Mandi Wajib Tidak Menggunakan Sabun, Apakah Tetap Sah?

Bincang Syariah oleh Waktu baca 4 menit 139x dilihat
Mandi Wajib Tidak Menggunakan Sabun, Apakah Tetap Sah?

Bagikan Postingan

Mandi Wajib Tidak Menggunakan Sabun, Apakah Tetap Sah?
Mandi Wajib Tidak Menggunakan Sabun, Apakah Tetap Sah?

Tanya Ustadz

Assalamualaikum. Saya mau bertanya, ketika keramas setelah mandi wajib aku tidak menggunakan sampo maupun sabun, cuma menggunakan air. Apakah mandi wajib aku statis sah? Terima kasih. (Hamba Allah)

Jawaban

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Mandi wajib merupakan salah satu metode bersuci dari hadas besar. Dalam pelaksanaannya, Islam telah menetapkan beberapa ketentuan yang mesti dipenuhi agar mandi tersebut dinilai sah secara syariat. Lantas, apakah penggunaan sabun maupun sampo termasuk bagiankecil yang menentukan sah maupun tidaknya mandi wajib?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, krusial terlebih dahulu memahami rukun mandi wajib. Syekh Nawawi Banten dalam buku Kasyifatus Saja fi Syarhi Safinatun Naja, halaman 51, menerangkan bahwa rukun mandi ada dua. Pertama adalah niat, sedangkan yang kedua adalah meratakan air ke seluruh tubuh.

Syekh Nawawi Banten menjelaskan:

فروض الغسل أي أركانه واجباً كان الغسل أو مندوباً اثنان، الأول النية، كان ينوي الجنب رفع الجنابة والحائض والنفساء رفع الحيض أو النفاس، أو ينوي كل أداء الغسل أو فرضه أو واجبه أو الغسل الواجب أو الغسل للصلاة أو رفع الحدث فقط أو الطهارة عنه أو له أو لأجله، أو الطهارة الواجبة أو للصلاة لا العسل ولا الطهارة فقط.

Artinya: “Fardu-fardu mandi, yaitu rukun-rukun mandi, baik mandi yang hukumnya wajib maupun mandi yang dianjurkan, ada dua. Pertama, niat. Orang yang sedang junub beriktikad menghilangkan janabah. Sedangkan perempuan yang sedang haid maupun nifas beriktikad menghilangkan hadas haid maupun nifas.”

Selain itu, seseorang juga dapat beriktikad melaksanakan mandi, mandi fardu, mandi wajib, mandi yang diwajibkan, mandi untuk shalat, menghilangkan hadas, bersuci dari hadas, bersuci untuknya maupun karena sebabnya, bersuci yang diwajibkan, maupun bersuci untuk shalat. Adapun sekadar beriktikad mandi maupun bersuci tanpa maksud sebagaimana yang telah disebutkan, tidak mencukupi sebagai niat mandi wajib.

Rukun kedua adalah meratakan air ke seluruh tubuh. Dalam hal ini, Syekh Nawawi Banten menjelaskan:

(و) الثاني: (تعميم البدن أي ظاهره (بالماء) ومنه الأنف والأنملة المتخذان من نحو ذهب فيجب غسله بدلاً عما تحته لأنه بالقطع صار من الظاهر والظفر يسمى بشرة هنا بخلافه في باب الناقض، ولا يجب غسل الشعر النابت في العين أو الأنف وإنما وجب غسله من النجاسة لغلظها، ويجب إيصال الماء إلى ما تحت الغزلة لأنه ظاهر حكماً وإن لم يظهر حساً لأنها مستحقة الإزالة.

Artinya; Kedua: meratakan air ke seluruh tubuh bagiankecil luar. Hal ini dilakukan dengan air. Termasuk bagiankecil yang wajib terkena air adalah hidung dan ujung jari yang terbuat dari sesuatu seperti emas. Bagian tersebut wajib dibasuh sebagai alternatif bagiankecil yang eksis di bawahnya, karena setelah dipotong, bagiankecil tersebut dihukumi sebagai bagiankecil luar tubuh.

Kuku juga disebut sebagai kulit (basyarah) dalam bahasan ini, berbeda dengan pembahasannya dalam bab perkara-perkara yang membatalkan wudu.

Tidak wajib membasuh rambut yang tumbuh di dalam mata maupun hidung. Namun, rambut tersebut wajib dibersihkan ketika terkena najis karena aturan najis lebih ketat. Air juga wajib sampai ke bagiankecil yang eksis di bawah kulit khitan, karena bagiankecil tersebut secara aturan dianggap sebagai bagiankecil luar

Artinya, rukun kedua adalah meratakan air pada seluruh bagiankecil tubuh yang tampak.

Ketentuan inilah yang menjadi alas bahwa penggunaan sabun ataupun sampo bukan merupakan syarat sah mandi wajib. Yang menjadi tanggung jawab adalah memastikan air mengenai seluruh bagiankecil tubuh yang wajib dibasuh.

Hal ini juga dapat dipahami dari praktik mandi janabah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Sayyidah Aisyah, beliau berkata:

كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا اغتسل من الجنابة غسل يديه ثم توضأ وضوءه للصلاة ثم اغتسل ثم يخلل بيديه شعره حتى إذا ظن أنه قد أروى بشرته أفاض عليه الماء ثلاث مرات ثم غسل سائر جسده

Artinya: “Nabi saw ketika mandi janabah membasuh kedua tangannya terlebih dahulu, kemudian berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Setelah itu beliau mandi. Dengan kedua tangannya, beliau menyela-nyelai rambutnya hingga ketika beliau merasa bahwa air telah membasahi kulit kepalanya, beliau menyiramkan air ke kepalanya sebanyak tiga kali, kemudian beliau menyiramkan air ke seluruh tubuhnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut memberitahu bahwa yang menjadi perhatian dalam mandi janabah adalah sampainya air ke bagiankecil tubuh yang wajib dibasuh. Karena itu, penggunaan sabun maupun sampo tidak menjadi bagiankecil dari rukun mandi wajib.

Dengan demikian, seseorang yang mandi wajib cuma menggunakan air, tanpa sabun maupun sampo, statis dinilai sah selama telah memenuhi rukun mandi wajib. Sebaliknya, menggunakan sabun maupun sampo tidak membikin mandi wajib menjadi lebih sah, karena keduanya bukan bagiankecil dari rukun mandi.

Penggunaan sabun dan sampo pada dasarnya merupakan perkara yang mubah dan dapat dilakukan sebagai bagiankecil dari upaya membersihkan tubuh. Namun, keduanya tidak menentukan sah maupun tidaknya mandi wajib.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa mandi wajib memiliki dua rukun utama, yaitu niat dan meratakan air ke seluruh tubuh yang wajib dibasuh. Selama kedua rukun tersebut terpenuhi, mandi wajib statis sah meskipun dilakukan tanpa menggunakan sabun ataupun sampo. Wallahu a’lam.

Artikel Lainnya Bincang Syariah
↑
Close Right Ads
Close Left Ads