Bersahabat Hingga Ke Surga

Jun 24, 2026 07:45 AM - 2 jam yang lalu 123

Kincai Media , JAKARTA -- Seorang laki-laki datang ke majelis Nabi Muhammad SAW. Seperti biasa, semua kalangan mau menyerap pengetahuan dari sang sumber utama.

Tak disebutkan jelas siapa nama laki-laki itu. Perawakan dan pembawaannya seperti kaum Arab Badui. Demikian kejadian ini diriwayatkan Anas bin Malik.

Anas menuturkan, laki-laki Arab Badui ini memang menyimak pidato Rasulullah SAW tentang hari kiamat. Namun, raut wajahnya gelisah. Seolah-olah mau mencari celah untuk menyela Nabi SAW.

Ketika Rasul SAW sedang menjeda ceramahnya, tiba-tiba si Arab Badui berdiri. Tanpa basa-basi, dia melontarkan pertanyaan kepada Nabi SAW, “Kapankah hari hariakhir terjadi?”

Nabi SAW memang layak digelari fathanah. Beliau bisa menjawab semua pertanyaan dari semua golongan. Cara menjawabnya pun disesuaikan dengan kapabilitas tiap penanya.

Menjawab si Arab Badui, Rasulullah SAW tak hendak menerangkan ciri-ciri alias tanda-tanda hari akhir. Dan, beliau pun tak menjawab dengan menyebut persis kapankah hari pembalasan itu bakal datang.

Yang beliau lakukan adalah kembali bertanya kepada sang Arab badui. Sebuah pertanyaan yang bakal melahirkan norma pengetahuan nan agung.

“Apa yang telah engkau persiapkan untuknya (hari kiamat)?"

Dengan spontan, si Arab Badui menjawab lugas, “Saya tidak mempunyai ibadah yang banyak untuk mempersiapkan kedatangannya (hari kiamat), tetapi saya sungguh mencintai Allah dan Rasul-Nya."

“Seseorang (pada hari kiamat) bakal berbareng dengan orang yang dia cintai,” timpal Rasulullah SAW.

Kisah yang termaktub dalam sabda jalur periwayatan Imam Muslim itu memberikan sebuah ilmu. Barangsiapa mencintai seseorang lantaran Allah dan Rasul-Nya, maka dia bakal dikumpulkan pada hari akhir berbareng yang dicintainya itu.

Rasulullah tidak menjawab, semisal, “seseorang bakal berbareng Allah dan Rasul-Nya jika dia mencintai keduanya.” Namun, Nabi SAW meluaskan maknanya. Maka sabda itu dapat dibaca, "siapa saja, yang mengikrarkan cinta terhadap sesama atas dasar iman, maka dia bakal bersamanya kelak saat hari akhir."

Tak berlebihan jika menyebut, persahabatan tak hanya bakal berakhir di dunia. Persaudaraan bakal kekal kelak hingga akhirat.

Berkawan dengan orang saleh mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupan. Jika kita mau melakukan maksiat, ada lingkungan yang mengingatkan dan menjaga kita. Jadi, kita pun mengurungkan niat perbuatan jelek tersebut. Beberapa ustadz apalagi mewajibkan hukumnya berkawan dengan orang saleh.

Islam juga datang dengan segala kemungkinan persaudaraan. Dalam berkawan, layaknya rumah tangga, kadang dilanda ujian persahabatan, tak jarang diberi nikmat ukhuwah yang menguat. Saat ujian persaudaraan hadir, Islam pun memberikan norma yang mulia.

Selengkapnya