Mengenang Peristiwa Karbala: Pembantaian Tragis Cucu NabiKincai Media – Sore kamis, tanggal 9 Muharram (Hari Tasu’a), berdirilah 4000 pasukan perang utusan Yazid bin Muawwiyah. Sembari menenteng senjata, mereka bergerak menuju Karbala dibawah kendali seorang panglima berjulukan Ubaidillah bin Ziyad.
Bukan untuk berperang, apalagi menghadapi ancaman musuh, sejumlah besar pasukan dikerahkan hanya untuk memuaskan keinginannya sebagai penguasa baru, ialah meraih legitimasi dari musuh politiknya Sayyid Husein bin Ali.
Berbanding terbalik dengan jumlah kafilah yang ikut membersamai sayyid Husein, mereka berjumlah 72 orang yang terdiri dari sahabat dan juga kerabat.
Namun, tahukah kamu? Sayyid Husein sama sekali tidak tahu bahwa dalam perjalannnya nanti, dia bakal berhadapan dengan pasukan Yazid. Ingin tahu lebih lanjut? Mari kita simak kisah duka sayyid Husein sang cucu nabi berikut ini.
Undangan Masyarakat Kufah
Bermula dari keluhan masyarakat Kufah terhadap pemimpin barunya, Yazid. Mereka menolak berbaiat kepadanya dan menginginkan Sayyid Husein yang menjadi khalifah pengganti. Menerima keluhan itu, dengan percaya Sayyid Husein memutuskan pergi.
Namun, sebelum beranjak dari Makkah, Ibn Abbas membujuknya untuk tidak pergi ke Kufah. Ia mengatakan: “Husein, putra pamanku, sungguh saya sangat mengkhawatirkanmu. Warga Irak adalah kaum yang sering tidak setia. Kamu jangan terjebak pada bujuk-rayu mereka. Tinggal saja di sini”.
Dan betul saja, apa yang Ibn Abbas khawatirkan itu nyata terjadi. Dalam perjalannya kafilah Sayyid Husein mendapati sejumlah besar pasukan yang menahannya agar tidak masuk ke kota Kufah. Tempat dimana dua kubu itu berjumpa berjulukan Karbala.
Menolak tunduk, Memilih Gugur Bermartabat
Seseorang dari kubu Yazid datang menemui Sayyid Husein, dia bertanya: “Apa yang membuatmu datang ke mari?” Sayyid Husein menjawab: “Penduduk Kufah telah berkirim surat kepadaku, meminta agar saya mendatangi mereka. Maka jika mereka sekarang membenciku, saya bakal kembali ke Makkah dan meninggalkan kalian”.
Percakapan diantara mereka berujung kepada perundingan. Saat itu, kubu Yazid diwakilkan oleh Umar bin Sa’ad. Sayyid Husein menawarkan tiga pilihan kepadanya: pertama, dia pergi menemui Yazid. Kedua, dibiarkan kembali pulang ke tempat semula. Ketiga, dia pergi ke salah satu daerah perbatasan kaum muslimin untuk memerangi bangsa Turki.
Namun, keputusan tidak semulus yang direncanakan. Kubu Yazid enggan menerima salah satu tawaran. Ubaidillah bin Ziyad sang panglima perang, mengutus Syamir bin Dzi Jausyan untuk menemui Sayyid Husein dan menyampaikan bahwa jika dalam waktu dekat dia enggan tunduk, maka kami bakal menebas lehernya.
Pada akhirnya, keputusan tetap tidak berubah, Sayyid Husein teguh menjaga martabatnya, dia memilih untuk tidak tunduk kepada kekuasaan Yazid bin Muawiyyah.
Sebelum terjadi kecamuk perang, seusai menunaikan sholat Shubuh, pada hari Jum’at, bertepatan dengan 10 Muharram (Hari Asyura) tahun 61 H, Sayyid Husein bergegas keluar tenda, sembari menunggang kuda, dia menatap pasukan yang tengah mengepungnya itu. Kemudian menyampaikan khotbah terakhir:
“Lihat nasabku. Pandangilah siapa saya ini. Lantas lihatlah siapa diri kalian. Perhatikan apakah legal bagi kalian untuk membunuhku dan menciderai kehormatanku”.
“Bukankah saya ini putra dari anak wanita Nabimu? Bukankah saya ini anak dari washi dan keponakan Nabimu, yang pertama kali beragama kepada aliran Nabimu?”
“Bukankah Hamzah, pemuka para syuhada, adalah Pamanku? Bukankah Ja’far, yang bakal terbang dengan dua sayap di surga, itu Pamanku?”
“Tidakkah kalian mendengar kalimat yang viral di antara kalian bahwa Rasulullah berbicara tentang saudaraku dan aku: “keduanya adalah pemuka dari pemuda mahir surga?”
“Jika kalian percaya dengan apa yang saya sampaikan, dan sungguh itu betul lantaran saya tak pernah berdusta”.
“Tapi jika kalian tidak mempercayaiku, maka tanyalah Jabir bin Abdullah al-Anshari, Abu Sa’id al-Khudri, Sahl bin Sa’d, Zaid bin Arqam dan Anas bin Malik, yang bakal menunjukkan kalian bahwa mereka pun mendengar apa yang Nabi sampaikan mengenai kedudukan saudaraku dan aku”. “tidakkah ini cukup menghalangi kalian untuk menumpahkan darahnku?”
Mendengar Sayyid Husein berkhutbah, tidak membikin mereka tergugah. Hati yang telah menjadi batu, selembut apapun nasihat bakal tetap keras juga, apalagi jika itu adalah kebenaran.
Pada akhirnya perang tak dapat terelakkan, Sayyid Husein gugur berbareng para sahabatnya. Seseorang dari kubu Yazid berjulukan Sinan bin Anas An-Nakha’i secara sadis memenggal kepala mulia Sayyid Husein bin Ali dan memberikannya kepada Khawali bin Yazid untuk dibawa ke Kufah.
Hari diwaktu Sayyid Husein bin Ali gugur, sekarang menjadi moment bersungkawa umat muslim dunia, terlebih muslim Syiah. Setiap berjumpa Asyura, mereka bakal meningkatkan bendera hitam dan berkumpul untuk berkunjung juga berkabung secara massal. Mereka juga tidak segan-segan melukai dirinya sendiri dengan barang tajam sebagai simbolik empati atas gugurnya Sayyid Husein bin Ali.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·