Jakarta -
Biaya hidup yang makin meningkat membikin banyak orang tua lebih hati-hati dalam mengatur keuangan. Di sisi lain, kondisi ini juga bikin banyak family mulai membujuk anak mengenal soal duit sejak kecil.
Tak sedikit pula orang tua yang sekarang mencoba lebih terbuka saat berbincang tentang pengeluaran di rumah. Obrolan soal duit rupanya bisa membantu anak mengerti banyak perihal sejak dini, Bunda.
Seorang psikolog finansial sekaligus guru besar ekonomi di Universitas Creighton di Amerika Serikat, Brad Klontz, menyampaikan percakapan jujur dengan anak dapat memberi akibat baik untuk masa depan mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Termasuk juga saat orang tua perlu mengatakan "tidak" ketika anak meminta sesuatu dan menjelaskan alasannya dengan baik. Menurutnya, anak yang mulai dikenalkan tentang duit lebih mudah belajar menghargai kebutuhan dan keinginannya.
Bicara soal ini, Klontz membagikan langkah yang dapat membantu membentuk anak agar lebih bijak dalam memahami duit sejak kecil.
Anak bisa belajar soal duit sejak usia dini
Tantangan ekonomi yang dirasakan banyak family rupanya ikut mengubah langkah orang tua berbincang dengan anak tentang uang, Bunda. Hal ini terlihat dari survei terhadap 2.000 orang tua di Amerika Serikat.
Menilik dari laman CNBC Make It, sebanyak 64 persen orang tua mengaku kondisi finansial belakangan ini bikin mereka lebih terbuka kepada anak soal langkah mengatur duit di rumah.
Enggak hanya itu, sekitar 66 persen lainnya juga mengatakan mereka sekarang lebih sering menolak permintaan shopping anak sembari menjelaskan alasannya dengan langkah yang pelan-pelan. Lebih lanjut, penelitian menunjukkan bahwa anak sudah bisa mulai mempelajari soal finansial sejak usia 5 tahun.
Penelitian di Brigham Young University juga menemukan, anak yang belajar finansial sejak mini mempunyai hubungan yang lebih sehat dengan duit saat dewasa nanti. Hal tersebut yang juga dijelaskan oleh psikolog keuangan Klontz.
"Anak-anak tersebut pada akhirnya mempunyai kondisi finansial yang jauh lebih baik di kemudian hari, dibandingkan kudu mempelajarinya dengan langkah yang sulit," ujarnya.
Psikolog ungkap pentingnya membiasakan bicara soal duit kepada anak
Masih banyak orang tua yang merasa pembicaraan soal duit dengan anak adalah perihal yang sensitif. Bahkan, tak sedikit pula yang memilih menghindari topik ini di rumah.
Menurut Klontz, sebagian orang tua merasa kurang percaya diri dengan pemahaman finansial mereka sendiri. Padahal, menghindari obrolan tentang duit justru bisa menjadi kesalahan yang besar.
"Menghindari pembicaraan tentang duit dengan anak-anak adalah kesalahan besar," kata Klontz.
Menurutnya, saat anak meminta sesuatu yang belum bisa dibeli, orang tua sebenarnya punya kesempatan untuk memberikan penjelasan kepada mereka dengan langkah yang baik.
"Jangan pernah menolak pertanyaan anak tentang topik tersebut, apalagi jika mereka meminta pembelian yang di luar keahlian finansial family saat ini. Mengatakan "tidak" pada permintaan anak adalah kesempatan baik untuk memberikan penjelasan yang bijak dan informatif atas keputusan tersebut," tuturnya.
Mengajarkan anak soal duit rupanya bisa dimulai dari kegiatan sehari-hari. Perlu diketahui, anak tidak selalu kudu diberi penjelasan yang rumit untuk mulai mengenal langkah mengatur uang.
Mengutip dari CNBC Make It, dalam sebuah survei perusahaan keuangan, lebih dari separuh orang tua mengaku sering membujuk anak berbelanja kebutuhan rumah tangga. Dari kegiatan itu, anak bisa memandang gimana family memilih peralatan dan mengatur pengeluarannya secara rutin.
Selain itu, sekitar 38 persen orang tua juga mulai membahas pengeluaran rumah tangga seperti sewa rumah, cicilan, alias tagihan listrik dengan anak-anak mereka. Menurut para mahir finansial pribadi, perihal ini dapat membantu anak lebih bijak saat memilih peralatan dan belajar menabung.
Psikolog Klontz mengingatkan agar obrolan soal duit tetap disesuaikan dengan usia anak. Anak usia Sekolah Dasar (SD) biasanya cukup mengenal konsep seperti nilai duit dan argumen memilih suatu barang.
Sementara itu, untuk anak remaja bisa mulai diajak membahas tabungan alias anggaran dalam jangka panjang, Bunda.
Lebih lanjut, Klontz mengingatkan agar orang tua tidak membikin anak takut alias stres saat membicarakan kondisi finansial keluarga. Menurutnya, anak bisa merasakan ketika orang tua tidak jujur tentang situasi yang sedang terjadi.
Karena itulah, orang tua disarankan tetap terbuka kepada anak langkah yang tenang dan sesuai dengan usia mereka.
"Orang tua mungkin menularkan sebagian dari rasa takut dan kekhawatiran ini, dan itu bakal berakibat jelek di kemudian hari," jelas Klontz.
"Jika orang tua mendusta kepada anak, perihal itu justru bisa menimbulkan masalah lain. Anak-anak mempunyai keahlian mendeteksi ketidakejujuran yang sangat baik. Saya rasa tidak apa-apa untuk mengatakan, 'Lihat, ini menegangkan, dan kami tidak percaya apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, percayalah, kami bisa mengatasinya,'" lanjutnya.
Psikolog Klontz menyarankan agar anak mulai dibiasakan memandang gimana family mengatur duit setiap harinya. Misalnya, dengan menjelaskan tujuan menabung alias rencana membeli sesuatu yang krusial di masa depan.
"Duduklah berbareng dan katakan, 'Hei, kita mau TV baru alias kita punya tujuan finansial lain, jadi...kita bakal menyisihkan sejumlah duit setiap kali menerima gaji,'" ungkapnya.
Itulah penjelasan tentang psikolog mengungkap langkah membentuk anak bijak soal duit sejak mini dalam keseharian. Sudahkah Bunda terapkan langkah ini di rumah?
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·