Salah satu keistimewaan yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam dari Nabi yang lainnya adalah beliau Allah utus untuk seluruh bangsa. Tidak terkhusus bangsa Arab saja, tapi seluruh masyarakat bumi merupakan sasaran dakwah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Oleh lantaran itu, upaya beliau berceramah tidak hanya sebatas pada bangsa Arab saja, tapi ke seluruh bangsa. Salah satu upaya awal beliau untuk mendakwahi bangsa-bangsa lain adalah dengan mengirim surat kepada penguasa mereka. Salah satu surat tersebut adalah surat Rasulullah kepada Heraklius, kaisar Romawi (Bizantium).
Isi surat Rasulullah kepada Heraklius
Isi surat Rasulullah kepada Heraklius sebagaimana yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim adalah sebagai berikut,
بسم الله الرحمن الرحيم، من محمد رسول الله إلى هرقل عظيم الروم سلام على من اتبع الهدى أما بعد، فإني أدعوك بدعاية الإسلام أسلم تسلم، وأسلم يؤتك الله أجرك مرتين، وإن توليت فإن عليك إثم الأريسيين، و﴿ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad, utusan Allah, kepada Heraklius, penguasa besar Romawi. Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk.
Amma ba‘du, sesungguhnya saya mengajakmu dengan seruan Islam. Masuk Islamlah, niscaya engkau bakal selamat. Masuk Islamlah, niscaya Allah bakal memberimu pahala dua kali lipat. Namun jika engkau berpaling, maka engkau bakal menanggung dosa rakyatmu (para pengikutmu).
‘Wahai Ahli Kitab, marilah kepada satu kalimat yang sama antara kami dan kalian, bahwa kita tidak menyembah selain Allah, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tidak menjadikan sebagian kita sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah, “Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang muslim (yang bertawakal diri kepada Allah).”’ (QS. Ali Imran: 64)” (HR. Muslim)
Itulah isi surat Rasulullah kepada Heraklius, sebuah surat ringkas dengan isi yang tegas dan jelas, menyerukan dakwah Islam kepada masyarakat Romawi.
Pada surat ini, Rasulullah dengan jelas menyebut dirinya sebagai utusan Allah (Rasulullah), bukan sebagai Nabi. Mengapa? Hal tersebut agar Heraklius memahami bahwasanya Rasulullah adalah utusan Allah yang diutus untuk seluruh bangsa, bukan seorang Nabi yang hanya ditugaskan berceramah kepada bangsanya saja.
Surat ini juga ditutup dengan sebuah ayat yang agung, ialah surah Ali-Imran ayat ke-64. Hal tersebut dikarenakan orang Nasrani yang berilmu bisa membedakan mana firman Allah dan mana yang bukan lantaran wawasan mereka, pengalaman, serta pengetahuan tentang Injil. Hal tersebut sebagaimana yang sebelumnya pernah Rasulullah alami berbareng Waraqah bin Naufal.
Ayat tersebut juga merupakan sebuah ayat yang menyoroti masalah pada kaum Nasrani. Mereka menjadikan selain Allah sebagai sesembahan, mulai dari menyatakan Nabi Isa adalah anak Allah sekaligus tuhan, Allah adalah satu dari yang tiga, dan lain sebagainya.
Baca juga: Lima Rahasia Di Balik Kalender Masehi
Jawaban Heraklius terhadap surat Rasulullah
Surat yang ditulis oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai kepada Heraklius. Heraklius pun menjawab surat dari Rasulullah,
إلى أحمد رسول الله الذي بشر به عيسى؛ من قيصر ملك الروم، إنه جاءني كتابك مع رسولك، وإني أشهد أنك رسول الله، نجدك عندنا في الإنجيل، بشرنا بك عيسى بن مريم، وإني دعوت الروم إلى أن يؤمنوا بك فأبوا، ولو أطاعوني لكان خيراً لهم، ولوددت أني عندك فأخدمك وأغسل قدميك
“Kepada Ahmad, utusan Allah yang telah diberitakan oleh Isa, dari Kaisar, raja Romawi. Sungguh telah sampai kepadaku suratmu melalui utusanmu. Dan saya bersaksi bahwa engkau betul-betul utusan Allah. Kami mendapati sifatmu tertulis di sisi kami dalam Injil. Isa putra Maryam telah memberi berita ceria tentang kedatanganmu.
Sungguh, saya telah membujuk bangsa Romawi agar beragama kepadamu, namun mereka menolak. Seandainya mereka menaatiku, tentu itu lebih baik bagi mereka. Sungguh, saya berambisi dapat berada di sisimu, lampau melayanimu dan membasuh kedua kakimu.” (Majmu’ah al-Watsa’iq as-Siyasiyyah lil-‘Ahd an-Nabawi wal-Khilafah ar-Rasyidah)
Ternyata, surat Rasulullah kepada Heraklius disambut positif oleh Heraklius dan tidak diabaikan. Padahal, jika kita lihat pada waktu itu, Arab bukanlah suatu daerah yang kekuatannya diperhitungkan dan Romawi ketika itu merupakan salah satu kerajaan adi daya yang besar. Akan tetapi, Heraklius ketika itu mengetahui bahwa Rasulullah merupakan seorang Rasul yang telah dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam sehingga Heraklius pun menyambut dan menjawab surat dari Rasulullah.
Heraklius juga menyebut dan mengaku bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Heraklius pun menyebut nama Rasulullah terlebih dulu sebelum namanya sendiri sebagai corak penghormatan.
Akan tetapi, kenapa Heraklius menyebut nama Rasulullah dengan Ahmad dan bukan Muhammad? Hal tersebut dikarenakan nama Ahmad adalah nama yang dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam kepada para pengikutnya. Ahmad juga tentunya adalah nama lain dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Akan tetapi, walaupun Heraklius mengetahui bahwa Rasulullah adalah utusan Allah, dia tidak lantas menjadi seorang muslim. Heraklius memilih untuk tetap pada kepercayaan Nasrani lantaran bangsa Romawi tidak mau beragama kepada Rasulullah sehingga dia pun memilih untuk berbareng dengan bangsanya.
Pertemuan Heraklius dengan Abu Sufyan
Mengapa Heraklius bisa mengetahui bahwa Rasulullah merupakan seorang utusan Allah? Ternyata ketika itu, Allah takdirkan Heraklius berjumpa dengan Abu Sufyan yang sedang berdagang. Hal tersebut sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis,
أنَّ هِرَقلَ أرسَلَ إليه في رَكبٍ مِن قُرَيشٍ كانوا تِجارًا بالشَّأمِ، في المُدَّةِ التي مادَّ فيها رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أبا سُفيانَ في كُفَّارِ قُرَيشٍ
“Bahwa Heraklius mengutus seseorang kepadanya (Abu Sufyan) yang sedang berada dalam rombongan kaum Quraisy. Mereka sedang berbisnis di negeri Syam, pada masa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang mengadakan perjanjian gencatan senjata dengan Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy.” (HR. Bukhari)
Dari pertemuan dengan Abu Sufyan ini, Heraklius bertanya kepada Abu Sufyan tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Uniknya ketika itu, Abu Sufyan belum masuk Islam dan merupakan sosok yang memusuhi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi beliau tidak serta merta menjelek-jelekkan Rasulullah di hadapan Heraklius. Abu Sufyan pun menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Heraklius secara apa adanya.
Persaksian yang diberikan oleh Abu Sufyan tentang Rasulullah inilah yang menjadikan Heraklius mengetahui siapa sebenarnya Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Heraklius pun menyadari bahwa sifat-sifat Rasulullah yang disampaikan oleh Abu Sufyan merupakan sifat kenabian yang telah dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam.
Penutup
Dari surat Rasulullah kepada Heraklius, kita bisa menyimpulkan bahwa sifat-sifat yang dimiliki oleh Rasulullah betul-betul sifat kenabian. Sehingga kita jangan sampai ragu terhadap Islam kita, lantaran mereka yang bertempur terhadap Rasulullah tidak semuanya dikarenakan tidak tahu, tidak percaya, dan semisalnya. Akan tetapi, ada argumen lain yang menyebabkan mereka menolak dakwah Rasulullah, mulai dari kekuasaan, martabat, dan menjaga tradisi nenek moyang.
Baca juga: Pemerintahan dan Kekuasaan sebelum Islam
***
Penulis: Firdian Ikhwansyah
Artikel Kincai Media
Sumber: https://www.alukah.net/spotlight
English (US) ·
Indonesian (ID) ·