Mempelajari pengetahuan sabda termasuk peribadahan yang agung. Hal ini meliputi mempelajari perkataan, perbuatan, dan persetujuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Nabi yang paling mulia. Sanad adalah kekhususan umat ini, yang tidak dimiliki oleh kepercayaan umat sebelumnya, dan pengetahuan yang tidak ternilai dalam mempelajari kepercayaan Allah ‘Azza wa Jalla. Bahkan, umat Islam disebut juga sebagai “umat sanad”. Karena dari sanad, sabda bisa diterima alias ditolak. Mempelajarinya butuh kepintaran yang mumpuni dalam menghafal, meneliti, dan yang paling krusial adalah memerlukan ketakwaan dan rasa takut kepada Allah agar sabda tersebut terhindar dari kerusakan.
Imam al-Bukhari, yang mempunyai nama komplit Abu ‘Abdullah Muhammad ibn Isma‘il al-Ju‘fi, merupakan tokoh legendaris yang digelari dengan gelar kehormatan Amirul Mukminin fil Hadis. Predikat ini disematkan lantaran dedikasi, kepintaran luar biasa, serta ketakwaannya yang fenomenal (Al-Mirshafi, n.d).
Biografi dan murid-murid Imam al-Bukhari
Di antara murid-murid beliau adalah Imam Muslim, Ibnu Khuzaimah, at-Tirmidzi, Muhammad bin Nashrudin al-Marwazi, Ibnu Abu Daud, dan tetap banyak lagi. Kitabnya yang fenomenal adalah al-Jami’ ash-Shahih di mana itu adalah kitab yang paling sahih setelah Al-Quran berasas kesepakatan umat, yang tidak menyetujui perihal tersebut hanyalah segelintir orang yang banyak kekeliruannya. Beliau dilahirkan pada tahun 174 Hijriah, dan wafat di malam Lebaran pada tahun 256 Hijriah. Semoga Allah Ta’ala memberikan kasih sayang-Nya yang luas, dan semoga Allah membalas segala kebaikannya terhadap kepercayaan ini dengan sebaik-baik balasan. Amin. (Adz-Dzahabi, 1998, 2: 555-556)
Sejarah mencatat beliau sebagai pemilik daya ingat luar biasa yang bisa menghafal isi sebuah kitab hanya dengan sekali baca. Ada yang mengatakan bahwa dia menghafal sejak tetap mini sebanyak 70.000 sabda secara lancar dan sekali duduk. Dan diriwayatkan pula bahwasanya beliau memandang satu kitab sekali saja, dan beliau bisa menghafalnya dalam sekali lihat. (Aḥmad ibn Muhammad al-Qasṭhallani, 1905, hal. 33)
Kapasitas memorinya yang melampaui rata-rata manusia memungkinkan beliau menguasai ratusan ribu riwayat. Beliau sendiri pernah menyatakan telah menghafal 100.000 sabda sahih dan 200.000 sabda yang tidak sahih. (Yusuf ibn Muhammad al-Dukhil, 2003, hal. 175)
أحفظ مئة ألف حديث صحيح، ومئتي ألف حديث غير صحيح
“Aku menghafal 100.000 sabda sahih dan 200.000 sabda tidak sahih.”
Penting untuk dipahami bahwa istilah “tidak sahih” dalam mahfuz beliau mencakup kategori hasan dan dha’if. Hadis hasan mempunyai kualitas yang mendekati sahih, namun dengan tingkat mahfuz (dhabt) perawi yang sedikit lebih rendah. Sementara itu, sabda dha’if adalah riwayat yang tidak memenuhi standar minimal, baik untuk dikategorikan sebagai sahih maupun hasan.
Penulis kitab paling sahih setelah Al-Quran
Berbekal khazanah mahfuz yang luar biasa, Imam al-Bukhari rahimahullah melakukan seleksi ketat untuk menyusun karyanya yang terkenal berjudul al-Jami‘ al-Musnad ash-Shahih al-Mukhtashar min Umuri Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallama wa Sunanihi wa Ayyamihi atau yang lebih terkenal dengan julukan Shahih al-Bukhari.
Secara umum, sebuah riwayat dikategorikan sahih andaikan sanadnya bersambung hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, matannya terhindar dari kejanggalan (syadz) maupun abnormal tersembunyi (‘illah), serta diriwayatkan oleh perawi yang ‘adl dan mempunyai tingkat kedabitan (dhabt) yang mumpuni (al-Baiquni, n.d).
Namun, sebagaimana ditegaskan oleh para ulama, seperti Imam an-Nawawi (Yahya ibn Syaraf an-Nawawi, 1972, 1: 15.), Ibnu Hajar al-‘Asqalani (Ibn Hajar al-‘Asqalani, hal. 11.), dan Ibnu al-Shalah (Ibn ash-Shalah, hal. 17–18) bahwa Imam al-Bukhari menetapkan standar yang lebih tinggi. Beliau mewajibkan adanya bukti pertemuan langsung (liqa’) antara siswa dan guru, bukan sekadar hidup dalam satu kurun waktu (mu’asharah).
Tingginya standar kualitas ini membuahkan pengakuan luas dari para otoritas ulama, antara lain:
Imam an-Nawawi mengatakan,
اتفق العلماء رحمهم الله على أن أصح الكتب بعد القرآن العزيز الصحيحان: البخاري ومسلم
“Para ustadz telah sepakat bahwa kitab yang paling sahih setelah Al-Quran al-‘Aziz adalah dua kitab sahih: al-Bukhari dan Muslim.” (Al-Minhaj Sharh Shahih Muslim, hal. 14)
Ibnu ash-Shalah mengatakan,
“أول مصنف في الصحيح المجرد: صحيح البخاري، وأصح الكتب بعد القرآن العزيز”
“Kitab pertama yang disusun unik sabda sahih adalah Shahih al-Bukhari, dan dia adalah kitab paling sahih setelah Al-Quran Al-‘Aziz.” (Muqaddimah Ibn al-Salah, hal. 11)
Imam adz-Dzahabi mengatakan,
وأجل الكتب بعد كتاب الله تعالى صحيح البخاري ومسلم
“Kitab yang paling agung setelah Kitab Allah adalah Shahih al-Bukhari dan Muslim.” (Tadzkirat al-Huffaz, hal. 555)
Imam Bukhari adalah karunia yang Allah turunkan kepada umat Muhammad, yang dengan sebabnya umat ini bisa mempelajari perkataan-perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tingkat kesahihan yang tinggi di bawah Al-Quran. Oleh lantaran itu, ini merupakan nikmat yang luar biasa yang sepatutnya kita syukuri, ialah dengan mempelajari, menghafal dan mengamalkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kehidupan kita. Allahu a’lam.
***
Penulis: Triani Pradinaputri
Artikel Kincai Media
Referensi:
al-Mirshafi, ‘A. F. (n.d.). Hidayatul-Qari’ ila Tajwidil-Kalamil-Bari (Jilid 2, Cet. 2). Maktabah ath-Thayyibah.
al-Dukhil, Y. M. (2003). Su’alat at-Tirmidzi lil-Bukhari hawla Ahadits fi Jami‘ at-Tirmidzi. ‘Imadat al-Bahts al-‘Ilmi bil-Jami‘ah al-Islamiyyah.
an-Nawawi, A. Z. M. D. Y. (1972). Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj (Cet. 2, Jilid 1–18). Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi.
al-Dzahabi, S. D. M. A. (1998). Tadzkiratul-Huffaz (Z. ‘Umairat, Ed.; Jilid 1–5). Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
al-Qasthallani, A. M. (1905). Irsyad al-Sari li Syarh Shahih al-Bukhari (Kairo: al-Mathba‘ah al-Kubra al-Amiriyyah, hal. 33.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·