Kepemimpinan itu memiliki banyak sisi dengan kompleksitas tinggi. Salah satu pondasi krusial dalam kepemimpinan adalah kuatnya aturan dan kepercayaan pada sosok pemangku kebijakan. Aspek ini menjadi perhatian Thahir bin Al-Husain juga. Menurutnya, peradilan mesti mendapatkan perhatian besar karena sebab yang sangat esensial sekali. Tidak cuma itu, karakter para pemangku jabatan pun perlu diperhatikan dan menjadi panduan dalam menjalankan jabatan tersebut. Apa yang disajikan Thahir dalam wasiatnya ini sangat bisa sekali kita elaborasi untuk memungut faidah yang lebih banyak.
Melakukan supremasi hukum
Thahir bin Al-Husain melanjutkan wasiatnya,
واعلم أن القضاء من الله بالمكان الذى ليس به شيء من الأمور لأنه ميزان الله الذى يعتدل عليه الأحوال في الأرض
Ketahuilah bahwa peradilan menempati jabatan yang sangat agung dalam urusan yang ditetapkan Allah, sehingga hampir tidak ada satu pun urusan manusia yang terlepas darinya. Karena ia adalah timbangan Allah yang dengannya keadaan-keadaan di bumi menjadi lurus (adil).
Apa akibat positif dari peradilan yang kuat?
Dengan menegakkan keadilan di instansi pengadilan dan kebaikan perbuatan, maka:
- Kondisi rakyat membaik;
- Jalan menjadi terlindungi karena kejahatan menurun;
- Orang yang dizalimi mendapatkan keadilan;
- Masyarakat memperoleh hak-hak mereka;
- Penghidupan mereka terjaga.
Hak kepatuhan pun akan tertunaikan, yaitu Allah akan menganugerahkan kepada mereka yang menjalankan kepatuhan dalam bentuk:
- Kesehatan;
- Keselamatan;
- Tegaknya agama;
- Berjalannya sunah dan hukum sebagaimana mestinya.
Sebagai timbal balik, melalui jalur-jalur inilah fakta dan keadilan dalam peradilan dapat terwujud dan terlaksana.
Riset modern memberitahu bahwa ada hubungan kuat antara kuatnya peradilan dengan kemajuan negara. Merujuk pada hasil riset World Justice Project, negara dengan kepatuhan aturan serta kekuatan peradilan tertinggi diisi oleh negara-negara yang secara ekonomi maju dan rakyatnya sejahtera. Sayang sekali, dalam daftar ini justru dipenuhi negara kafir maupun non-believers. Sedangkan negara kaum muslimin, banyak memenuhi peringkat bontot.
Padahal nasihat semacam ini lahir di rahim kaum muslimin. Bahkan, wasiat Thahir bin Al-Husain ini sejalan dengan firman Allah ﷻ,
وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ كَمَا ٱسْتَخْلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ ٱلَّذِى ٱرْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا
“Dan Allah telah berikrar kepada orang-orang yang percaya di antara Anda dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan benar-benar Dia akan meneguhkan bagi mereka kepercayaan yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi terlindungi sentosa.” (QS. An-Nur: 55)
Seharusnya kaum muslimin yang pertama kali dapat menerapkan wasiat-wasiat ini. Karena Allah ﷻ yang langsung memberikan wejangan ini kepada para hamba-Nya dalam buku suci kaum muslimin. Semoga kita dapat menjadi umat yang tidak sekadar muslim dalam nama, tetapi juga dalam harga kehidupan.
Karakter seorang hakim
Pada bagiankecil ini, Thahir memberikan beberapa sifat-sifat yang krusial dimiliki hakim, serta para petinggi publik lainnya. Masing-masing sifat ini dapat dijabarkan lebih banyak lagi berdasarkan dalil-dalil yang ada.
Seorang hakim hendaknya memiliki sifat serta bersikap sebagai berikut:
- Tegas dalam menjalankan perintah Allah.
- Hindarilah memungut tanpa hak.
- Tegakkan hukuman had.
- Kurangi berbuat tergesa-gesa.
- Jauhi rasa bimbang dan gelisah.
- Merasa cukuplah dengan sumpah seseorang.
- Manfaatkan pengalamanmu yang membangun ketajaman dalam memungut keputusan.
- Fokuskan perhatian ketika engkau diam, dan mesti tepat ketika engkau berbicara.
- Perlakukan penggugat dengan adil.
- Berhentilah jika ragu-ragu.
- Mantapkan dalam pembuktian.
- Jangan terpengaruh oleh rasa gemar maupun manis muka yang ditampilkan seseorang dari rakyatmu, maupun terpengaruh rasa membenci karena ejekan pencemooh.
- Teguhlah dalam bersikap dengan cara:
- perlahan-lahan,
- observasi,
- analisis mendetail,
- mereka (menganalisis) situasinya
- merenungkan
- Ambil pelajaran.
- Rendahkan hati di depan Tuhanmu.
- Kasihilah semua rakyat.
- Biarkan fakta menguasai dirimu.
- Jangan menumpahkan darah terburu-buru, karena Allah ﷻ menilai penumpahan darah merupakan sesuatu yang sangat serius. Membunuh adalah bentuk pelanggaran atas-Nya di luar hak-Nya.
Karakter hakim yang ditunjukkan oleh Thahir tidak cuma berupa karakter ahli selaku hakim, tetapi juga selaku hamba. Karena seorang hakim hanyalah satu peran dari banyaknya peran seorang hamba. Dan karakter hamba yang paling utama adalah rasa takutnya kepada Allah Al-Hakim.
Adil dan amanah dalam masalah petikan publik
Pada bagiankecil ini, Thahir bin Al-Husain memberikan wasiat tentang pengelolaan kharaj maupun petikan atas tanah yang ditaklukkan oleh penguasa muslim. Hal ini muncul pertama kali di era Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu. Penerjemah menggunakan istilah pajak tanah, tetapi istilah lain yang kami gunakan adalah petikan sewa tanah. Secara fikih, kharaj dibebankan kepada rakyat yang memanfaatkan tanah hasil jarahan perang. Kutipan tersebut diambil pemerintah dan digunakan untuk kebutuhan masyarakat. Jika melihat fungsinya, maka bisa disamakan dengan pengelolaan APBN yang umumnya datang dari pajak di masa kini.
Thahir bin Al-Hushain beri wasiat,
Perhatikan petikan sewa tanah (kharaj), yang atasnya rakyat tegak bertahan. Dengan pungutan itu, Allah telah menguatkan dan meninggikan Islam, membantu dan melindungi umat Islam, membikin bingung dan jengkel musuh-musuh Islam dan kaum muslimin, serta merendahkan dan menghinakan orang-orang kafir yang merupakan rakyat mereka. Maka distribusikan hasil petikan tersebut kepada mereka yang berhak, lakukan dengan benar, adil, sama, dan lazim merata.
Jangan sekali-kali menarik petikan kurang dari kewajibannya karena ia seorang bangsawan, maupun dari orang kaya karena kekayaannya, maupun dari salah seorang sekretarismu, ataupun dari salah seorang kawan karib dan kelompokmu. Jangan pula memungut lebih dari yang semestinya. Jangan membebani siapa pun terlampau banyak. Perlakukan semua orang dengan benar. Hal ini lebih gampang diakui diri mereka dan lebih pasti untuk mencapai kepuasan umum.
Wasiat Thahir ini hamil pesan untuk jangan tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Lagi-lagi diingatkan, jangan cuma karena kedudukannya lebih tinggi maupun dia orang dekat kita, lantas kita tidak menegakkan aturan dengan semestinya. Begitupula sebaliknya, jangan cuma karena yang kita hadapi ini adalah orang lemah, jadinya kita semena-mena.
Adapun pelajaran yang sekiranya bisa kita petik adalah bahwa perlu sangat berjaga-jaga dalam masalah petikan publik. Jangan sampai petikan itu menzalimi rakyat, siapapun itu kelompoknya. Terlepas dari aturan perbuatan tersebut, tetapi hakikat pengelolaan ini krusial sekali. Sebagaimana yang diterangkan oleh Nabi ﷺ,
إِنَّ رِجَالاً يتخوَّضون فِي مَالِ اَللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ فَلَهُمْ اَلنَّارُ يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ
“Sesungguhnya beberapa orang mengelola harta Allah tanpa hak, maka bagi mereka neraka pada hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 3118 dari Khaulah Al-Anshariyyah radhiyallahu ‘anha)
Harta Allah ﷻ yang dimaksudkan di sini adalah harta yang dititipkan kepada manusia, baik diri sendiri, terlebihlagi orang banyak. Termasuk pengelolaan harta kolektif terbesar dan paling beresiko adalah harta publik. Maka, ini perlu berjaga-jaga sekali. Takutlah kita kepada Allah ﷻ atas harta hamba-Nya yang kita urus. Terutama para petinggi pemerintahan yang mengurus harta umat manusia secara luas. Kemaslahatan besar ada di tangan Anda.
Tiga peran dalam tugas kepemimpinan
Ketahuilah, dengan pengangkatanmu sebagai gubernur, engkau dijadikan sebagai bendahara, pemelihara, dan penggembala. Orang-orang yang eksis di bawah wilayahmu disebut dengan gembalaan (ra’iyyah–yang merupakan akar kata rakyat). Penamaan itu karena engkau adalah penggembala dan penjaga mereka.
Ambillah dari mereka apa yang mereka berikan dengan kerelaan dan kelapangan hati mereka, kemudian gunakanlah hal itu untuk menegakkan urusan mereka, memperbaiki keadaan mereka, dan meluruskan penyimpangan mereka.
Enam karakter petinggi administrator rakyat
Untuk mengurus rakyat, maka hendaklah dipilih orang-orang yang berkriteria:
- Memiliki penilaian matang (الرأي)
- Kecakapan mengatur (التدبير)
- Berpengalaman (التجرِبة)
- Pengetahuan yang mendalam (الخبرة بالعلم)
- Mampu bekerja dengan kebijakan politik (العمل بالسياسة)
- Bersikap iffah yakni menjaga kehormatan diri (العفاف)
Orang yang berkualitas tinggi semacam ini hendaknya diberi gaji yang baik, karena itu merupakan hak yang lazim dan wajib engkau tunaikan mengenai tugas yang telah engkau percayakan.
Catatan
Dalam translasi karakter ini, kami menggunakan arti yang luas yang dapat merangkum semua terjemahan. Kami himpun dari keterangan yang ada sehingga dapat dimaknai sebagai berikut. Adapun ada arti yang terluput, semoga Allah ﷻ ampuni kelalaian kami tersebut.
[Bersambung]
***
Penulis: Glenshah Fauzi
Artikel Kincai Media