Studi Temukan Kebiasaan Ibu Hamil Di Kantor Yang Picu Risiko Keguguran

Jun 29, 2026 03:40 PM - 1 jam yang lalu 41

Jakarta -

Ibu mengandung yang bekerja perlu berhati-hati dalam beraktivitas fisik. Peneliti menemukan kebiasaan ibu mengandung di instansi yang picu akibat keguguran.

Meski demikian, para mahir mengingatkan temuan ini bukan berfaedah membikin ibu mengandung menghindari seluruh kegiatan bentuk sehari-hari.

Penelitian ini lebih menyoroti pola kebiasaan yang terjadi secara berulang dan berkepanjangan di lingkungan kerja. Apa saja kebiasaan yang dimaksud?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Kebiasaan ibu mengandung di instansi yang picu akibat keguguran

Sebuah studi menunjukkan bahwa membungkuk ke depan di tempat kerja selama kehamilan dini, serta banyak melangkah dan berdiri, dapat dikaitkan dengan peningkatan akibat keguguran.

Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Occupational & Environmental Medicine. Peneliti menganalisis 803.829 kehamilan dari 475.312 wanita di Denmark selama periode 2004 hingga 2018.

Tim peneliti menggunakan metode pregnancy-specific job exposure matrix untuk menilai pengaruh kegiatan bentuk tertentu di tempat kerja terhadap akibat keguguran pada awal kehamilan.

Aktivitas yang diteliti meliputi berdiri, berjalan, dan membungkuk ke depan dengan perspektif sekitar 30 derajat. 

Dari seluruh kehamilan yang dianalisis, sekitar satu dari 10 kehamilan alias 81.307 kasus berhujung dengan keguguran. Peneliti kemudian menganalisis hubungan antara kegiatan bentuk di tempat kerja dengan akibat tersebut.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kegiatan seperti membungkuk ke depan, berdiri dalam waktu lama, dan melangkah selama jam kerja dikaitkan dengan peningkatan akibat keguguran. Namun, besarnya akibat berbeda-beda.

Peneliti menemukan bahwa setiap tambahan satu jam kegiatan membungkuk ke depan dikaitkan dengan peningkatan akibat keguguran sebesar 36 persen. Sementara itu, setiap tambahan satu jam melangkah dikaitkan dengan peningkatan akibat sebesar 18 persen.

Adapun kegiatan berdiri menunjukkan peningkatan akibat yang lebih kecil, ialah sekitar 3 persen untuk setiap tambahan satu jam paparan.

“Meskipun mekanismenya belum sepenuhnya dipahami, paparan kerja ini dapat memengaruhi perfusi plasenta alias izin hormonal dengan langkah yang dapat meningkatkan akibat keguguran,” demikian saran studi tersebut melansir People.

Peneliti menduga kegiatan bentuk tertentu di tempat kerja dapat memengaruhi aliran darah ke plasenta alias memengaruhi izin hormon yang berkedudukan krusial dalam mempertahankan kehamilan.

Menurut peneliti, selama ini sudah ada beberapa penelitian yang mengaitkan kegiatan seperti berdiri, berjalan, dan membungkuk di tempat kerja dengan akibat keguguran. Namun, hasil penelitian sebelumnya tetap belum konsisten.

Peneliti juga mencatat bahwa kegiatan membungkuk dalam waktu lama sebenarnya relatif jarang ditemukan pada sebagian besar pekerjaan. Karena itu, meskipun peningkatan akibat yang ditemukan cukup tinggi, akibat keseluruhannya pada populasi pekerja mengandung kemungkinan tetap terbatas.

Keguguran dipengaruhi banyak faktor

Para peneliti mengingatkan bahwa keguguran merupakan kondisi yang dipengaruhi banyak faktor.

Secara umum, aspek akibat keguguran dapat mencakup usia orang tua, kebiasaan merokok, kerja shift malam, paparan polusi udara, hingga paparan bahan kimia tertentu di lingkungan kerja.

Selain itu, penelitian ini berkarakter observasional sehingga tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung. 

Melansir News-Medical, peneliti juga mencatat adanya beberapa keterbatasan, termasuk tidak tersedianya informasi perseorangan mengenai kebiasaan merokok selama kehamilan. Selain itu, aspek lain seperti kegiatan mengangkat beban, kerja shift, maupun paparan bahan kimia tertentu di

Hasil studi tidak bertindak untuk kegiatan sehari-hari

Hasil penelitian ini tentu menarik perhatian. Namun para mahir memperingatkan bahwa temuan ini bertindak untuk pola pekerjaan, bukan aktivitas sehari-hari, dan perlu konfirmasi lebih lanjut.

Profesor kebidanan dan kedokteran ibu dari City St George's, University of London, Asma Khalil, yang tidak terlibat dalam penelitian, menegaskan bahwa studi ini tidak menunjukkan bahwa aktivitas sehari-hari pada awal kehamilan berbahaya.

"Studi ini berangkaian dengan pola paparan pekerjaan, khususnya membungkuk ke depan yang berkepanjangan alias berulang, bukan kegiatan sehari-hari," kata Khalil.

Khalil juga menyoroti bahwa kekuatan penelitian ini terletak pada penggunaan informasi lebih dari 800 ribu kehamilan serta metode penilaian kegiatan kerja yang dirancang unik untuk kehamilan.

Meski demikian, dia menegaskan bahwa hasil penelitian tetap perlu dikonfirmasi pada populasi lain sebelum dapat dijadikan dasar penyusunan pedoman kerja bagi ibu hamil.

"Meskipun studi ini menimbulkan asumsi yang menarik mengenai postur kerja dan akibat keguguran, temuan ini perlu direplikasi dan dikonfirmasi pada populasi lain sebelum dapat diterjemahkan menjadi pedoman tempat kerja yang tepat,” lanjutnya.

Dari penjelasan di atas, temuan ini menunjukkan pentingnya memperhatikan kondisi kerja selama kehamilan, terutama pada trimester awal.

Ibu mengandung yang bekerja dengan banyak kegiatan bentuk berulang sebaiknya berkonsultasi dengan master untuk mengetahui apakah perlu penyesuaian kegiatan kerja sesuai kondisi kesehatan masing-masing.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Selengkapnya