7 Kalimat yang Dihindari Orang dengan EQ Tinggi saat Bicara dengan Teman Menurut Psikolog

Aug 10, 2026 02:25 PM - 4 jam yang lalu 5

Jakarta -

Kecerdasan emosional alias Emotional Quotient (EQ) adalah tentang memahami dan mengelola emosi sendiri, serta emosi orang lain. Orang dengan kepintaran emosional tinggi biasanya lebih berhati-hati dalam memilih kata, terutama saat berbincang dengan teman.

Mereka memahami bahwa satu kalimat yang terdengar sepele bisa membikin orang lain merasa diremehkan alias tidak dihargai. Oleh lantaran itu, orang-orang ini condong mempunyai langkah berkomunikasi yang khas, terutama dalam mengatasi konflik.

"Salah satu karakter unik EQ tinggi adalah kemauan dan keberanian untuk menghadapi bentrok secara langsung," kata terapis Dr. Deborah Vinall, Psy.D., LMFT, dilansir Parade.


"Saat kita mengasah keahlian untuk mengenali, menghadapi, dan mengakui emosi yang menyakitkan, termasuk rasa bersalah, kita mengembangkan kapabilitas untuk melakukan percakapan jujur tentang hal-hal susah dengan orang-orang dalam hidup kita. Kesadaran diri dan empati memungkinkan perbaikan," sambungnya.

Lantas, apa saja kalimat yang sering dihindari orang dengan EQ tinggi saat bicara dengan teman? Simak penjelasannya berikut ini!

Kalimat yang dihindari orang EQ tinggi saat bicara

Berikut 7 kalimat yang sering dihindari orang dengan EQ tinggi saat bicara dengan kawan alias orang lain:

1. "Saya tidak mengerti kenapa itu menyakitkan"

Vinall mengatakan bahwa ungkapan ini sama dengan 'Itu bukan masalah besar'. Orang dengan EQ tinggi tidak mengatakan lantaran bakal membikin orang lain terluka.

"Jika ungkapan 'Itu bukan masalah besar' justru meremehkan, kata-kata seperti 'Saya mengerti kenapa itu menyakitkan' bakal menguatkan. Ini tidak berfaedah kita bermaksud menyakiti, tetapi mengakui bahwa kawan sedang terluka. Hal ini menciptakan kelembutan dan hubungan yang krusial untuk pemulihan," ungkap Vinall.

2. "Bukan itu yang terjadi"

Vinall tidak menyarankan menggunakan frasa ini dengan seorang teman. Pasalnya, ingatan setiap orang berbeda-beda, Bunda.

"Terburu-buru menyangkal dan membantah pengalaman kawan daripada mendengarkan inti persoalan di kembali keluhan tersebut adalah tindakan yang meremehkan dan kandas mengarah pada pemahaman alias perbaikan," kata Vinall.

3. "Itu masalah kamu"

Teman itu seperti rekan satu tim dan, seperti kata pepatah, 'Kerja sama tim mewujudkan dapat impian'. Jadi, tidak heran jika ungkapan ini bisa menjadi mimpi jelek dalam persahabatan.

Vinall mengatakan bahwa ungkapan itu kurang empati. Saat mengatakan perihal tersebut ke tema, itu sama saja tidak menunjukkan kemauan untuk mencoba memahami keluhannya.

4. "Kamu membikin saya sangat marah"

Ungkapan ini juga tidak membantu, dan tidak akurat. Menurut Vinall, ungkapan ini dapat mengalihkan tanggung jawab atas emosi pembicara.

Mengatakan kalimat ini seperti menjelaskan bahwa, 'Hanya Anda yang bertanggung jawab atas reaksi emosionalmu'.

5. "Saya turut menyesal Anda merasa seperti itu"

Orang yang pandai secara emosional bakal meminta maaf. Tetapi, ungkapan tersebut bukanlah permintaan maaf yang sebenarnya. Mengatakan kalimat, 'Saya turut menyesal Anda merasa seperti itu' hanya menjadi kedok di kembali bahasa seorang yang tidak tulus.

"Tidak ada pertanggungjawaban alias tanggung jawab yang diambil untuk melakukan perubahan. Kedengarannya mirip dengan empati, tetapi tidak sepenuhnya sampai pada kepedulian," kata Vinall.

6. "Aku hanya bercanda. Kamu terlalu serius menanggapi semuanya"

Vinall mengatakan bahwa ungkapan-ungkapan dengan EQ rendah seperti ini sama saja meremehkan orang lain. Orang yang mengatakan ini sama saja berlindung di kembali argumen yang sering kali susah dibantah.

"Meskipun lelucon yang tulus itu malah menyakitkan, tanggung jawab tetap berada pada orang yang membikin lelucon untuk menilai kesesuaian dan kepekaannya, serta bertanggung jawab jika perihal itu mengakibatkan rasa sakit," ungkap Vinall.

7. "Kamu selalu membesar-besarkan segala sesuatu"

Vinall mengatakan bahwa frasa ini membikin pergeseran lain, yang berkarakter meremehkan. Mengatakan ini sama saja mengalihkan konsentrasi dari 'mendengarkan kekhawatiran yang sah menjadi menyerang orang yang terluka'.

"Motivasinya adalah untuk memihak diri, bukan untuk kepedulian alias komunikasi," ujarnya.

Demikian 7 kalimat yang sering dihindari orang dengan EQ tinggi saat bicara dengan teman. Semoga info ini berfaedah ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/som)

Selengkapnya