Hukum Wakaf Uang dalam Perspektif FikihPertanyaan
Saat ini wakaf duit (cash waqf) semakin terkenal di tengah masyarakat. Bahkan beragam lembaga finansial syariah menyediakan jasa wakaf duit yang dapat dilakukan secara mudah. Namun, gimana sebenarnya norma wakaf duit menurut para ustadz fikih? Apakah norma wakaf duit dibenarkan dalam hukum Islam?
Jawaban
Wakaf pada dasarnya merupakan corak penahanan pokok kekayaan (ḥabsul aṣl) dan mengalirkan manfaatnya untuk kepentingan umum alias tujuan kebajikan. Karena itu, para ustadz berbeda pendapat ketika membahas norma wakaf duit (waqf al-nuqūd), mengingat duit pada umumnya dimanfaatkan dengan langkah dibelanjakan sehingga zatnya tidak lagi tetap sebagaimana barang wakaf pada umumnya.
Berdasarkan kitab Al-Mausu‘ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah dijelaskan bahwa kebanyakan ustadz Syafi’iyah dan Hanabilah tidak membolehkan wakaf uang.
ذهب الحنابلة والشافعية في الأصح، وابن شاس وابن الحاجب من المالكية إلى أن وقف النقود غير جائز؛ لأن النقود لا ينتفع بها مع بقاء عينها، بل الانتفاع بها إنما هو بإنفاقها، وهو استهلاك لأصلها، وذلك مخالف لموضوع الوقف.
Artinya; Mazhab Hanbali dan ajaran Syafi‘i dalam pendapat yang paling sahih, serta Ibnu Syās dan Ibnu al-Ḥājib dari kalangan Malikiyah beranggapan bahwa wakaf duit tidak diperbolehkan. Sebab, duit tidak dapat dimanfaatkan dengan tetap mempertahankan bendanya (zatnya).
Manfaat duit hanya dapat diperoleh dengan membelanjakannya, sedangkan pembelanjaan itu berfaedah menghabiskan pokoknya. Hal tersebut bertentangan dengan prinsip wakaf.
Mereka juga membedakan antara menyewakan alias meminjamkan duit untuk tujuan tertentu dengan mewakafkannya. Dalam kitab yang sama disebutkan:
وفرقوا بين إجارة النقود، وإعارتها لمنفعة التزين بها، أو معايرة الوزن بها، أو نحو ذلك من المنافع، وبين وقفها على مثل هذه المنافع، بأن المنفعة الأصلية المقصودة التي خلقت لها النقود هي كونها أثمانا تنفق إلى الأغراض والحاجات، وأن الإجارة والإعارة المعتبر فيهما عدم الدوام بخلاف الوقف. وفي وجه عند الحنابلة نقله صاحب الفروع: يجوز وقفها للتحلي والوزن، وهو مقابل الأصح عند الشافعية.
Artinya; Mereka membedakan antara menyewakan duit alias meminjamkannya untuk dimanfaatkan sebagai perhiasan, sebagai perangkat penimbang berat, alias manfaat-manfaat sejenis, dengan mewakafkannya untuk tujuan-tujuan tersebut.
Alasannya, faedah pokok yang menjadi tujuan utama pembuatan duit adalah sebagai perangkat tukar (harga) yang dibelanjakan untuk memenuhi beragam keperluan dan kebutuhan. Selain itu, dalam janji sewa-menyewa dan pinjam-meminjam tidak disyaratkan adanya keberlangsungan secara permanen, berbeda dengan wakaf.
Namun, terdapat satu pendapat dalam mazhab Hanbali yang dinukil oleh penulis al-Furū‘, bahwa wakaf duit untuk tujuan perhiasan dan penimbangan diperbolehkan. Pendapat ini merupakan kebalikan dari pendapat yang paling sahih dalam ajaran Syafi‘i.
Pendapat Malikiyah
Ulama Malikiyah mempunyai rincian tersendiri. Mereka tidak membolehkan wakaf duit untuk dibelanjakan alias dimanfaatkan secara langsung, tetapi membolehkan andaikan duit tersebut diwakafkan dalam corak pinjaman (qardh).
Dalam Al-Mausu‘ah al-Fiqhiyyah disebutkan:
وأما المالكية فيوافقون على عدم جواز وقف النقود على الإنفاق، وعلى التزين ونحوه من المصالح، لكن ذهبوا إلى أنها إن وقفت على الإقراض جاز. وقد نص عليه الإمام مالك في المدونة، فتقرض لمن ينتفع بإنفاقها، ويرد بدلها، فإذا رد بدلها تقرض لغيره، وهكذا. قالوا: وينزل رد بدل النقود منزلة بقاء عينها.
Artinya; Adapun ustadz Malikiyah sepakat bahwa wakaf duit untuk dibelanjakan, alias untuk perhiasan dan kemanfaatan sejenis, tidak diperbolehkan. Akan tetapi, mereka beranggapan bahwa andaikan duit diwakafkan untuk tujuan qardh (dipinjamkan), maka perihal itu diperbolehkan. Pendapat ini telah ditegaskan oleh Imam Malik dalam kitab al-Mudawwanah.
Caranya, duit tersebut dipinjamkan kepada orang yang memanfaatkannya dengan membelanjakannya, lampau dia mengembalikan penggantinya. Setelah penggantinya dikembalikan, duit itu dipinjamkan lagi kepada orang lain, dan demikian seterusnya. Mereka mengatakan bahwa pengembalian duit pengganti menempati kedudukan tetap adanya barang wakaf itu sendiri.
Dengan demikian, menurut Malikiyah keberlangsungan pokok wakaf dapat terjaga melalui adanya pengembalian biaya pengganti yang nilainya sama.
Pendapat Hanafiyah
Dalam ajaran Hanafi juga terdapat perbedaan pandangan. Disebutkan:
وتفصيل مذهب الحنفية في ذلك أن مقتضى قول أبي حنيفة وأبي يوسف، عدم جواز وقف النقود؛ لأنه لا يجوز وقف المنقولات أصلا عندهما. وروي عن زفر من طريق الأنصاري إجازة وقفها -أي الدراهم والدنانير. وقول محمد إنه لا يجوز وقف المنقولات، لكن إن جرى التعامل بوقف شيء من المنقولات، جاز وقفه
Artinya; Adapun rincian ajaran Hanafi dalam masalah ini adalah bahwa akibat pendapat Abu Hanifah dan Abu Yusuf menunjukkan tidak bolehnya wakaf uang, lantaran menurut keduanya wakaf barang bergerak (manqūlāt) pada dasarnya tidak diperbolehkan. Namun diriwayatkan dari Zufar melalui jalur al-Anṣārī bahwa beliau membolehkan wakaf uang, ialah dirham dan dinar.
Sedangkan menurut Muhammad bin al-Hasan, wakaf barang bergerak pada asalnya tidak diperbolehkan. Akan tetapi, andaikan telah bertindak kebiasaan (ta‘āmul) untuk mewakafkan suatu jenis barang bergerak, maka wakaf barang tersebut diperbolehkan.
Lebih jauh, terdapat riwayat lain dalam ajaran Syafi’i yang menunjukkan kebolehannya melaksanakan wakaf uang. Simak penjelasan Al-Mawardi dalam kitab Al-Hawi al-Kabir;
وَرَوَى أَبُو ثَوْرٍ عَنِ الشَّافِعِي حَوَازَ وَقْفِهَا أي الدنانير والدراهيم
Artinya; “Abu Tsaur meriwayatkan dari Imam al-Syafi’i tentang kebolehan wakaf dinar dan dirham (uang)” (al-Mawardi, al-Hawi al-Kabir, tahqiq Dr. Mahmud Mathraji, [Beirut: Dar al-Fikr, 1994], juz IX, h. 379).
Sementara itu, dalam website Islamweb, tentang tulisan pendapat ustadz fikih tentang wakaf duit menjelaskan sebagian ustadz fikih beranggapan bahwa wakaf duit (waqf al-nuqūd) diperbolehkan dan mempunyai landasan syariat. Sejatinya, kebolehan tersebut didasarkan pada konsep bahwa duit wakaf tidak dihabiskan secara konsumtif, melainkan dipertahankan nilai pokoknya.
Caranya adalah dengan meminjamkan duit tersebut kepada pihak yang memerlukan (iqrāḍ), kemudian setelah masa pinjaman berakhir, penerima pinjaman mengembalikan duit penggantinya. Dalam pandangan ini, pengembalian duit tersebut diposisikan sebagai pengganti keberadaan barang wakaf yang kudu tetap lestari.
Berdasarkan pemahaman tersebut, para ustadz yang membolehkan wakaf duit menegaskan bahwa tujuan utama wakaf adalah menjaga keberlangsungan pokok kekayaan sekaligus mengalirkan manfaatnya kepada masyarakat. Karena itu, andaikan duit wakaf langsung dibelanjakan hingga lenyap alias digunakan untuk kepentingan yang menghilangkan pokok harta, maka tujuan wakaf tidak lagi terwujud.
Oleh karena itu, wakaf duit yang ditujukan untuk dibelanjakan alias digunakan sebagai perhiasan dipandang tidak sah lantaran bertentangan dengan prinsip dasar wakaf yang menuntut kelestarian aset pokok.
Pendapat ini dinukil secara tegas dari Imam Malik. Menurut beliau, duit wakaf dapat dikelola melalui sistem pinjaman bergulir sehingga manfaatnya terus dirasakan oleh banyak orang tanpa menghilangkan nilai pokoknya.
Pandangan serupa juga diriwayatkan dari Imam Zufar melalui riwayat al-Anṣārī dari kalangan ustadz Hanafiyah. Dengan demikian, kebolehan wakaf duit bukanlah pandangan baru, melainkan mempunyai akar yang cukup kuat dalam khazanah fikih klasik.
Selain melalui skema pinjaman (qardh), sebagian ustadz juga membolehkan duit wakaf dijadikan modal upaya dalam janji muḍārabah. Dana wakaf diserahkan kepada pengelola upaya yang amanah dan profesional, sementara untung yang diperoleh disalurkan kepada pihak-pihak yang menjadi sasaran wakaf.
Adapun nilai pokok biaya tetap dipertahankan agar kegunaan wakaf sebagai aset yang berkepanjangan tetap terjaga. Model inilah yang kemudian menjadi salah satu dasar pengembangan wakaf duit produktif di era modern, ialah menjaga pokok kekayaan sekaligus mengoptimalkan manfaatnya bagi kemaslahatan umat.
Fatwa MUI tentang Wakaf Uang
Di Indonesia, kebolehan wakaf duit ditegaskan dalam Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tahun 2002 tentang Wakaf Uang. Dalam fatwa tersebut dinyatakan:
- Wakaf duit (Cash Waqf/Waqf al-Nuqūd) adalah wakaf yang dilakukan seseorang, golongan orang, lembaga, alias badan norma dalam corak duit tunai.
- Yang dimaksud duit termasuk surat-surat berharga.
- Wakaf duit hukumnya jawāz (boleh).
- Wakaf duit hanya boleh digunakan untuk tujuan yang dibenarkan secara syariat.
- Nilai pokok wakaf wajib dijaga kelestariannya dan tidak boleh dijual, dihibahkan, ataupun diwariskan.
Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa norma wakaf duit merupakan persoalan khilafiyah di kalangan ulama. Mayoritas ustadz Syafi‘iyah dan Hanabilah tidak membolehkannya lantaran duit tidak dapat dimanfaatkan tanpa menghabiskan pokoknya.
Sementara sebagian ustadz Malikiyah dan Hanafiyah membolehkannya dengan syarat pokok biaya tetap terjaga, baik melalui sistem pinjaman (qardh) maupun pengelolaan upaya produktif.
Dalam konteks Indonesia, praktik wakaf duit memperoleh legitimasi melalui Fatwa MUI Tahun 2002 dengan ketentuan bahwa nilai pokok wakaf kudu tetap lestari dan hanya manfaatnya yang disalurkan kepada penerima wakaf.
Dengan demikian, wakaf duit yang dikelola secara ahli dan sesuai prinsip syariah dapat menjadi salah satu instrumen krusial dalam pemberdayaan ekonomi umat dan pengembangan kemaslahatan publik.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·