Cara Mengenali Anak yang Pernah Jadi Korban Gaslighting saat Kecil

Aug 10, 2026 01:35 PM - 6 jam yang lalu 6

Jakarta -

Anak yang pernah menjadi korban gaslighting saat mini sering kali menunjukkan karakter serupa saat dewasa. Bagaimana langkah mengenalinya?

Seperti diketahui, gaslighting merupakan salah satu tanda unik dari kekerasan narsistik dan perilaku ini sangat toksik.

"Gaslighting membikin seseorang mempertanyakan realitas dirinya sendiri dan merupakan corak manipulasi alias kekerasan. Terjadi pembalikan peran yang besar, pelaku justru diposisikan sebagai korban dan korban dibuat seolah-olah menjadi pelaku," jelas psikoterapis Dr. Elisabeth Crain, PsyD., dikutip dari Parade.


Dampak perilaku ini sangat buruk, terutama jika dilakukan oleh orang tua kepada anaknya. 

"Bagi anak-anak yang mengalami gaslighting, dampaknya justru lebih jelek dibandingkan ketika seseorang baru mengalaminya saat dewasa," imbuh Crain. 

Pada dasarnya, anak-anak berjuntai pada orang tua. Jadi saat anak berada dalam lingkungan yang gaslighting, mereka kudu menyesuaikan diri dengan pengasuh narsistik alias manipulatif. 

"Mereka tidak mempunyai jalan keluar, sehingga mereka bakal menyalahkan diri sendiri sebagai langkah untuk menghadapinya," tambahnya.

Contoh gaslighting pada masa kanak-kanak

Dikutip dari Psychology Today, anak-anak sangat rentan terhadap akibat gaslighting, terutama pada kesehatan mentalnya. 

Gaslighting merupakan corak manipulasi ketika seseorang dibuat meragukan ingatan, keyakinan, alias perasaannya sendiri. Akibatnya, anak tidak lagi mempercayai dirinya sendiri dan apalagi seperti tak punya nilai diri.

Ketika orang tua melakukan gaslighting terhadap anak, contohnya bisa dimulai dengan mendusta kepada anak, kemudian menutupi ketidakejujuran tersebut. Hal ini menyebabkan anak meragukan dirinya sendiri dan mengalami kebingungan.

Anak-anak sangat rentan terhadap manipulasi kognitif ini lantaran otak mereka, terutama lobus frontal, belum berkembang sepenuhnya.

Hal ini membikin mereka lebih mudah mengalami kebingungan dibandingkan orang dewasa yang otaknya telah berkembang secara penuh.

Risiko gaslighting kronis pada masa kanak-kanak

Di lingkungan tersebut, anak tetap kudu berupaya mempertahankan hubungan dengan orang tua yang menjadi tempat mereka bergantung.

"Anak-anak tidak mempunyai kendali alias keahlian untuk melepaskan diri dari perilaku toksik. Mereka mungkin belum mempunyai keahlian untuk menghadapi situasi seperti ini," ujar Crain.

Akibatnya, anak-anak yang terus-menerus mengalami gaslighting bakal condong melakukan:

  • Penyangkalan
  • Menyalahkan diri sendiri
  • Sangat malu

Pemikiran selalu menyalahkan diri sendiri ini dapat terus terbawa hingga dewasa. Mereka jadi kesulitan memandang dirinya sendiri secara positif.

Cara mengenali anak yang pernah jadi korban gaslighting

Ada beberapa perihal yang dapat diamati sebagai tanda-tanda anak pernah menjadi korban gaslighting, di antaranya seperti: 

1. Selalu mempertanyakan emosi diri sendiri

Salah satu contoh perilaku gaslighting ialah memutarbalikkan persepsi korban terhadap fakta. Dengan begitu, pendapat anak seolah-olah selalu disalahkan.

Sebagai contoh, anak merasa sangat jengkel ketika orang tua mengomentari berat badannya, kemudian dia membicarakan perihal tersebut di lain waktu.

Orang tua lampau justru mengatakan bahwa mereka tidak pernah mengucapkan perihal tersebut alias bahwa anak hanya bereaksi secara berlebihan.

Saat dewasa, anak nantinya mungkin kurang mempercayai diri sendiri alias terus-menerus mempertanyakan perasaannya sendiri.

2. Menyalahkan diri sendiri

Menurut Crain, strategi besar lain yang digunakan dalam gaslighting adalah orang tua sering menyalahkan anak atas sesuatu yang mungkin dilakukan alias tidak dilakukannya.

Kondisi ini membikin anak jadi merasa kudu selalu melakukan segalanya untuk menyenangkan orang lain, terus meminta maaf meskipun tidak melakukan kesalahan, alias berpikir bahwa setiap masalah pasti kesalahan mereka.

3. Memutarbalikkan kenyataan

Saat mengalami gaslighting dalam jangka panjang, anak condong bakal menjadi susah membedakan mana yang kebenaran dan bukan.

Orang tua yang gaslighting bakal selalu mengubah alias memutarbalikkan kejadian masa lalu, sehingga anak sering bingung.

4. Takut mengungkapkan pendapat

Karena selalu disalahkan alias apalagi faktanya diputarbalikkan, anak korban gaslighting juga condong jadi takut mengungkapkan pendapat.

Ketika beranjak dewasa, anak condong sering memendam kemarahan, kesedihan, alias kekecewaan. Mereka juga mungkin memilih tak bersuara ketika tidak setuju lantaran takut menimbulkan konflik.

5. Sangat perlu pengesahan dari orang lain

Anak yang sering dibuat meragukan dirinya sendiri sejak mini biasanya bakal tumbuh menjadi sosok yang berjuntai pada penilaian orang lain. Ia mungkin terus mencari kepastian bahwa dirinya tidak salah alias tidak membikin orang lain kecewa.

Saat mulai berteman, dia mungkin mudah resah ketika seseorang tidak membalas pesan alias menunjukkan perubahan sikap lantaran langsung berpikir bahwa dirinya telah melakukan kesalahan. 

6. Mudah cemas

Saat dewasa, anak yang menjadi korban orang tua gaslighting juga mungkin terus-menerus merasa stres dan cemas. Mereka berada dalam kondisi kudu selalu berhati-hati dan takut melakukan kesalahan.

Bagaimana langkah memulihkan diri dari akibat gaslighting?

Jika anak terlanjur mengalami perilaku gaslighting sejak kecil, ada beberapa langkah untuk memulihkan diri untuk meminimalkan dampaknya:

1. Belajar mempercayai diri sendiri

Setelah dibuat selalu meragukan pengalaman sendiri sejak kecil, seseorang perlu belajar mengenali kembali apa yang dia rasakan, pikirkan, dan inginkan.

Cobalah rutin membikin jurnal, catatan perjalanan, alias sekadar menulis kitab harian untuk dapat membantu memandang situasi dengan lebih objektif. 

2. Membangun batas sehat

Crain berpesan agar belajar mempunyai kendali atas diri sendiri, pengetahuan, pemahaman, dan membangun batas yang sehat. 

Jangan ragu berbicara 'tidak' untuk mengungkapkan ketidaknyamanan, alias mengambil jarak dari orang yang terus-menerus meremehkan emosi dan memutarbalikkan kenyataan.

Membuat batas juga bisa dimulai dengan perihal sederhana, seperti tidak terus-menerus menjelaskan diri, berani menyampaikan pendapat, alias menghentikan percakapan ketika pembicaraan sudah menjadi tidak sehat.

3. Mencari support profesional

Dalam beberapa kasus, pengalaman pola asuh gaslighting dapat memengaruhi kepercayaan diri anak. Oleh lantaran itu, jika perlu konsultasi ahli mungkin diperlukan.

Terlebih jika dampaknya cukup berat alias mengganggu kegiatan sehari-hari, konsultasi kesehatan mental menjadi penting.

Itulah penjelasan tentang cara-cara mengenali anak yang pernah jadi korban gaslighting saat kecil. Semoga berfaedah ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

Selengkapnya