55 Faedah Hari Arafah (bag. 3)

May 24, 2026 11:00 AM - 13 jam yang lalu 311

Faedah ke-24:

Disunahkan berpuasa Arafah bagi muslimin yang tidak berhaji. Ia ibaratkan ghanimah (harta rampasan perang) yang sangat besar, dikarenakan dapat menghapuskan dosa selama 2 tahun, ialah tahun yang lampau dan tahun yang bakal datang. Hal itu sebagaimana firman Alah Ta’ala,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Puasa hari Arafah (9 Zulhijah), saya berambisi kepada Allah, Dia bakal menghapuskan dosa satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya. Dan puasa hari ‘Asyura` (10 Muharam), saya berambisi kepada Allah, Dia bakal menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya.”  (HR. Muslim no. 1162)

Faedah ke-25:

Salah satu puasa sunah yang paling utama adalah puasa Arafah. Hendaknya seseorang beriktikad di malam hari agar mendapat pahala yang sempurna dan sahur termasuk niat puasa.

Faedah ke-26:

Seyogyanya seorang muslim bermufakat dengan istri, anak-anak, dan orang-yang menjadi tanggungannya untuk bangun sahur berbareng dan berpuasa Arafah. Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata,

Donasi Kincai Media

أيقظوا خدمكم يتسحرون لصوم يوم عرفة

“Bangunkanlah pelayan dan personil family kalian untuk bersahur puasa hari Arafah.”

Faedah ke-27:

Apabila wukuf di Arafah bertepatan dengan hari Jumat alias Sabtu, maka tidak terlarang untuk berpuasa pada hari itu saja dan tidak dimakruhkan. Karena dia berpuasa pada hari yang disyariatkan untuk berpuasa, bukan semata-mata lantaran hari Jumat alias Sabtu. (Lihat Fathul Bari, 4: 234; Fatwa Ibnu Baz, 15: 414; dan Fatawa Ibnu Utsaimin, 20: 58)

Faedah ke-28:

Barang siapa yang mempunyai qadha Ramadan (utang puasa Ramadan), maka tidak terlarang baginya puasa Arafah dengan tujuan puasa sunah. Kemudian dia mengqadha puasanya pada hari setelahnya. Karena puasa sunah diperbolehkan sebelum mengqadha puasa Ramadan, inilah pendapat yang sahih. Dikarenakan puasa sunah itu berangkaian dengan waktu tertentu yang harinya sigap berlalu; sedangkan qadha puasa, waktunya luas.

Faedah ke-29:

Barang siapa yang mempunyai qadha Ramadan kemudian dia berpuasa pada hari Arafah dengan niat mengqadha puasa Ramadannya, maka qadhanya sah dan diharapkan dia mendapatkan pahala puasa Arafah. Ini menurut sebagian ahlul ‘ilmi, seperti fatwa Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah. Ia mendapatkan pahala puasa Arafah dengan puasa qadha.

Faedah ke-30:

Akan tetapi, yang lebih utama adalah mengqadha puasa Ramadan pada hari selain hari Arafah. Hendaknya dia berpuasa Arafah dengan niat puasa sunah, kemudian mengqadha apa yang menjadi tanggungjawab baginya sehingga dia mengumpulkan dua keutamaan: keistimewaan qadha dan keistimewaan puasa hari Arafah. (Lihat Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, 10: 398)

Faedah ke-31:

Bagi para musafir, tidak kenapa berpuasa Arafah jika tidak memberatkannya.

Faedah ke-32:

Orang yang dilarang puasa Arafah adalah orang sakit, wanita hamil, dan menyusui. Namun, bagi orang-orang yang terbiasa berpuasa Arafah setiap tahun, maka baginya pahala dengan niatnya dan hendaknya dia antusias untuk melakukan amal-amal kebaikan dan sebab-sebab mendapatkan pembebasan lainnya. Di dalam sabda dikatakan,

إذا مرض العبد أو سافر، كتب له مثل ما كان يعمل مقيما صحيحا

“Apabila seorang hamba sakit alias sedang melakukan safar, dicatat baginya pahala dari ibadah yang dia biasa lakukan ketika mukim alias sehat.” (HR. Bukhari no. 2996)

Faedah ke-33:

Berusahalah sekuat tenaga membikin dosa-dosa terbenam bersamaan dengan terbenamnya mentari.

Faedah ke-34:

Memulai takbir muqayyad (terikat waktu) setelah selesai salat-salat wajib, dimulai waktu subuh hari Arafah bagi selain jemaah haji. Adapun bagi jemaah haji, dimulai sejak waktu zuhur hari nahr. Takbir muqayyad berhujung pada waktu Asar hari tasyrik yang ketiga (13 Zulhijah).

Faedah ke-35:

Doa-doa di hari Arafah diharapkan untuk dikabulkan. Oleh karena itu, perbanyaklah doa-doa kebaikan bumi dan alambaka dan bersungguh-sungguhlah dalam bermohon dengan mengangkat kedua tangan, merendahkan diri, dan bermohon sepenuh hati disertai tangisan.

خيرُ الدعاءِ دعاءُ يومِ عرفةَ

“Sebaik-baik angan adalah angan pada hari Arafah.” (HR. At-Tirmidzi no. 3585, dinilai hasan oleh Al-Albani)

Faedah ke-36:

Poin krusial yang tidak boleh terlewat adalah menghadirkan hati saat berdoa. Menjauhkan diri dari segala perihal yang melalaikan dan menghadirkan rasa kedekatan serta kemurahan Allah. Inilah di antara perihal terbesar yang membantu seseorang untuk bersungguh-sungguh dan merendahkan diri saat bermohon kepada Allah Ta’ala.

Faedah ke-37:

Yang paling utama adalah bermohon dengan dalil-dalil yang terdapat di dalam Al-Quran dan As-Sunnah, misalnya angan sapu jagat pada surah Al-Baqarah ayat 201,

رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

“Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di bumi dan kebaikan di alambaka dan peliharalah kami dari siksa neraka.”

Contoh angan lainya,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

“Ya Allah, saya memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, keterjagaan, dan kekayaan.” (HR. Muslim no. 2721, At-Tirmidzi no. 3489, Ibnu Majah no. 3105, Ibnu Hibban no. 900, dan yang lainnya)

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِى دِينِىَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِى، وَأَصْلِحْ لِى دُنْيَاىَ الَّتِى فِيهَا مَعَاشِى، وَأَصْلِحْ لِى آخِرَتِى الَّتِى فِيهَا مَعَادِى. وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِى فِى كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِى مِنْ كُلِّ شَرٍّ

“Ya Allah, perbaikilah bagiku agamaku sebagai tembok urusanku, perbaikilah bagiku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku, perbaikilah bagiku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku. Jadikanlah ya Allah, kehidupan ini mempunyai nilai tambah bagiku dalam segala kebaikan dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala kejahatan.” (HR. Muslim no. 2720)

Dan doa-doa sahih lainnya alias bermohon dengan angan yang disukai.

Faedah ke-38:

Di antara perihal yang diminta pada doa-doa nubuwwah adalah ampunan, rahmat, pembebasan dari neraka, pemaafan dan kesehatan, keikhlasan, petunjuk, ketakwaan, kesucian, kekayaan, ditutupnya aib, rezeki, penjagaan, pertolongan, rasa aman, dan yang lebih agung dari itu semua, ialah surga Firdaus dan kelezatan memandang wajah Allah Ar-Rahman. Jadikanlah doa-doa tersebut doa-doa kita pada hari Arafah.

Faedah ke-39:

Berusahalah semaksimal mungkin ketika berzikir, berdoa, membaca kalamullah serta membaca beragam macam zikir dan doa-doa untuk diri sendiri, kedua orang tua, pasangan, anak-anak, karib kerabat, sahabat-sahabat, para masyaikh dan ulama. Tidak lupa juga mendoakan semua orang yang berpegang teguh pada kebenaram, kaum muslimin. Waspada dan berhati-hatilah, jangan sampai lalai lantaran hari ini tidak dapat diulang, hanya terjadi setahun sekali, berbeda dengan hari-hari yang lain.

Faedah ke-40:

Di antara angan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu pada hari ini yaitu,

لا إلهَ إلا اللهُ وحدهُ لا شريك لهُ له الملكُ وله الحمدُ وهو على كلِّ شيءٍ قديرٌ، اللهم اهدِنا بالهُدى وزيِّنا بالتقوى واغفرْ لنا في الآخرةِ والأولى

“Tiada sesembahan yang berkuasa disembah selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan segala pujian. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, berilah kami petunjuk dan hiasilah kami dengan takwa, dan ampunilah kami di alambaka dan di dunia.

ثم يخفضُ صوتَه ثم يقول : اللهم إني أسألك من فضلِك وعطائِك رزقًا طيبًا مباركًا، اللهم إنك أمرتَ بالدعاءِ وقضيتَ على نفسِك بالاستجابةِ، وأنت لا تُخلفُ وعدَك ولا تكذبُ عهدَك

Kemudian dia merendahkan suaranya, lalu berkata, ‘Ya Allah, sungguh saya memohon kepada-Mu sebagian dari karunia-Mu dan pemberian-Mu, ialah rezeki yang baik dan berkah. Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah memerintahkan untuk bermohon dan Engkau telah menetapkan atas diri-Mu untuk mengabulkannya. Dan Engkau tidak bakal mengingkari janji-Mu serta tidak bakal mendustakan ikrar-Mu.

اللهم ما أحببتَ من خيرٍ فحبِّبهُ إلينا ويسِّرهُ لنا، وما كرهتَ من شيءٍ فكرِّههُ إلينا وجنِّبناهُ، ولا تنزعْ منا الإسلامَ بعد إذْ أعطيتنَاهُ

Ya Allah, kebaikan apa pun yang Engkau cintai, maka jadikanlah kami mencintainya dan mudahkanlah bagi kami. Dan apa pun yang Engkau benci, maka jadikanlah kami membencinya dan jauhkanlah kami darinya. Dan janganlah Engkau mencabut Islam dari kami setelah Engkau memberikannya kepada kami.’” (HR. At-Thabrani dalam Ad-Du’a, no. 878. Dinilai hasan oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Syarh Umdatul Ahkam, 3: 509)

Faedah ke-41:

Seorang muslim yang mengharapkan pembebasan Allah Ta’ala dan dibebaskan dari api neraka pada hari ini semestinya antusias untuk menjaga personil badannya dari hal-hal yang haram dan menghindari dosa. Mohonlah pembebasan dan bertobat kepada-Nya serta bertekadlah untuk kembai kepada Allah dan menyesali dosa-dosa di masa lampau. Jadikanlah kebiasaan ini tidak hanya hari ini saja, melainkan konsisten setiap hari sepanjang tahun.

إنَّ هذا يومٌ مَن ملَكَ فيهِ سمعَهُ وبصرَهُ ولسانَهُ غفرَ لَهُ

“Sesungguhnya hari ini adalah hari yang barang siapa yang mengendalikan pendengarannya, penglihatannya, dan lisannya, niscaya bakal diampuni baginya.” (HR. Ahmad no. 1403, dinilai sahih oleh Al-Mundziri dan Ahmad  Syakir. Adapun Syekh al-Albani menilai sabda ini dha’if.)

[Bersambung]

KEMBALI KE BAGIAN 2 LANJUT KE BAGIAN 4

***

Penerjemah: Atma Beauty Muslimawati

Artikel Kincai Media

Sumber:

Diterjemahkan dari e-book Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah yang berjudul: 55 Faidah fi Yaumi ‘Arafah.

Selengkapnya