Jakarta -
Tidak ada seorang pun yang mau dianggap sebagai pribadi yang pemarah. Banyak orang menilai sikap ini sebagai tanda bahwa seseorang susah mengendalikan diri.
Padahal, setiap orang tentu pernah merasakan marah. Namun, hanya saja sebagian orang yang mempunyai kemarahan berlebihan akhirnya melampiaskannya kepada orang lain.
Pada dasarnya, tidak ada emosi yang sepenuhnya buruk. Nah, yang perlu diperhatikan adalah gimana seseorang mengekspresikan rasa marah tersebut, apakah dengan langkah sehat alias justru menyakiti orang lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika seseorang terus-menerus mengucapkan kalimat tersebut saat berbicara, perihal itu menjadi tanda adanya emosi yang belum diselesaikan dengan baik. Lambat laun, kebiasaan itu dapat membikin hubungan dengan orang lain menjadi renggang.
Bicara soal perihal ini, ada beberapa langkah mengenali orang yang suka marah berlebihan dari obrolan yang sering mereka ucapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Cara mengenali orang suka marah berlebihan dari obrolan yang sering diucapkan sehari-hari
Dilansir dari laman Your Tango, ada beberapa langkah mengenali orang yang suka marah berlebihan dari ucapan yang mereka lontarkan dalam keseharian. Simak selengkapnya yuk:
1. "Saya tidak mau melanjutkan lagi"
Rasa marah sebenarnya perihal yang wajar dalam setiap hubungan, baik dengan pasangan, keluarga, maupun teman. Namun, yang paling krusial adalah gimana seseorang mengatur emosi tersebut, Bunda.
Orang yang susah mengendalikan kemarahan mudah terbawa emosi saat menghadapi masalah. Ketika emosinya memuncak, mereka kerap mengucapkan kalimat seperti, "Saya tidak mau melanjutkan lagi".
Seorang psikolog asal Amerika Serikat, Bernard Golden, PhD, mengatakan bahwa mengenali kemarahan adalah kunci untuk menghadapinya dengan bijaksana. Nah, langkah sehat untuk mengelola kemarahan melibatkan berakhir sejenak dan merenungkan apa yang dipikirkan dan rasakan.
2. "Saya tidak mau melihatmu sekarang"
Memberi jarak saat sedang bentrok sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Bahkan, mengambil waktu sejenak untuk menenangkan diri membantu seseorang mengendalikan emosi sebelum berbincang lebih jauh.
Bagi orang yang susah mengendalikan amarah, meluapkan emosi memang melegakan untuk sesaat. Namun setelah emosi mereda, emosi tersebut kerap berubah menjadi penyesalan alias rasa malu.
3. "Jangan menguji kesabaran saya sekarang!"
Bunda perlu tahu bahwa ungkapan seperti ini menunjukkan bahwa seseorang sedang kesulitan mengendalikan amarahnya dan mudah terpancing oleh situasi di sekitarnya.
Orang yang susah mengendalikan kemarahan suka merasa bahwa emosi yang mereka rasakan sepenuhnya disebabkan oleh orang lain. Maka dari itu, mereka mengucapkan kalimat ini untuk menyalahkan orang lain.
4. "Saya nyaris kehilangan kendali"
Jika seseorang mengucapkan ini, bisa jadi mereka menyadari dirinya sedang marah. Namun, ucapan tersebut dapat terdengar seperti ancaman jika tidak ada kemauan untuk menenangkan diri.
Lalu, gimana langkah mengatasinya? Cara efektif untuk meredakan kemarahan adalah dengan memberi waktu pada diri sendiri untuk menenangkan tubuh dan pikiran, Bunda.
Saat emosi mulai mereda, seseorang dapat berpikir lebih bening dan tidak mudah melampiaskan kemarahannya kepada orang lain. Mengambil jarak sejenak, beristirahat, alias menjauh dari situasi yang memicu emosi dapat mengurangi ketegangan.
5. "Kamu memang tidak pernah mengerti saya"
Dalam sebuah perdebatan, ucapan seperti ini menunjukkan rasa kecewa alias marah yang sedang dirasakan oleh seseorang. Apa pun jawaban yang diberikan, pasti bakal tetap salah di mata orang yang sedang emosi.
Ketika musuh bicara mengaku tidak paham, perihal itu dianggap membenarkan kemarahannya, sedangkan jawaban yang setuju pun terkadang tetap ditolak. Jika ini terus terjadi, orang di sekitar memilih menjaga jarak alias lebih berhati-hati saat berbicara.
6. "Kenapa hanya saya yang bisa melakukannya dengan benar?"
Dalam situasi yang penuh amarah, ada orang yang suka mengatakan kalimat ini sebagai corak kekesalannya terhadap orang lain. Maka dari itu, musuh bicara kerap merasa bingung saat mendengar perihal ini.
Orang yang mengucapkan kalimat ini menganggap diri mereka lebih baik daripada orang lain. Itulah mengapa, mereka susah sekali menerima kesalahan dari perspektif pandang orang lain.
7. "Saya tidak punya waktu untuk perihal ini"
Berikutnya, kalimat seperti "Saya tidak punya waktu untuk perihal ini" sebenarnya boleh saja diucapkan jika seseorang sedang sibuk alias mempunyai banyak pekerjaan.
Namun, beda ceritanya jika disampaikan dengan nada marah, ucapan tersebut dapat membikin orang lain merasa tidak dihargai atas kehadirannya, Bunda. Akibatnya, hubungan dengan orang di sekitarnya pun bisa menjadi renggang.
8. "Saya tidak bakal berteriak jika Anda mau mendengarkan"
Kalimat ini diucapkan seseorang untuk membenarkan kemarahan yang sedang dirasakan. Seolah-olah kesalahan sepenuhnya ada pada orang lain, Bunda.
Psikolog asal Amerika Serikat, Nick Wignall, menyampaikan bahwa banyak orang sebenarnya menyimpan kemarahan mereka. Emosi yang terus dipendam itu akhirnya dapat meledak ketika sudah tidak bisa ditahan lagi.
Seseorang pun bisa meluapkannya dengan langkah yang kurang sehat, misalnya berteriak alias menyalahkan orang lain.
"Merasa frustrasi dan marah itu wajar. Tetapi langkah Anda menghadapi emosi tersebut bisa sangat tidak sehat," jelas Wignall.
"Cara paling sehat untuk menghadapi kemarahan adalah dengan mengakui, memvalidasi, bertindak tegas jika perlu, alias membiarkannya saja jika tidak," lanjutnya.
9. "Bukan saya yang bermasalah, tetapi kamu"
Dalam beberapa situasi, kemarahan bisa terjadi lantaran seseorang merasa tidak kondusif alias tidak percaya diri. Perasaan itu yang kemudian membikin mereka melampiaskan emosi kepada orang-orang di sekitarnya.
Saat diminta untuk bertanggung jawab, mereka kerap menolak untuk mengakui kesalahannya. Sebaliknya, mereka justru mengatakan bahwa masalahnya sepenuhnya berasal dari orang lain.
10. "Saya tidak mengerti kenapa kudu menghadapi masalah ini lagi"
Saat seseorang mencoba membahas masalah yang belum selesai, orang yang susah mengendalikan kemarahan merasa dirinya sedang disalahkan. Padahal, orang lain mungkin hanya mau mencari solusi alias menyelesaikan persoalan yang ada.
Akibatnya, mereka bersikap melindungi dan enggan membicarakan masalah tersebut. Kalimat seperti ini pun terucap saat emosi mulai meningkat.
11. "Apa sesulit itu melakukannya dengan benar?"
Alih-alih mencari solusi, kalimat tersebut justru membikin musuh bicara merasa terpojok. Orang yang menerimanya pun merasa tidak dihargai alias dianggap tidak mampu.
Dalam banyak situasi, orang yang mudah marah susah mengerti argumen di kembali sebuah kesalahan. Mereka hanya konsentrasi pada hasil yang tidak sesuai angan daripada mencoba mengerti kesulitan yang sedang dialami orang lain.
Di lingkungan kerja, perihal ini terjadi ketika seseorang menetapkan standar yang tinggi alias tidak memberikan pengarahan yang jelas. Akibatnya, orang lain susah memenuhi angan yang sebetulnya itu belum dijelaskan dengan baik.
Itulah beberapa langkah mengenali orang yang suka marah berlebihan dari ucapan yang sering mereka lontarkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·