Memiliki anak merupakan angan serta tujuan dari pernikahan. Oleh lantaran itu, sudah sepantasnya bagi orang tua untuk mendidik mereka dengan baik dan penuh kasih sayang. Akan tetapi, terkadang orang tua tidak menyadari kesalahan mereka dalam mendidik anak. Salah satunya, anak mempunyai tingkat kepercayaan diri yang rendah.
Mengapa anak bisa mempunyai kepercayaan diri yang rendah? Bagaimana langkah orang tua memperbaikinya? Mari simak sedikit pembahasan yang diuraikan dari kitab Tanshi’at al-Fatat al-Muslimah oleh Hanan ‘Atiyah at-Tori al-Juhani.
Kapan anak mulai membentuk perilaku?
Ketika usia dua tahun, anak memulai membentuk perilaku mereka terhadap bumi di sekitarnya. Beberapa psikolog beranggapan bahwa kepercayaan diri merupakan salah satu karakter yang dibentuk pada usia ini, tergantung pada corak pendidikan dari orang tua dan keadaan lingkungan sekitarnya.
Pada tahapan ini, anak bakal menampakkan perkembangan pada kemandiriannya, seperti kemauan untuk berbicara, berjalan, maupun bermain. Semua perihal ini sangat erat kaitannya dengan kebutuhannya untuk membangun kepercayaan pada diri sendiri melalui kemandiriannya. Hal ini mengkonfirmasi bahwa perkembangan kedewasaan seseorang dapat dimulai dengan menghormati personalitas seorang anak dan mengembangkannya.
Anak-anak condong sensitif, irasional, dan mudah terpengaruh. Maka, membangun kepercayaan diri merupakan salah satu tahapan dalam membangun karakternya nanti.
Baca juga: Mengenal 10 Karakter Anak Usia Dini
Sebab rendahnya kepercayaan diri
Beberapa anak tumbuh dengan rendahnya rasa kepercayaan diri sehingga mereka tidak bisa mengandalkan dirinya sendiri, baik pada perkara yang rumit maupun sederhana. Mereka jarang mengambil inisiatif dan sering kali menunggu perintah dari orang lain.
Ketika mereka menghadapi suatu masalah, mereka bakal merasa susah untuk mengambil suatu keputusan dan terkadang mengelak dari persoalan tersebut dan menangis. Perilaku ini sebagian besar disebabkan lantaran pendidikan dari orang tuanya, di antaranya sebagai berikut:
Pertama, orang tua terlalu banyak mengontrol, baik dalam perihal mini maupun perihal besar. Hal ini membikin anak kehilangan spontanitas mereka dan kehilangan kepercayaan diri dalam melakukan suatu aktivitas. Anak bakal menunggu seseorang untuk mengoreksinya dan meyakinkan mereka jika apa yang mereka perbuat sudah benar.
Kedua, orang tua menyalahkan dan mengkritik segala perihal yang anak lakukan. Sehingga anak disalahkan dan ditegur lebih dari yang semestinya pada saat mereka mengharapkan pujian atas usahanya. Hal ini menghancurkan motivasi anak untuk bertindak alias berkompetisi dalam melakukan sesuatu.
Ketiga, orang tua tidak memberikan kesempatan bagi anak untuk berbicara, baik di depan orang tua maupun orang lain. Orang tua terkadang takut jika mereka berbincang yang macam-macam. Sehingga orang tua terlalu mengatur apa yang boleh anak sampaikan ke orang lain.
Keempat, orang tua memberikan peringatan kepada anak tentang ancaman yang terlalu banyak, sehingga anak berpikir yang terburuk dan berpikir bahwa mereka selalu berada di tengah bahaya.
Kelima, orang tua merendahkan anak dan membandingkan mereka dengan orang lain. Hal ini membikin anak berpikir bahwa mereka tidak mempunyai nilai di mata orang tuanya.
Keenam, orang tua membikin candaan dan mengejek anaknya.
Ketujuh, orang tua tidak memperhatikan kebutuhan anaknya.
Kedelapan, orang tua tidak memperhatikan pertanyaan-pertanyaan anaknya.
Kesembilan, orang tua terlalu memperhatikan tingkah anaknya yang menunjukkan kekhawatiran secara berlebihan kepada anaknya.
Efek negatif dari rendahnya kepercayaan diri
Rendahnya kepercayaan diri pada anak mempunyai beragam pengaruh negatif, di antaranya sebagai berikut:
Pertama, anak tidak bisa bersikap secara independen dan kesulitan dalam mengambil keputusan.
Kedua, anak tidak bisa imajinatif dan condong lamban.
Ketiga, anak bakal mulai mengeluh dan merasa tidak senang ketika mereka diperintahkan sesuatu, lantaran mereka berpikir mereka pasti bakal dikritik, terlepas dari pekerjaan mereka yang nantinya bisa alias tidak bisa mereka kerjakan, sesuai dengan ekspektasi pemberi perintah.
Keempat, anak tidak mempunyai kehendak dan keahlian untuk menyelesaikan permasalahan. Anak hanya bakal menurut dan bersikap cuek terhadap suatu situasi, serta lalai dan acak-acakan dalam mengerjakan suatu hal.
Kelima, anak bakal menderita kekhawatiran dan frustrasi, serta mempunyai sikap tidak ramah dan menarik diri.
Bagaimana langkah orang tua untuk meningkatkan kepercayaan diri anaknya?
Untuk menghindari pengaruh negatif dari rendahnya kepercayaan diri pada anak, orang tua hendaknya membantu perkembangan kepercayaan diri mereka, di antaranya sebagai berikut:
Pertama, orang tua hendaknya mengajarkan segala sesuatu yang diizinkan Allah maupun yang dilarang Allah. Dengan adanya pedoman yang jelas, anak bakal mengetahui perbuatan apa yang baik dan buruk, serta menjauhkan diri dari sifat-sifat tercela. Kemudian, berikanlah ruang bagi anak untuk dapat mengambil inisiatif sendiri.
Kedua, ibu hendaknya memberikan tugas tertentu bagi anak. Jika anak membikin suatu kesalahan, maka ibu hendaknya tetap mengapresiasi upaya anak tersebut dan juga mendorong anak untuk melakukannya lagi secara benar. Jika tugas itu merupakan tugas yang belum dikuasai anak, maka ibu hendaknya berbincang dengan anak, menanyakan pendapatnya, serta tidak mempermasalahkan jika anak membikin kesalahan. Dengan perihal ini, anak dapat memperkuat tekadnya dan menyelesaikan tugas tersebut dengan baik.
Ketiga, orang tua hendaknya memberikan pujian kepada anak dan memberikan bingkisan atas usahanya selama ini. Berilah pujian pada perkara-perkara ibadah, seperti salat dengan rutin, membaca dan menghafalkan Al-Quran, dan lainnya.
Keempat, orang tua hendaknya memberikan nama panggilan yang berbeda dengan anak yang lain. Orang tua juga hendaknya tidak mengizinkan orang lain untuk memanggil anaknya dengan nama panggilan yang buruk.
Kelima, orang tua hendaknya memperkuat tekad dan ketekunan anak dengan dua perihal berikut:
1) Menjaga rahasia
2) Membiasakan anak untuk berpuasa
Keenam, orang tua menguatkan kepercayaan diri anak dengan membiasakan mereka untuk menghadapi orang lain. Hal ini dapat dimulai dengan memberikan perintah kepada anak, duduk berbareng orang yang lebih tua, berkumpul berbareng anak-anak seusianya.
Ketujuh, orang tua menguatkan kepercayaan diri anak dengan menambah ilmunya, ialah dengan mengajarkan Al-Quran dan As-Sunah. Dengan adanya landasan kepercayaan yang kokoh, anak bakal lebih percaya diri dan tidak terpengaruh dengan perkara-perkara batil.
Apa yang menyebabkan anak merasa tidak cukup?
Beberapa perihal yang membikin anak merasa tidak cukup antara lain meremehkan, mempermalukan, dan mengejeknya, seperti memanggilnya dengan nama dan kata-kata yang tidak senonoh di depan kerabat dan kerabatnya, alias apalagi di depan teman-temannya alias di depan orang asing yang belum pernah dia temui sebelumnya.
Hal ini mempengaruhi langkah anak memandang nilai dirinya yang rendah dan tidak penting. Hal ini apalagi mendorong anak untuk membikin dirinya dibenci dan tidak disukai orang lain. Kata-kata kasar yang tidak sengaja orang tua ucapkan kepada anak bakal memberikan akibat kepada psikologis anak.
Cara terbaik untuk menghadapi ini ialah menjelaskan kepada anak dengan lembut, tunjukkan mana yang salah dan berikan argumen kenapa perihal itu salah. Jangan membentak mereka, apalagi di depan orang lain. Orang tua hendaknya mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mendidik dan memberikan arahan, lantaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suri teladan terbaik. Allah Ta’ala berfirman,
لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِىۡ رَسُوۡلِ اللّٰهِ اُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنۡ كَانَ يَرۡجُوا اللّٰهَ وَالۡيَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيۡرًا ؕ
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Baca juga: Anak Tidak Percaya Diri
***
Penulis: Lisa Almira
Artikel Kincai Media
Catatan kaki:
Artikel ini diterjemahkan dengan sedikit perubahan dan tambahan dari IslamQA oleh Syekh Shalih al-Munajjid dengan titel “How to Boost Your Daughter’s Self-Confidence in Islam”.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·