat.

Segera panggil support merasakan keluhan keluhan tersebut. Jangan meninggalkan lansia sendiri jika diketahui sebelumnya dalam kondisi kurang sehat.

Pertolongan pertama saat lemas (sebelum jatuh)

Berikut pertolongan pertama yang bisa Bunda lakukan saat orang tua mengalami lemas (sebelum jatuh).

  1. Hentikan aktivitas, duduk alias berebahan segera. jangan memaksakan diri melangkah alias berdiri.
    Posisi aman:
    - Jika pusing: duduk, condongkan kepala ke depan.
    - Jika nyaris pingsan: berbaring, tinggikan kedua kaki.
  2. Longgarkan pakaian.
    Longgarkan kerah baju, kendurkan ikan pinggang, beri ruang napas yang nyaman.
  3. Beri cairan/gula.
    Bila sadar: minum air putih.
    Gula rendah: air gula, permen, makanan manis.
  4. Jangan ditinggal sendiri.
    - Dampingi sampai membaik.
    - Hubungi 119 jika tidak sadar lebih dari 1 menit.

Langkah pertama jika lemas dan terjatuh

Berikut pertolongan pertama yang bisa Bunda lakukan saat orang tua mengalami lemas dan terjatuh.

  1. Jangan panik. 
    Tenangkan diri dan korban. Ketenangan menghasilkan tindakan lebih tepat.
  2. Nilai kesadaran.
    Panggil nama korban, apakah merespons, buka mata, bergerak?
  3. Cek pernapasan.
    Amati dada naik-turun. Bila tidak bernapas, segera CPR dan hubungi 119.
  4. Jangan dipindahkan.
    Bila berprasangka cedera leher alias punggung, jangan gerakkan kepala alias leher korban.
  5. Minta tolong.
    Berteriak minta support dan hubungi 119 segera. Catat waktu kejadian.

Berikut pertimbangan yang bisa Bunda lakukan setelah korban jatuh kemungkinan patah tulang.

  • Nyeri dahsyat dai area benturan, semakin jelek jika digerakkan.
  • Bengkak dan memar yang muncul sigap setelah benturan.
  • Bentuk personil tubuh terlihat berbeda alias tidak normal (deformitas).
  • Tidak bisa menggerakkan alias menopang berat badan
  • Terasa alias terdengar bunyi 'krak' saat kejadian jatuh

Jangan melakukan perubahan posisi mendadak alias perubahan posisi signifikan lantaran berisiko memperparah kondisi patah tulang.

  1. Lakukan: Imobilisasi - jangan paksa digerakkan.
  2. Jangan: Meluruskan alias menarik tulang yang patah.
  3. Ke RS untuk X-Ray: Diagnosis pasti hanya lewat foto X-Ray.

Jika menemukan luka terbuka, maka hal-hal yang kudu dilakukan adalah:

  1. Tekan dengan kain bersih untuk menghentikan perdarahan.
  2. Jangan cabut barang yang menancap di dalam luka.
  3. Bilas luka ringan dengan air bersih mengalir.
  4. Tutup dengan perban bersih - jangan kapas langsung ke luka

Pada lansia, kulit tipis membikin luka mudah berdarah dan susah sembuh. Oleh lantaran itu segera periksakan ke dokter.

Jika menemukan cedera kepala, maka hal-hal yang kudu dilakukan adalah:

  • Pingsan alias susah dibangunkan: Darurat, hubungi 119!
  • Muntah berulang setelah benturan: Segera ke IGD
  • Sakit kepala dahsyat makin parah: Jangan diremehkan

Penanganan terjatuh

Berikut penanganan yang bisa Bunda lakukan:

  1. Pastikan keamanan.
    Jauhkan dari ancaman (jalan raya, api, air). Amankan diri Bunda dahulu.
  2. Nilai respons korban.
    Panggil dengan keras. Tepuk pundak perlahan. Cek pernapasan.
  3. Hubungi support (119).
    Segera jika tidak sadar, tidak bernapas, alias dicurigai patah tulang berat.
  4. Stabilkan posisi. 
    Bila berprasangka cedera tulang belakang/leher: pertahankan posisi sampai support tiba.
  5. Bantu duduk alias berdiri (bila aman)
    Tidak ada cedera serius: bantu perlahan ke duduk dahulu, baru berdiri.
  6. Pantau dan dokumentasi.
    Catat waktu, kondisi, dan gejala. Sampaikan komplit ke petugas medis.

Kapan kudu ke IGD?

Segera ke IGD atau hubungi 119 jika Bunda mendapati perihal berikut:

  • Tidak sadar. Pingsan lebih dari 1 menit alias tidak bisa dibangunkan.
  • Tidak bernapas alias pernapasan sangat tidak teratur.
  • Perdarahan banyak yang tidak berakhir dalam 10 menit penekanan
  • Kejang-kejang setelah jatuh.
  • Kelemahan alias meninggal rasa mendadak satu sisi tubuh (tanda stroke?).

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Selengkapnya