Belajar Zuhud dari Teladan Rasulullah: Praktik Hidup Sederhana, Dermawan, dan Tak Terkikat

Intisari Islam Ditulis oleh Diperbarui Waktu baca 2 menit 120168x dilihat
Belajar Zuhud dari Teladan Rasulullah: Praktik Hidup Sederhana, Dermawan, dan Tak Terkikat

Nabi Muhammad SAW adalah teladan utama; salah satu sikap yang sangat beliau gemari adalah zuhud.

Definisi zuhud bukan berarti mengasingkan diri dari segala urusan duniawi atau meniadakan naluri manusia. Islam justru melarang praktik rahbaniyah yang menghalangi fitrah kemanusiaan—misalnya menghindari menikah atau menutup jalan untuk mencari rezeki melalui perniagaan.

Ahmad Muhammad al-Hufy dalam kitab Min Akhlaqin Nabiy menerangkan bahwa zuhud berarti tidak berambisi terhadap hal-hal yang dibolehkan meskipun pelakunya mampu memperolehnya; pengertian lain menekankan mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri.

Rasulullah SAW sudah condong pada kezuhudan bahkan sebelum menerima risalah kenabian. Sebagai pedagang yang sukses, berintegritas, dan berkecukupan, beliau lebih sering meringankan beban orang lain daripada menumpuk harta untuk diri sendiri.

Pada masa dakwah di Makkah, Nabi SAW ikut merasakan kerasnya kehidupan kaum Muslimin, misalnya saat banyak pengikutnya diboikot oleh masyarakat musyrik. Beliau tetap berada bersama mereka dan turut merasakan pahitnya boikot tersebut.

Di Madinah, setelah menjadi pemimpin masyarakat, Nabi SAW memiliki kewenangan menerima harta dalam jumlah besar. Dalam hal rampasan perang, Alquran mengatur bahwa Rasulullah SAW mendapat seperlima dari total ganimah, yang diperuntukkan bagi keluarganya, anak-anak yatim, kaum miskin, dan ibnu sabil (orang yang sedang dalam perjalanan).

Ada pula al-fai', yakni harta yang diperoleh tanpa melalui peperangan. Imam Syafi'i menjelaskan bahwa fai' dibagi menjadi lima bagian: bagian pertama untuk Rasulullah SAW untuk keperluannya, sedangkan empat bagian sisanya digunakan demi kemaslahatan umat Islam. Di samping itu, Nabi SAW juga menerima berbagai hadiah dari para penguasa, yang jumlahnya tidak sedikit.

Artikel Lainnya Intisari Islam

Bagikan Postingan