Jakarta -
Bunda, pernah kepikiran nggak jika udara yang kita hirup setiap hari rupanya bisa berakibat sampai ke Si Kecil, apalagi sejak tetap di dalam kandungan?
Ya, beberapa penelitian terbaru menunjukkan bahwa paparan polusi udara selama kehamilan bisa memengaruhi perkembangan otak janin yang nantinya berasosiasi dengan keahlian bicara anak. Yuk simak kebenaran ilmiahnya Bunda.
Dampak polusi udara pada janin
Dikutip dari The Guardian, polusi udara, terutama partikel lembut yang dikenal sebagai PM2.5, berukuran sangat mini sehingga bisa masuk ke paru-paru, lampau ke aliran darah ibu hamil. Dari sana, partikel ini dapat mencapai plasenta, organ krusial yang menyalurkan nutrisi dan oksigen ke janin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam beragam studi, paparan polusi ini dikaitkan dengan meningkatnya peradangan dan stres oksidatif, yang dapat mengganggu perkembangan sistem saraf janin. Penelitian yang dipublikasikan di International Journal of Hygiene and Environmental Health menemukan bahwa paparan polusi selama kehamilan berasosiasi dengan perubahan perkembangan otak anak di usia dini.
Studi lain yang dipublikasikan di JAMA Network Open juga menunjukkan bahwa ibu mengandung yang terpapar polusi tinggi mempunyai akibat lebih besar melahirkan anak dengan gangguan perkembangan saraf.
Bukan hanya itu, sebuah studi dari National Institutes of Health menyebut bahwa paparan polusi prenatal dapat memengaruhi keahlian komunikasi anak pada usia dini.
Polusi dan speech delay
Kemampuan bicara anak sangat berjuntai pada perkembangan otak, khususnya area yang mengatur bahasa dan komunikasi. Ketika perkembangan ini terganggu, anak bisa mengalami speech delay alias keterlambatan bicara.
Dalam studi tersebut, peneliti menemukan bahwa bayi yang terpapar polusi udara selama dalam kandungan mempunyai skor keahlian bahasa yang lebih rendah hingga usia 2 tahun. Bahkan, peningkatan paparan PM2.5 dikaitkan dengan penurunan kegunaan bahasa secara bertahap.
Temuan serupa juga didukung oleh penelitian dari National Institutes of Health yang menunjukkan bahwa paparan polusi sejak masa prenatal berangkaian dengan penurunan keahlian komunikasi dan kognitif anak di usia dini.
Lebih lanjut, laporan penelitian dari King's College London pada tahun 2026 mengungkap bahwa bayi yang terpapar polusi tinggi sejak trimester awal kehamilan mempunyai skor bahasa lebih rendah saat usia 18 bulan, dan condong lebih lambat mulai berbicara.
Studi lain dari Environmental Health Perspectives juga menunjukkan bahwa paparan polusi prenatal dapat memengaruhi perkembangan otak, khususnya area yang berasosiasi dengan bahasa dan kognisi.
Dampak lain polusi pada janin
Bunda, pengaruh polusi rupanya tidak berakhir pada keahlian bahasa saja. Beberapa penelitian lain juga menunjukkan bahwa paparan polusi selama kehamilan dapat:
1. Perkembangan kognitif
Anak bisa mengalami:
- Kesulitan fokus
- Lambat memahami instruksi
- Penurunan keahlian belajar di usia sekolah
2. Perilaku dan emosi
Penelitian dari National Institutes of Health menunjukkan adanya hubungan antara paparan polusi prenatal dengan:
- Gejala hiperaktif
- Kesulitan mengontrol emosi
- Peningkatan akibat gangguan perilaku tertentu
3. Perkembangan motorik
Beberapa studi juga mencatat kemungkinan:
- Keterlambatan koordinasi gerak
- Perkembangan motorik lembut yang lebih lambat
- Karena keahlian bicara berangkaian erat dengan kegunaan otak secara keseluruhan, gangguan ini bisa saling berhubungan.
Mengenal kondisi speech delay pada anak
Speech delay adalah kondisi ketika keahlian bicara anak berkembang lebih lambat dibanding anak seusianya. Sederhananya, anak sebenarnya sedang belajar bicara, tapi tahap perkembangannya tidak sesuai dengan milestone yang umumnya dicapai anak pada usia tertentu.
Ini bukan sekadar 'anaknya belum bisa ngomong', tapi bisa jadi tanda bahwa ada proses perkembangan bahasa yang melangkah lebih lambat dan perlu perhatian lebih.
Misalnya:
- Usia 1 tahun belum bisa mengucapkan kata sederhana seperti “mama”
- Usia 2 tahun belum bisa merangkai dua kata
- Kurang respons terhadap komunikasi.
Kondisi ini bisa ringan hingga memerlukan intervensi seperti terapi wicara, tergantung penyebabnya.
Meski polusi bisa menjadi salah satu aspek risiko, speech delay tidak hanya disebabkan oleh satu perihal saja. Ada beberapa aspek lain yang juga berperan, seperti kurangnya stimulasi bicara dari orang tua, paparan gadget berlebihan dan gangguan pendengaran serta aspek genetik Jadi, krusial untuk memandang tumbuh kembang anak secara menyeluruh ya, Bunda.
Cara mengurangi risiko dampak polusi selama hamil
Supaya lebih tenang, Bunda bisa melakukan beberapa langkah sederhana untuk mengurangi paparan polusi:
- Gunakan masker saat beraktivitas di luar rumah
- Hindari area dengan polusi tinggi seperti jalan raya padat
- Gunakan air purifier di dalam rumah
- Perbanyak konsumsi makanan tinggi antioksidan (buah dan sayur)
- Rutin melakukan kontrol kehamilan
Demikian Bunda penjelasan lengkapnya. Semoga kehamilan Bunda selalu diberi kesehatan, kelancaran, dan kebahagiaan hingga hari persalinan tiba ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·