Kincai Media , JAKARTA -- Salah satu corak pemikiran ahlus sunnah wal jama'ah (aswaja) adalah moderat. Kecenderungannya selalu mengambil jalan tengah alias titik keseimbangan di antara ekstrem-ekstrem. Sebagai seorang ustadz besar dan mahir pengetahuan kalam, Abu Hasan al-Asy’ari (873-936 M) pun memilih langkah moderat, ialah seimbang antara logika dan wahyu.
M Rusydi dalam artikelnya, “Konstruksi Pemikiran Kalam al-Asy’ariah” (2014) menerangkan gimana pandangan sang alim. Menurut al-Asy’ari, logika tidak dapat mengetahui apakah suatu perbuatan itu baik alias buruk. Pembedaan demikian hanya bisa diketahui melalui wahyu. Akal pun tidak dapat membikin sesuatu menjadi wajib. Tidak bisa pula logika mengetahui bahwa mengerjakan yang baik dan menjauhi yang jelek itu adalah wajib bagi manusia.
Yang juga patut dicamkan, logika memang dapat mengetahui adanya Tuhan. Namun, yang mewajibkan manusia untuk mengetahui Tuhan serta berterima kasih kepada-Nya hanyalah wahyu. Melalui wahyu pula, logika mendapatkan pengetahuan bahwa orang yang alim kepada-Nya bakal memperoleh ganjaran dan yang tidak alim bakal mendapatkan hukuman.
Dengan kata lain, al-Asy’ari menegaskan, wahyu-lah yang pertama-tama menentukan baik dan buruk. Akal tidak mempunyai kuasa dalam perihal ini. Kalau wahyu, misalnya, menyatakan bahwa bohong adalah baik, tentulah berbohong merupakan sebuah kebaikan. Contoh lain, jika wahyu melarang kejujuran, sudah pasti berujar jujur menjadi buruk.
Selanjutnya, al-Asy’ari menunjukkan bahwa norma baik-buruk yang ditetapkan oleh akal—bukan wahyu—tidak dapat menjadi tolok ukur. Sebab, sifatnya adalah relatif dan dapat berubah-ubah sesuai dengan lingkungan, pengalaman dan lain-lain. Apa yang dipandang hari ini oleh logika itu baik, belum tentu baik pula pada hari esok. Sebagai contoh, dalam pandangan akal, membunuh adalah perbuatan buruk. Namun, membunuh boleh menjadi baik dan apalagi wajib, misalnya, saat seseorang terancam nyawanya.
Lebih lanjut, pemahaman demikian dipakai untuk menjelaskan hubungan manusia dengan Tuhannya. Akal manusia dapat mengetahui Tuhan, tetapi tidak dapat mengetahui tanggungjawab beragama dan berterima kasih kepada-Nya.
Segala tanggungjawab manusia sebagai hamba Tuhan hanya bisa diketahui melalui wahyu. Karena itu, demikian al-Asy’ari, sebelum turunnya wahyu tidak ada kewajiban-kewajiban dan tidak ada pula larangan-larangan bagi manusia.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·