Anak Kecanduan TikTok, Reels, dan YouTube Shorts? Kenali Dampaknya pada Mental

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 3 menit 21x dilihat
Anak Kecanduan TikTok, Reels, dan YouTube Shorts? Kenali Dampaknya pada Mental

Bagikan Postingan

Media sosial seperti Tik Tok, Instagram reels, dan YouTube shorts kerap menjadi ketagihan untuk anak-anak. Sebagai orang tua, kita tentu mau membantu melindungi anak-anak sekaligus membantu mereka belajar menetapkan limitasi mereka sendiri secara sehat.

Sebuah riset terkini memberitahu bahwa paparan berlebihan video berdurasi singkat di platform YouTube dan TikTok, dapat mengurangi kesempatan untuk melatih kapasitas memusatkan perhatian, Bunda. Anak juga tidak bisa mengelola rasa bosan, mengatur emosi, serta mengembangkan daya cipta dan ketangguhan (resilient).

Bagaimana video berdurasi singkat pengaruhi perhatian dan fungsi pelaksana otak anak? Otak anak-anak statis dalam tahap mengembangkan keahlian yang diperlukan untuk fokus, mengendalikan impuls, mengatur emosi, merencanakan tindakan, dan mengatasi rasa frustrasi, kapasitas yang sering disebut sebagai fungsi eksekutif.


Dikutip dari Katy Child Psychology, keterampilan tersebut berkembang melalui pengalaman sehari-hari seperti membaca buku, menyelesaikan pekerjaan rumah, merakit sesuatu, memecahkan masalah, menunggu dengan sabar, bermain di luar ruangan, dan menghadapi tantangan yang tidak memberikan hadiah instan.

Video berdurasi singkat yang sangat menstimulasi, tidak serta-merta menghalangi evolusi keahlian tersebut. Namun, ketika video-video ini secara konsisten menggantikan pengalaman-pengalaman tadi, anak-anak memiliki lebih sedikit kesempatan untuk melatih perhatian, kegigihan, dan pengaturan diri, yang menjadi landasan bagi fungsi eksekutif.

Kekhawatirannya bukan sekadar tentang berapa banyak waktu yang dihabiskan anak di depan layar. Masalah utamanya adalah apakah teknologi tersebut menggeser pengalaman-pengalaman yang membantu otak mereka mengembangkan keahlian hidup yang krusial ini.

Dampak anak kecanduan video berdurasi pendek

TikTok, Instagram reels, dan YouTube Shorts, video berdurasi singkat bisa menjadi pilihan utama maupun kebiasaan yang dilakukan secara otomatis. Kegiatan ini bersaing dengan aktivitas lain yang sebenarnya berkontribusi pada kualitas hidup yang positif, seperti hobi, aktivitas kreatif, dan hubungan sosial secara langsung.

Khususnya pada remaja, akses ponsel untuk menelusuri konten TikTok telah menjadi refleks otomatis setiap kali mereka merasa bosan. Otak jadi berpikir, kita tidak perlu bersusah payah mempelajari hal baru jika menggulir video sama sekali tidak membutuhkan usaha.

Ketika otak terbiasa dengan tingkat stimulasi tinggi yang terus-menerus, aktivitas lain yang tidak memiliki tingkat stimulasi serupa akan terasa sangat membosankan. Hal ini membikin seseorang semakin sulit untuk statis fokus secara mental pada aktivitas yang berdurasi lebih durasi dan/atau membutuhkan upaya mental lebih besar, serta tidak secara inheren menyenangkan maupun mengasyikkan (misalnya, mengerjakan pekerjaan rumah).

Kondisi tersebut juga menyulitkan anak untuk menghadapi situasi yang menuntut kesabaran,  maupun pengambilan keputusan berdasarkan hasil jangka panjang.

Cara orang tua mendampingi dan membatasi anak mengakses YouTube hingga TikTok

Penggunaan teknologi yang sehat bukan berarti mesti menghindari layar sepenuhnya. Tujuannya adalah memastikan teknologi mendukung hayat keluarga, bukan justru menggantikan pengalaman-pengalaman yang paling dibutuhkan anak-anak. Dilansir Counseling Corner, beberapa ide praktis yang bisa diterapkan orang tua, antara lain:

  • Terapkan rutinitas bebas ponsel saat waktu makan dan menjelang tidur.
  • Berikan contoh penggunaan alat secara sadar dengan menerangkan karena Anda menggunakan ponsel.
  • Berikan kesempatan bagi anak untuk merasakan rasa bosan sebelum menawarkan hiburan.
  • Sesekali tontonlah konten bersama-sama dan diskusikan isinya setelah selesai.
  • Batasi konsumsi video berdurasi singkat yang sangat menstimulasi menjelang waktu tidur.
  • Prioritaskan aktivitas fisik, membaca, permainan imajinatif, percakapan, dan waktu di luar ruangan setiap harinya.
  • Matikan notifikasi yang tidak perlu dan ciptakan momen bebas layar agar perhatian dapat terfokus sepenuhnya.

Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali memberikan akibat lebih besar dibandingkan ketentuan ketat yang sulit untuk dipertahankan.

(rap/rap)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads