Biografi Ibnu Khuzaimah

Jun 23, 2026 11:00 AM - 1 bulan yang lalu 42776

Nama dan kelahiran

Beliau adalah Al-Hafizh, Al-Hujjah, Al-Faqih, Syekhul Islam, Imam para imam: Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah bin Al-Mughirah bin Shalih bin Bakr, Abu Bakar As-Sulami An-Naisaburi Asy-Syafi‘i.

Beliau dilahirkan pada tahun 223 H. Sejak masa mudanya, dia meletakkan perhatian besar terhadap pengetahuan sabda dan fikih, hingga menjadi sosok yang dijadikan perumpamaan dalam keluasan pengetahuan dan ketelitian (ketekunan) dalam penguasaannya.

Perjalanan ilmiah (rihlah) Ibnu Khuzaimah

Sesuai dengan tradisi para ustadz pada masanya, Ibnu Khuzaimah berambisi melakukan perjalanan untuk mendengar dan menuntut sabda Nabi ﷺ. Ia mau pergi belajar kepada Qutaibah, lampau meminta izin kepada ayahnya. Ayahnya berkata, “Hafalkan Al-Qur’an terlebih dulu hingga saya mengizinkanmu.” Ibnu Khuzaimah berkata, “Maka saya pun menghafal Al-Qur’an. Setelah itu, ayahku berkata, ‘Tinggallah sampai engkau mengkhatamkannya dalam salat.’ Aku pun melakukannya. Setelah hari raya, beliau mengizinkanku. Lalu saya berangkat ke Marw dan belajar di Marw Ar-Rudh dari Muhammad bin Hisyam, namun kemudian sampai kepada kami berita wafatnya Qutaibah.” Qutaibah wafat pada tahun 240 H.

Dengan demikian, Ibnu Khuzaimah memulai perjalanan ilmiahnya pada usia sekitar tujuh belas tahun. Perjalanannya sangat luas hingga mencakup beragam daerah bumi Islam bagian timur saat itu. Ia belajar di Naisabur dari Ibnu Rahawaih dan lainnya; di Marw dari Ali bin Muhammad dan lainnya; di Rayy dari Muhammad bin Mihran; di Syam dari Musa bin Sahl Ar-Ramli; di Jazirah dari Abdul Jabbar bin Al-‘Ala’; di Mesir dari Yunus bin Abdul A‘la; di Wasith dari Muhammad bin Harb; di Baghdad dari Muhammad bin Ishaq Ash-Shaghani; di Bashrah dari Nashr bin Ali Al-Azdi Al-Jahdhami; dan di Kufah dari Abu Kuraib Muhammad bin Al-Ala Al-Hamdani serta lainnya.

Ia juga meriwayatkan dari Imam Al-Bukhari, Imam Muslim bin Al-Hajjaj, Adz-Dzuhali, dan banyak ustadz lainnya. Bahkan sebagian guru-gurunya termasuk Al-Bukhari dan Muslim (di luar Kitab Shahih keduanya) meriwayatkan darinya.

Guru-gurunya

Ibnu Khuzaimah meriwayatkan sabda dari banyak pembimbing besar pada masanya. Ia pernah mendengar sabda dari Ishaq bin Rahawaih dan Muhammad bin Humaid, namun tidak meriwayatkan dari keduanya lantaran saat itu dia tetap mini dan belum mempunyai pemahaman yang matang. Di antara guru-gurunya yang lain adalah Mahmud bin Ghailan, ‘Utbah bin Abdullah Al-Marwazi, Ali bin Hujr, Ahmad bin Mani‘, Bisyr bin Mu‘adz, Abu Kuraib, Abdul Jabbar bin Al-‘Ala, Ahmad bin Ibrahim Ad-Dawraqi dan saudaranya Ya‘qub, Ishaq bin Syahin, ‘Amr bin Ali, Ziyad bin Ayyub, Muhammad bin Mihran Al-Jammal, Abu Sa‘id Al-Asyajj, Yusuf bin Wadhi‘ Al-Hasyimi, Muhammad bin Basyar, Muhammad bin Al-Mutsanna, Al-Husain bin Huraits, Muhammad bin Abdul A‘la Ash-Shan‘ani, Muhammad bin Yahya, Ahmad bin ‘Abdah Adh-Dhabbi, Nashr bin Ali, Muhammad bin Ali, Muhammad bin Abdullah Al-Makhrami, Yunus bin Abdul A‘la, Ahmad bin Abdurrahman Al-Wahbi, Yusuf bin Musa, Muhammad bin Rafi‘, Muhammad bin Yahya Al-Qath‘i, Salam bin Junadah, Yahya bin Hakim, Ismail bin Bisyr bin Manshur As-Sulaimi, Al-Hasan bin Muhammad Az-Za‘farani, Harun bin Ishaq Al-Hamdani, dan banyak lagi lainnya. Banyaknya pembimbing yang dia ambil riwayat darinya menunjukkan keluasan rihlah (perjalanan) ilmiah dan tingginya kedudukannya dalam bagian hadis.

Murid-muridnya

Di antara murid-murid Ibnu Khuzaimah adalah Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim (di luar kitab Shahih keduanya), serta Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam yang juga termasuk salah satu gurunya. Selain itu, meriwayatkan darinya Ahmad bin Al-Mubarak Al-Mustamli, Ibrahim bin Abi Thalib, Abu Hamid bin Asy-Syarqi, Abu Al-Abbas Ad-Daghuli, Abu Ali Al-Husain bin Muhammad An-Naisaburi, Abu Hatim Al-Busti, Abu Ahmad bin ‘Adi, Abu ‘Amr bin Hamdan, Ishaq bin Sa‘d An-Nasawi, Abu Hamid Ahmad bin Muhammad bin Baluwayh, Abu Bakar Ahmad bin Mihran Al-Muqri’, cucunya Muhammad bin Al-Fadhl bin Muhammad bin Khuzaimah, Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Nushair Al-Mu‘addil, Abu Bakar bin Ishaq Ash-Shabghi, Abu Sahl Ash-Sha‘luki, Al-Husain bin Ali At-Tamimi (Husainak), Bisyr bin Muhammad bin Muhammad bin Yasin, Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Ja‘far Asy-Syaibani, Abu Al-Husain Ahmad bin Muhammad Al-Buhairi, Al-Khalil bin Ahmad As-Sijzi Al-Qadhi, Abu Sa‘id Muhammad bin Bisyr Al-Karabisi, Abu Ahmad Muhammad bin Muhammad Al-Karabisi Al-Hakim, dan Abu Nashr Ahmad bin Al-Husain Al-Marwani. Banyaknya ustadz besar yang meriwayatkan darinya menunjukkan kedudukannya yang tinggi dalam pengetahuan sabda serta luasnya pengaruh keilmuannya.

Keberanian dan ketegasan Ibnu Khuzaimah

Ibnu Khuzaimah dikenal mempunyai keberanian dan ketegasan sikap. Ia tidak takut kepada para penguasa maupun pejabat. Abu Bakar bin Baluwayh meriwayatkan bahwa dia pernah mendengar Ibnu Khuzaimah berkata, “Aku pernah berada di hadapan Amir Ismail bin Ahmad. Ia meriwayatkan sebuah sabda dari ayahnya, namun dia keliru dalam sanadnya, lampau saya mengoreksinya.” Setelah keluar dari majelis itu, Abu Dzar Al-Qadhi berbicara kepadanya, “Kami sebenarnya sudah mengetahui sejak dua puluh tahun bahwa sabda itu keliru, tetapi tidak seorang pun di antara kami berani mengoreksinya.” Maka Ibnu Khuzaimah menjawab,

لا يحل لي أن أسمع حديث رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فيه خطأ أو تحريف فلا أرده

“Tidak legal bagiku mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terdapat kesalahan alias perubahan di dalamnya, lampau saya tidak meluruskannya.”

Kedermawanan dan kemurahan hati Ibnu Khuzaimah

Ibnu Khuzaimah rahimahullah dikenal sebagai sosok yang sangat murah hati dan murah hati. Ia doyan bersedekah apalagi hingga menyedekahkan pakaiannya, dan disebutkan bahwa dia nyaris tidak pernah memakai satu baju dua kali lantaran sering memberikannya kepada orang lain.

Muhammad bin Al-Fadhl berkata, “Kakekku Abu Bakar (Ibnu Khuzaimah) tidak pernah menyimpan kekayaan sedikit pun sesuai kemampuannya, apalagi dia menginfakkannya untuk para penuntut ilmu. Ia tidak mengenal timbangan (tidak terbiasa menghitung nilai duit dengan teliti) dan tidak membedakan antara sepuluh dan dua puluh. Terkadang kami mengambil darinya sepuluh, namun dia mengira itu lima.”

Al-Hakim berbicara bahwa Ibnu Khuzaimah pernah mengadakan jamuan besar di sebuah kebun, mengundang orang-orang miskin dan kaya. Ia menghadirkan beragam makanan, daging panggang, dan manisan dari seluruh penjuru kota. Hari itu menjadi peristiwa besar yang dihadiri oleh banyak orang, suatu jamuan yang biasanya tidak bisa diselenggarakan selain oleh seorang penguasa besar. Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Jumadil Ula tahun 309 H.

Karya-karyanya

Al-Hakim Abu Abdullah menyebut bahwa karya-karya Ibnu Khuzaimah berjumlah lebih dari 140 judul. Namun, sumber yang ada sekarang tidak memberikan penjelasan komplit tentang semua karya tersebut, apalagi banyak yang tidak lagi diketahui namanya. Yang tetap dikenal saat ini hanyalah kitab At-Tauhid yang sudah dicetak, serta bagian yang tersisa dari Shahih Ibnu Khuzaimah. Selain itu, ada juga kitab berjudul Sya’nud Du‘a wa Tafsir al-Ad‘iyah al-Ma’tsurah ‘an Rasulillah Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang tersimpan di perpustakaan Azh-Zhahiriyah.

Ibnu Khuzaimah sering menyebut nama karya-karyanya di dalam kitab At-Tauhid dan Shahih-nya. Dari sana dapat ditemukan beberapa titel seperti Kitab Al-Iman, Ash-Shalah, Az-Zakah, Ash-Shiyam, Al-Jihad, At-Tafsir, Al-Buyu‘, Al-Imamah, Al-Fitan, dan Al-Qadar. Namun muncul pertanyaan: apakah semua titel itu adalah kitab yang berdiri sendiri, alias sebenarnya hanya bagian dari satu kitab besar, seperti kebiasaan para ustadz sabda dahulu?

Kemungkinan besar, sebagian titel tersebut hanyalah bagian alias bab dari kitab besarnya. Hal ini lantaran dalam beberapa tempat Ibnu Khuzaimah merujuk pembahasan ke “Kitab Ash-Shalah” atau “Kitab Ash-Shadaqat”, padahal hadis-hadis itu sebenarnya terdapat dalam Shahih-nya. Jadi, besar kemungkinan tidak semua titel itu merupakan kitab terpisah, melainkan bagian dari karya besarnya.

Kitab Shahih Ibnu Khuzaimah

Dalam daftar karya Ibnu Khuzaimah, tidak disebutkan kitab yang berjulukan Shahih Ibnu Khuzaimah. Bahkan beliau sendiri tidak pernah menamainya dengan julukan “Ash-Shahih”, termasuk ketika menyebutnya dalam kitab At-Tauhid. Hal ini lantaran sebenarnya Ibnu Khuzaimah tidak memberi nama kitabnya dengan titel Shahih, sebagaimana Imam Ibnu Hibban dan Imam Al-Bukhari juga tidak menamai kitab mereka dengan nama yang sekarang terkenal.

Imam Al-Bukhari, misalnya, memberi titel kitabnya Al-Jami‘ Al-Musnad Ash-Shahih Al-Mukhtashar min Umur Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam wa Sunanihi wa Ayyamihi. Ibnu Hibban menamai kitabnya Al-Musnad Ash-Shahih ‘ala At-Taqasim wal-Anwa‘. Sedangkan Ibnu Khuzaimah menamai kitabnya Mukhtashar Al-Mukhtashar min Al-Musnad Ash-Shahih ‘an An-Nabi.

Seiring berjalannya waktu, kitab-kitab tersebut kemudian lebih dikenal dengan nama singkat “Shahih”. Namun, tidak ditemukan ustadz terdahulu yang secara unik menyebut karya Ibnu Khuzaimah dengan nama Shahih Ibnu Khuzaimah. Bahkan Al-Khalili (w. 446 H) dalam kitab Al-Irsyad hanya menyebut bahwa cucunya, Muhammad bin Al-Fadhl, meriwayatkan darinya kitab Mukhtashar Al-Mukhtashar dan karya-karya lainnya.

Pada masa-masa berikutnya, kitab karya Ibnu Khuzaimah mulai dikenal dengan nama Shahih Ibnu Khuzaimah. Al-Mundziri (w. 656 H) dalam kitab At-Targhib wat-Tarhib sudah menyebutnya dengan istilah tersebut, dengan mengatakan, “Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya.” Setelah itu, para ustadz seperti Ad-Dimyathi, At-Turkumani, dan Az-Zayla‘i juga menggunakan nama Shahih Ibnu Khuzaimah, dan penamaan ini kemudian diikuti oleh Ibnu Hajar, As-Suyuthi, dan ustadz lainnya.

Namun sebenarnya, nama yang diberikan langsung oleh Ibnu Khuzaimah untuk kitabnya adalah Mukhtashar al-Mukhtashar min al-Musnad ash-Shahih ‘an an-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, julukan Shahih Ibnu Khuzaimah adalah nama yang menjadi terkenal di kalangan ustadz setelah masa beliau, bukan nama original yang beliau tetapkan sendiri.

Pujian para ulama

Ibnu Hibban berkata,

ما رأيت على وجه الأرض من يحسن صناعة السنن ويحفظ ألفاظها، الصحاح وزياداتها حتى كأن السنن كلها بين عينيه، إلا محمد بن إسحاق فقط

“Aku tidak pernah memandang di muka bumi ini seseorang yang begitu mahir dalam pengetahuan sunah, begitu baik dalam menguasainya, dan hafal lafaz-lafaznya, baik hadis-hadis sahih maupun tambahan-tambahannya, seakan-akan seluruh sunah berada di depan matanya, selain Muhammad bin Ishaq (Ibnu Khuzaimah) saja.”

Ad-Daraquthni berkata,

كان ابن خزيمة ثبتًا معدوم النظير

“Ibnu Khuzaimah adalah seorang ustadz yang sangat kokoh (terpercaya dan kuat hafalannya), dan tidak ada tandingannya.”

Abu Ali Al-Husain bin Muhammad Al-Hafizh berkata,

لم أرَ مثل محمد بن إسحاق، قال: وكان ابن خزيمة يحفظ الفقهيات من حديثه كما يحفظ القارئ السورة

“Aku tidak pernah memandang orang seperti Muhammad bin Ishaq.” Ia juga mengatakan bahwa Ibnu Khuzaimah menghafal hadis-hadis yang berangkaian dengan fikih sebagaimana seorang pembaca Al-Qur’an menghafal satu surah.

Ibnu As-Suraij berkata,

ابن خزيمة يخرج النكت من حديث رسول الله -صلى الله عليه وسلم- بالمنقاش

“Ibnu Khuzaimah bisa mengeluarkan makna-makna lembut (pelajaran dan kegunaan yang mendalam) dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sangat teliti, seakan-akan menggunakan pinset.”

Wafat

Ibnu Khuzaimah wafat pada malam Sabtu, tanggal 2 Zulkaidah tahun 311 H. Yang menyalatkannya adalah putranya, Abu An-Nashr. Ia dimakamkan di sebuah ruangan di rumahnya, dan kemudian ruangan tersebut dijadikan tempat pemakaman. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat yang luas kepadanya.

Baca juga: Mengenal Beberapa Ulama Hadis Mutaqaddimin

***

Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan

Artikel Kincai Media

Catatan kaki:

Diterjemahkan dan disunting ulang oleh penulis dari website: https://www.alukah.net

Selengkapnya