Khutbah Jumat: Takwa, Kunci Kesuksesan Dunia Dan Akhirat

Jun 25, 2026 11:32 AM - 2 jam yang lalu 55
 Takwa, Kunci Kesuksesan Dunia dan AkhiratKhutbah Jumat: Takwa, Kunci Kesuksesan Dunia dan Akhirat

Kincai Media – Takwa bukanlah konsep yang jauh dan susah dijangkau. Takwa datang dalam kejujuran ketika tidak ada yang melihat, dalam amanah ketika tidak ada yang mengawasi, dan dalam keberanian meninggalkan yang haram meskipun kesempatan terbuka lebar. Berikut ini khutbah Jumat tentang takwa kunci kesuksesan dunia dan akhirat.

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَزْمَانَ مَوَاسِمَ لِلطَّاعَاتِ، وَفَضَّلَ بَعْضَ الشُّهُوْرِ عَلَى بَعْضٍ بِالْحِكَمِ وَالْبَرَكَاتِ, وَجَعَلَ شَهْرَ شَعْبَانَ شَهْرَ الصَّلَاةِ وَالْإِعْتِيَادِ. وَأَشْهَدُ أنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ:يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

Hampir setiap Jumat kita mendengar pesan yang sama dari atas mimbar. Para khatib mengulanginya acapkali dengan kalimat yang berbeda, tetapi maknanya tetap satu: bertakwalah kepada Allah.

Pesan itu begitu sering kita dengar hingga terasa biasa. Ia lewat begitu saja di telinga, seperti bunyi yang berkawan tetapi tidak lagi mengundang perhatian. Kita mengamininya, lampau kembali sibuk dengan pekerjaan, urusan keluarga, tagihan yang kudu dibayar, sasaran yang kudu dicapai, dan beragam persoalan hidup yang menunggu di luar masjid.

Padahal jika direnungkan, ada sesuatu yang menarik. Mengapa Al-Qur’an dan para ustadz nyaris tidak pernah jenuh berbincang tentang takwa? Mengapa para khatib terus mengulanginya setiap pekan? Tentu bukan lantaran takwa adalah tema yang bagus untuk didengar. Ada sesuatu yang jauh lebih krusial dari itu. Takwa adalah perkara yang menentukan arah hidup seseorang.

Masalahnya, banyak orang memahami takwa sebagai sesuatu yang berada jauh di atas kepala mereka. Ketika mendengar kata takwa, yang terbayang adalah ibadah yang panjang, wirid yang banyak, puasa yang berat, alias kesalehan yang susah dicapai. Akibatnya takwa terasa seperti sebuah puncak gunung yang hanya bisa didaki oleh sedikit orang.

Padahal takwa justru sering muncul dalam peristiwa-peristiwa yang sangat biasa. Takwa datang ketika seseorang menemukan kesempatan untuk melakukan curang tetapi memilih jujur. Takwa datang ketika seorang pegawai tetap bekerja dengan sungguh-sungguh meskipun tidak ada pemimpin yang mengawasi.

Takwa datang ketika seorang pedagang menjelaskan kekurangan peralatan dagangannya, padahal dia bisa saja menyembunyikannya. Takwa datang ketika seseorang bisa menahan diri untuk tidak mengatakan sesuatu yang menyakitkan meskipun dia bisa melakukannya.

Dengan kata lain, takwa bukan pertama-tama tentang sesuatu yang besar. Takwa sering kali dimulai dari hal-hal mini yang tidak dilihat manusia, tetapi dilihat oleh Allah.

Karena itulah Al-Qur’an menghubungkan takwa dengan satu kebiasaan yang sangat penting: mengevaluasi diri.

Allah berfirman dalam Surah Al-Hasyr ayat 18:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok.”

Ayat ini menarik lantaran Allah tidak hanya memerintahkan takwa. Allah juga memerintahkan manusia untuk memandang kembali apa yang sedang dipersiapkannya. Seakan-akan takwa tidak mungkin tumbuh pada diri seseorang yang tidak pernah berakhir untuk memeriksa dirinya sendiri.

Kita hidup di era ketika nyaris segala sesuatu diperiksa secara berkala. Kendaraan kudu diservis. Keuangan kudu diaudit. Barang dagangan kudu dicek. Bahkan telepon genggam yang kita gunakan setiap hari mempunyai fitur untuk memantau kondisi sistemnya.

Namun sering kali ada satu perihal yang tidak pernah kita periksa dengan serius: keadaan diri kita sendiri. Kita tahu berapa jumlah saldo yang kita miliki. Kita tahu berapa sasaran yang kudu dicapai bulan ini. Kita tahu perkembangan buletin dari beragam bagian dunia. Tetapi tidak banyak yang betul-betul tahu ke mana hidupnya sedang berjalan.

Di sinilah penjelasan Imam Al-Mawardi menjadi sangat relevan. Dalam tafsir An-Nukat wa al-‘Uyun, beliau menjelaskan bahwa ayat ini membujuk manusia untuk memandang apa yang telah dia kirimkan untuk masa depannya.

Bukan masa depan yang berjarak puluhan tahun, melainkan masa depan yang oleh Al-Qur’an disebut dengan satu kata yang sangat mengejutkan: ghad (besok).

Akhirat disebut sebagai “besok”. Pilihan kata ini mengandung pesan yang mendalam. Manusia sering menganggap alambaka sebagai sesuatu yang jauh. Terlalu jauh untuk dipikirkan sekarang. Terlalu jauh untuk dijadikan pertimbangan dalam mengambil keputusan hari ini.

Padahal Al-Qur’an justru menyebutnya “besok”. Artinya, kehidupan setelah kematian sesungguhnya lebih dekat daripada yang kita bayangkan.

Karena itu, takwa bukan sekadar rasa takut kepada Allah. Takwa adalah kesadaran untuk selalu bertanya: jika hari ini adalah bekal untuk besok, bekal apa yang sedang saya kumpulkan?

Pertanyaan ini menjadi semakin krusial ketika kita membaca ayat setelahnya:

وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنْسٰىهُمْ اَنْفُسَهُمْ

“Janganlah Anda seperti orang-orang yang melupakan Allah, lampau Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri.”

Ayat ini seolah menggambarkan penyakit manusia modern. Hari ini seseorang bisa mengetahui banyak perihal tentang dunia, tetapi tidak mengetahui banyak perihal tentang dirinya sendiri.

Ia mengikuti perkembangan politik setiap hari, tetapi tidak tahu kapan terakhir kali dia mengoreksi kesalahannya. Ia mengetahui kehidupan banyak orang melalui media sosial, tetapi tidak mengenali keadaan hatinya sendiri.

Kesibukan yang tidak terkendali sering membikin manusia kehilangan keahlian untuk berbincang dengan dirinya sendiri. Ketika itulah seseorang mulai kehilangan arah. Ia mungkin terus bergerak, tetapi tidak tahu menuju ke mana.

Maka takwa sesungguhnya adalah penjaga arah hidup. Ia menjaga manusia agar tidak tersesat dalam kesibukan yang tidak ada ujungnya. Ia menjaga manusia agar tidak terjebak pada ukuran-ukuran keberhasilan yang hanya berkarakter duniawi.

Ia mengingatkan bahwa hidup bukan sekadar tentang apa yang sukses dikumpulkan, tetapi juga tentang apa yang sukses dipertanggungjawabkan.

Pemahaman seperti inilah yang tampaknya mau ditegaskan oleh Umar bin Abdul Aziz, dikutip dari Kitab Tafsir Ibnu Rajab al-Hanbali ketika beliau berkata:

وقال عمر بن عبد العزيز : ليس تقوى الله بصيام النهار، ولا بقيام الليل، والتخليط فيما بين ذلك، ولكن تقوى الله ترك ما حرم الله، وأداء ما افترض الله، فمن رزق بعد ذلك خيرا، فهو خير إلى خير.

“Takwa kepada Allah bukanlah sekadar berpuasa di siang hari dan menghidupkan malam dengan ibadah, sementara di sela-sela itu tetap melakukan pelanggaran. Akan tetapi takwa adalah meninggalkan apa yang diharamkan Allah dan menunaikan apa yang diwajibkan-Nya.”

Perkataan ini terasa sangat membumi. Sebab takwa rupanya tidak diukur dari seberapa sering seseorang terlihat saleh, melainkan dari seberapa kuat dia menjaga dirinya ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Takwa tidak hanya hidup di masjid. Takwa juga hidup di kantor, di pasar, di ruang kelas, di ruang rapat, dan di layar telepon genggam kita. Takwa datang ketika seseorang kudu memilih antara untung dan kejujuran, antara kepentingan pribadi dan amanah, antara mengikuti hawa nafsu alias mengikuti petunjuk Allah.

Karena itulah Allah kemudian menghubungkan takwa dengan perkataan yang benar:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”

Ibnu Asyur menjelaskan bahwa ketakwaan merupakan golongan seluruh kebaikan, sedangkan perkataan yang betul adalah salah satu jalan terbesar untuk menyebarkan kebaikan tersebut. Artinya, takwa tidak cukup hanya menjadi kepercayaan di dalam hati. Ia kudu tampak dalam ucapan, sikap, dan tindakan.

Pada akhirnya, takwa bukanlah konsep yang rumit. Takwa adalah keahlian menjaga diri ketika tidak ada yang mengawasi. Takwa adalah keberanian mengoreksi diri sebelum mengoreksi orang lain. Takwa adalah kesadaran bahwa hidup sedang bergerak menuju sebuah “besok” yang pasti datang.

Mungkin lantaran itulah Al-Qur’an tidak pernah capek mengingatkan manusia tentang takwa. Sebab manusia sering lupa. Bukan lupa kepada dunia, tetapi lupa kepada dirinya sendiri.

Dan ketika seseorang tetap mau bertanya setiap malam, “Apa yang sudah saya persiapkan untuk besok?”, maka sesungguhnya benih-benih takwa tetap hidup di dalam hatinya.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ، لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمِ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ.

اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ.

اَللّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Sertifikasi Halal

Selengkapnya