Kincai Media ,MADINAH – Masjid merupakan tempat seluruh umat muslim menjalani serangkaian ibadah. Selain itu, juga tempat untuk menuntuk pengetahuan dan mempelajari agama Islam pada zaman Nabi Muhammad SAW.
Terdapat kemuliaan bagi seseorang yang membangun masjid untuk membantu orang – orang menjalankan ibadahnya.
“Jika ada sekelompok orang berserikat dalam membangun masjid, maka kelak masing-masing dari mereka mendapatkan istana di surga sebagaimana sebuah organisasi bekerja sama memerdekakan hamba, maka masing-masing terbebas dari neraka,” dikutip dari kitab yang berjudul, Bughyah Al Mustarsyidin hamisy Hasyiyah Al Syathiri ala Al Bughyah karya Habib Abdurrahman bin Muhammad Ba’alawi Al Masyhur.
Pernyataan tersebut juga sesuai dengan Hadits Riwayat Ahmad yang berbunyi,
مَنْ بَنَى لِلهِ مَسْجِدًا وَلَوْ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ لِبَيْضِهَا، بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
Artinya : “Barangsiapa membangun masjid lantaran Allah, meski seukuran lubang tempat burung qatha bertelur, maka Allah membangun untuknya rumah di surga.”
Pahala yang begitu besar bagi orang yang membangun masjid, jika dalam perihal tersebut dibangun secara berbareng – sama seperti Pembangunan secara kolektif. Artinya, siapapun yang berkontribusi atas berdirinya masjid, dia juga bakal mendapatkan keistimewaan diberikan rumah di surga Allah SWT.
Begitu besarnya keistimewaan dalam membangun masjid kudu juga didasari dengan niat yang baik. Agar Allah SWT dapat memberi ridha-Nya. Seperti mensyiarkan kepercayaan Islam, menghidupi kegiatan dengan beribadah, dan sebagainya.
Amalan yang sungguh mulia tersebut dapat membawa seseorang masuk ke surganya Allah SWT dan bagi mereka yang dapat memakmurkan masjid Allah SWT bakal termasuk ke dalam golongan yang bakal mendapatkan petunjuk dari-Nya. Seperti yang dijelaskan pada surat At taubah ayat 18 yang berbunyi,
اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ ۗفَعَسٰٓى اُولٰۤىِٕكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ
Arab Latin: Innamā ya‘muru masājidallāhi man āmana billāhi wal-yaumil-ākhiri wa aqāmaṣ-ṣalāta wa ātaz-zakāta wa lam yakhsya illallāh(a), fa ‘asā ulā'ika ay yakūnū minal-muhtadīn(a).
Artinya : “Sesungguhnya yang (pantas) memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beragama kepada Allah dan hari Akhir, mendirikan salat, menunaikan zakat, serta tidak takut (kepada siapa pun) selain Allah. Mereka itulah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”
sumber : Dok Republika
English (US) ·
Indonesian (ID) ·