Jangan Suka Berandai-andai

Jun 04, 2026 07:52 PM - 5 jam yang lalu 210

Kincai Media , JAKARTA -- Sering kali, kita berandai-andai dan membayangkan bahwa realitas sejalan dengan apa-apa yang diidamkan. Dengan pengandaian itu, realita pun menjadi lebih nyaman meski hanya sesaat di depan mata.

Nabi Muhammad SAW rupanya tak menyukai umat Islam sering mengumbar kata-kata "seandainya." Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya, kata lauw (seandainya) membawa kepada perbuatan setan."

Syekh Shaleh Ahmad asy-Syaami menjelaskan, kata "seandainya" tidak membawa faedah sama sekali. Menurutnya, meskipun seseorang mengucapkan ungkapan itu, dia tidak bakal bisa mengembalikan apa yang telah berlalu. Ia tak bakal bisa menggagalkan kekeliruan yang telah terjadi.

Dalam bukunya berjudul Berakhlak dan Beradab Mulia, Syekh asy-Syaami mewanti-wanti bahwa ungkapan "seandainya" bisa berkonotasi negatif. Itu dapat mewujud sebagai khayalan semu dan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. 'Sikap seperti ini adalah sikap yang lemah dan malas," ujarnya.

Bahkan, kata dia, Allah pun membenci sikap lemah, merasa diri tidak mampu, dan malas. Dalam sebuah sabda dinyatakan, "Allah SWT mencela sikap lemah, tidak bersungguh-sungguh, tetapi Anda kudu mempunyai sikap pandai dan cekatan. Jika Anda terkalahkan oleh suatu perkara, maka Anda berbicara 'cukuplah Allah menjadi penolongku, dan Allah sebaik-baik pelindung'" (HR Abu Dawud).

Sikap tangkas dan pandai yang dimaksud adalah melakukan upaya dan tindakan-tindakan yang bisa membawa pada keberhasilan. Artinya, berupaya meraih sesuatu yang bermanfaat, baik di bumi maupun akhirat. Berusaha keras ini, sambung Syekh asy-Syaami, berfaedah menerapkan norma kausalitas yang telah Allah tetapkan.

Keutaman dari sikap tangkas dan pandai ialah bisa menjadi pembuka kebaikan kebaikan. Sebaliknya, sikap lemah dan malas, seperti telah diingatkan Rasulullah SAW, hanya bakal mendekatkan diri kepada setan.

Selengkapnya