Kincai Media , JAKARTA -- Bani Umayyah adalah dinasti pertama dalam yang mewarisi tampuk kepemimpinan Islam setelah berakhirnya masa khalifah ar-rasyidin. Berbeda dengan pemerintahan sebelumnya yang berpusat di Madinah dan Kufah, Bani Umayyah memusatkan pemerintahannya di Damaskus.
Itu merupakan kota yang terletak dipersimpangan dua peradaban besar, ialah Persia dan Romawi. Hal itu tidak terlepas dari posisi Mu'awiyah bin Abi Sofyan--khalifah pertama Bani Umayyah. Dia merupakan gubenur Damaskus pada masa pemerintahan sebelumnya.
Selain itu, Damaskus memang strategis secara ekonomi. Daerah ini merupakan kota pelabuhan yang penting. Di sinilah titik akhir sebelah barat Jalur Sutra.
Mu'awiyah bin Abi Sofyan bin Harb bin Umayyah menjadi khalifah ketika situasi perpolitikan sedang tidak stabil. Ada bentrok dan perbedaan pendapat di antara para sahabat dalam upaya mengungkap pembunuhan Utsman bin Affan.
Selain itu, tetap banyak pula pihak yang menyusup ke dalam barisan Muslimin. Tujuan para penyelundup itu tak lain mengadu domba dan mengobarkan semangat permusuhan. Semua itu mencapai klimaks dengan meletusnya Perang Shiffin di antara Muslimin.
Salah satu pengaruh domino perang kerabat ini adalah lahirnya Syi'ah. Kalangan itu mencela Mu'awiyah bin Abi Sofyan ra dan mengultuskan Ali bin Abi Thalib ra.
Padahal sebagai ahlu sunnah wal jamaah, dalam memandang sejarah pahit ini kita dianjurkan agar tidak memilih salah satu pihak, untuk kemudian menyalahkan pihak lain. Sebab, Allah sendiri telah menyebut dalam Alquran, para sahabat adalah hamba-hamba yang diridhai-Nya. "Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha pada Allah."
***
Mu'awiyah bin Abi Sufyan adalah salah satu dari sahabat penulis wahyu pada era Rasulullah shallahu'alai wa salam. Ia adalah salah seorang pengurus dan negarawan ulung, menjabat menjadi khalifah sejak tahun 661–680 Masehi. Jabatan itu kemudian dilanjutkan oleh anaknya, Yazid bin Muawiyah.
Secara tidak langsung, Bani Umayyah telah mengubah sistem pemerintahan Islam dari kekhalifahan menjadi monarki. Perubahan sistem pemerintahan tersebut memberikan akibat yang cukup luas ke beragam macam sektor, termasuk dalam aspek pengelolaan perekonomian di tengah-tengah masyarakat Muslim.
Salah satu perubahan yang cukup terlihat di masa itu adalah perubahan sistem pengelolaan Baitul Maal.
Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, Baitul Maal dibagi menjadi dua bagian yang berbeda, ialah bagian umum yang diperuntukkan bagi seluruh masyarakat, dan yang diperuntukkan bagi sultan dan keluarganya.
Meski demikian, dalam praktiknya, terjadi beragam penyimpangan dalam penyaluran biaya Baitul Maal, sehingga sejumlah biaya tidak teralokasikan secara proporsional.
sumber : Hikmah Republika oleh Ustaz Asep Nurhalim
English (US) ·
Indonesian (ID) ·