12 Amalan Hari Asyura yang Dianjurkan UlamaKincai Media – Bulan Muharram merupakan salah satu bulan mulia dalam Islam. Di antara hari yang paling spesial di dalamnya adalah Hari Asyura, ialah tanggal 10 Muharram. Pada hari ini, terdapat ibadah yang dianjurkan dikerjakan Hari Asyura.
Pada kitab I’anah Ath-Thalibin karya Syekh Abu Bakar Syatha Ad-Dimyathi, Jilid II, laman 302, dijelaskan tentang ibadah yang dianjurkan dikerjakan pada ibadah 10 Muharram (Hari Asyura).
Syekh Abu Bakar Syatha’ Ad-Dimyati menulis:
في يوم عاشوراء عشر تتصل * * بها اثنتان ولها فضل نقل صم، صل، صل، زر عالما، عد، واكتحل * * رأس اليتيم امسح، تصدق واغتسل وسع على العيال، قلم ظفرا * * وسورة الإخلاص قل ألفا تصل
Artinya: “Pada hari Asyura terdapat sepuluh ibadah yang saling berkaitan, ditambah dua ibadah lagi, dan semuanya disebut mempunyai keistimewaan menurut riwayat.
Berpuasalah, kerjakan salat, sambunglah silaturahmi, kunjungilah orang alim, jenguklah orang sakit, dan bercelaklah. Usaplah kepala anak yatim, bersedekahlah, mandilah, lapangkanlah nafkah untuk keluarga, potonglah kuku, dan bacalah Surah Al-Ikhlas seribu kali.”
Berikut penjelasan ringkas mengenai amalan-amalan tersebut.
- Berpuasa pada Hari Asyura
Amalan paling utama dan paling kuat dasar kesunnahannya adalah puasa Asyura. Dalam banyak sabda sahih disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ menganjurkan puasa pada tanggal 10 Muharram.
Dalam kitab I’anah Ath-Thalibin disebutkan:
فمن صام يوم عاشوراء فكأنما صام الدهر كله، وهو صوم الأنبياء
Artinya: “Barang siapa berpuasa pada hari Asyura, maka seakan-akan dia berpuasa sepanjang masa. Dan itu merupakan puasa para nabi.”
Meski redaksi tersebut tidak berstatus sabda sahih, para ustadz tetap menyebutnya dalam bab fadhailul a’mal (keutamaan amal). Adapun keistimewaan yang sahih berasas sabda riwayat Muslim adalah bahwa puasa Asyura dapat menghapus dosa-dosa mini setahun yang lalu.
- Memperbanyak Shalat Sunnah
Dalam syair tersebut disebutkan dua kali kata صل (shalatlah). Sebagian ustadz memahaminya sebagai rekomendasi memperbanyak salat sunnah dan menghidupkan hari Asyura dengan ibadah.
Hari-hari mulia dalam Islam merupakan momentum untuk meningkatkan kedekatan kepada Allah melalui salat, zikir, tilawah, dan doa.
- Menyambung Silaturahmi
Asyura tidak hanya berisi ritual individual, tetapi juga memperkuat hubungan sosial. Menyambung silaturahmi menjadi salah satu ibadah yang dianjurkan lantaran dapat mempererat persaudaraan dan mendatangkan keberkahan umur serta rezeki.
- Mengunjungi Ulama dan Orang Saleh
Syair tersebut menyebut:
زر عالما
Artinya: “Kunjungilah seorang alim.”
Mengunjungi ustadz merupakan corak penghormatan kepada pengetahuan dan ahlinya. Kehadiran di majelis pengetahuan pada hari-hari mulia termasuk sarana memperoleh keberkahan dan nasihat yang bermanfaat.
- Menjenguk Orang Sakit
Menjenguk orang sakit merupakan sunnah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Selain mempererat ukhuwah, dia juga menjadi sarana menghibur dan meringankan beban sesama muslim.
- Bercelak
Sebagian ustadz menyebut bercelak pada hari Asyura sebagai ibadah yang dinukil dalam kitab-kitab fadhail. Namun para ustadz juga menjelaskan bahwa dasar hadisnya tidak sekuat ibadah puasa Asyura.
Karena itu, pelaksanaannya tidak boleh diyakini sebagai sunnah yang pasti dari Rasulullah ﷺ, melainkan sebatas ibadah yang disebut dalam literatur keistimewaan amal.
- Mengusap Kepala Anak Yatim
رأس اليتيم امسح
Artinya: “Usaplah kepala anak yatim.”
Islam memberikan perhatian besar kepada anak yatim. Mengusap kepala mereka merupakan simbol kasih sayang dan kepedulian sosial yang sangat dianjurkan.
Momentum Asyura menjadi kesempatan untuk berbagi kebahagiaan dengan mereka yang memerlukan perhatian.
- Bersedekah
Sedekah merupakan kebaikan yang dianjurkan setiap waktu, terlebih pada hari-hari mulia. Memberi support kepada fakir miskin, anak yatim, alias lembaga sosial merupakan corak syukur atas nikmat Allah.
- Mandi
Sebagian ustadz menyebut mandi pada Hari Asyura sebagai salah satu ibadah yang dinukil mempunyai keutamaan. Tujuannya antara lain menjaga kebersihan dan menyambut hari mulia dengan keadaan yang baik.
- Melapangkan Nafkah untuk Keluarga
Di antara ibadah yang paling terkenal di tengah masyarakat adalah memperluas nafkah family pada Hari Asyura.
Dalam riwayat yang dikutip oleh para ustadz disebutkan:
ووسعوا على عيالكم فيه، فإنه من وسع على عياله وأهله من ماله يوم عاشوراء وسع الله عليه سائر سنته
Artinya: “Lapangkanlah nafkah untuk family kalian pada hari itu. Barang siapa melapangkan nafkah bagi keluarganya pada Hari Asyura, niscaya Allah bakal melapangkan rezekinya sepanjang tahun.”
Walaupun para mahir sabda berbeda pendapat mengenai kualitas sanad riwayat ini, banyak ustadz yang mengamalkannya dalam ranah fadhailul a’mal.
- Memotong Kuku
Amalan ini termasuk bagian dari menjaga kebersihan dan fitrah manusia yang dianjurkan syariat.
- Membaca Surah Al-Ikhlas
وسورة الإخلاص قل ألفا
Artinya: “Dan bacalah Surah Al-Ikhlas seribu kali.”
Amalan ini disebutkan dalam sejumlah kitab fadhail sebagai corak memperbanyak zikir dan referensi Al-Qur’an pada Hari Asyura. Namun sebagaimana beberapa ibadah lainnya, dasar riwayatnya berada dalam daerah keistimewaan amal, bukan sunnah yang ditegaskan dengan sabda sahih.
Peristiwa-Peristiwa Agung pada Hari Asyura
Dalam kitab I’anah Ath-Thalibin juga disebutkan sejumlah peristiwa besar yang dikaitkan dengan Hari Asyura, di antaranya:
ففيه تاب الله على آدم، ورفع إدريس، ونجى نوحا من السفينة، ونجى إبراهيم من النار، وأنزل التوراة على موسى، وأخرج يوسف من السجن، ورد على يعقوب بصره، وكشف ضر أيوب، وأخرج يونس من بطن الحوت، وفلق البحر لبني إسرائيل، وغفر لداود، وأعطى سليمان الملك
Artinya: “Pada hari itu Allah menerima tobat Nabi Adam, mengangkat Nabi Idris, menyelamatkan Nabi Nuh, menyelamatkan Nabi Ibrahim dari api, menurunkan Taurat kepada Nabi Musa, mengeluarkan Nabi Yusuf dari penjara, mengembalikan penglihatan Nabi Ya’qub, menghilangkan penderitaan Nabi Ayyub, mengeluarkan Nabi Yunus dari perut ikan, membelah laut bagi Bani Israil, mengampuni Nabi Dawud, dan memberikan kerajaan kepada Nabi Sulaiman.”
Hari Asyura adalah momentum untuk memperbanyak kebaikan saleh, baik yang berkarakter ibadah individual maupun kepedulian sosial. Di antara seluruh ibadah yang disebut para ulama, puasa Asyura merupakan ibadah yang paling kuat dasar kesunnahannya berasas hadis-hadis sahih.
Sementara amalan-amalan lainnya dapat dipahami sebagai tradisi fadhailul a’mal yang telah disebutkan dalam kitab-kitab ulama, selama tidak diyakini sebagai tanggungjawab alias sunnah yang pasti dari Rasulullah.
Dengan demikian, Asyura tidak hanya menjadi hari untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum mempererat silaturahmi, menyantuni anak yatim, memperbanyak sedekah, serta menghadirkan kebahagiaan di tengah family dan masyarakat.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·